Seri IV: DARI CENTRAL JAVA KE BANTEN

MASMEDIA BERITAKAN:  GEREJA BLENDUK MIRING.

Gereja Blenduk sangat terkenal di Jawa tengah, bahkan Indonesia

Wartawan, akedemisi & Masyarakat:  ramai-ramai datang untuk mencari tau berita miringnya gereja Blenduk

dan dunia,  khususnya  negeri Belanda, hal ini terbukti dengan wisatawan domestik dan  mancanegara sering mengunjungi gereja tua ini,     khususnya  kunjungan wisatawan dari negeri  Belanda, karena itu public sangat terkejut dengan  berita miringnya gereja blenduk  disurat khabar.

Berita ini menjadi  thema utama  Koran:  kompas dan suara pembaruan, bahwa:” gereja Blenduk miring”, membuat heboh masyarakat ,  petugas gereja  dan  pdt Theo, karena  itu  hampir tiap hari wartawan, akademisi, praktisi dan  warga masyarakat datang  untuk melihat  dan mencari  berita  tentang   miringnya  gereja tua ini.

Rupanya Pemda kota-madya Semarang merenovasi dengan cara membobol dan mau mengganti  dasar tembok  tanpa izin Majelis jemaat; pembobolan tembok baru berjalan 15 meter, dihentikan oleh Pdt Theo, karena  tidak rasional pekerjaan pemborong, dan kalau dibiarkan  gereja Blenduk akan roboh.

Hal ini dilaporkan kepada Majelis Jemaat GPIB Imanuel Semarang dalam rapat khusus dan selanjutnya   ke  Pemda kota madya untuk ditindak lanjuti pemberhentian pekerjaan pemborong yang tidak bertanggung jawab ini, serta tembusannya  ke DPR D jawa tengah.

Miringnya Gereja Blenduk ini juga dilaporkan kepada Majelis Sinode GPIB, untuk mendapat gambaran dan arahan , bagaimana  mengatasinya, karena berita ini bukan hanya  seIndonesia saja tetapi sudah mendunia.

MENGHADIRI RAPAT  DPRD JAWA TENGAH…KARENA  BERITA MIRINGNYA  BLENDUK

Pdt. Theo bersama anggota DPR Komisi Purbakala, membahas miringnya gereja Blenduk di gedung DPR>D Jatang..Semarang

Dalam  rapat bersama  anggota DPRD yang mewakili  bangunan purbakala, tentang gereja blenduk  yang mempunyai nilai sejarah tsb , pdt Theo melaporkan  secara rinci kronologis peristiwa  miringnya gedung gereja blenduk;   Bahwa tanpa sepengetahuan Majelis Jemaat,  mereka  tiba-tiba sudah mengadakan  renovasi tanpa penelitian  yang teliti  tentang arsitek gereja blenduk ini

Melihat gelagat tukang-tukang   yang tidak mau ditegur karena  mengganti fondasi gedung gereja  yang teknologi pembuatannya saja sudah beda, pekerjaan pembobolan   begitu singkat  membuat keresahan, maka pdt Theo menghentikan  dengan keras    dengan berkata : “harap berhenti kerja, nanti akan diberitahukan  selanjutnya.”

Pdt Theo menyampaikan dalam sidang DPRD bahwa  bisa saja  kehilafan manusia, tetapi  bisa juga unsur kesengajaan, sebagai bukti pemborong menyuruh tukang  kerja tanpa sepengetahuan majelis jemaat GPIB Imanuel semarang,  yang memiliki dan mengelola gereja Blenduk ini.

Semua sepakat bahwa ada keteledoran, karena itu harus dihentikan renovasi gereja Blenduk ini oleh pihak pemda,  untuk menyelamatkan bangunan  bersejarah  yang  dilindungi   u u purbakala  menjadi monumen negara ini.

Semua yang telah di bobol agar segera di cor ulang   serta dirapikan , sehingga tidak kelihatan  fondasi dibagian  utara  sisi  timur ini, setelah dirapikan kembali seperti semula , untuk menjaga kelestarian ,keamanan, kenyamanan  dan keindahan   dari pada gereja blenduk ini,   yang melayani para wisatawan domestik dan mancanegara

MENJADI MENTOR UNTUK VIKARIS TAHUN KE TIGA…ANDAR MAITIMU.

Butuh Hikmat khusus untuk membentuk vikaris tahun ke 3 ini, mempersiapkannya menjadi hamba Tuhan

Surat Majelis sinode untuk menerima  Vikharis tahun ketiga  dari  Makasar yaitu Andar Maitimu S.Th, setelah disetujui  dalam rapat PHMJ, dilaporkan  kepada  Jemaat melalui   pengetahuan seluruh majelis Jemaat, maka diterima dan ditempat  di bagian jemaat Effatha untuk mempersiapkan  bagian jemaat ini menuju pendewasaan.

Ditugaskan kepada Vikharis Andar Maitimu untuk menuntun dan mempersiapkan buku-buku sesuai tata gereja, serta mempersiapkan  program kerja tersendiri , sehingga melihat kemampuan  ekonomi, organisasi, kekuatan warga, jumlah warga jemaat , batas-batas wilayah dllnya.

Suatu ketika   vikharis  menghilang  selama tiga  minggu…. dan ketika ia pulang  dipanggil mentor dan  ditanya kemana selama tiga minggu ini ?  kaget,… karena  ia menjawab  di GKI Magelang… Tanya ,  siapa yang suruh  ?,   jawab : atas kemauan sendiri Tanya:  kerja apa selama diMagelang ? jawab :  adakan penelitian tentang cara pembinaan vikharis di GKI….. mentor  menjawab : karena  anda  tidak  menghargai integritas Pendeta Theo sebagai  mentormu dan mengadakan penelitian tanpa izin, maka sekarang  angkat barang-barangmu dan  kembali ke Majelis Sinode, mentor tidak membimbingmu lagi…….. sejenak   ia berdiam…..15 menit,  lalu ia menjawab : minta maaf   pak  atas kekeliruan dan kekurangan saya, mohon dapat  diterima kembali…….. mentor  menjawab……ok   … saya terima kamu kembali dengan perjanjian  agar berubah sifat maunya sendiri  dan egois anda….,sebab jika ini terjadi dalam jemaat yang anda pimpin, maka akan membawa bencana bagi anda….ia mengangguk dan mereka  berdua   bersekutu dalam doa bersama, agar kiranya pembaharuan dari Roh Allah  dapat memperbaiki hidupnya ini.

PEMBINAAN HUKUM UNTUK CATATAN SIPIL SELAMA TIGA MINGGU DI SALATIGA.

para kader pelaksana B.S. dibina di Salatiga oleh Bidang Hukum Pemda Tingkat I Jawa Tengah

Bagi para calon  pelaksana catatan sipil  Burgelijk Stand ( B>S) diundang oleh pemda Tkt I  jawa tengah , untuk mengikuti pembinaan hukum selama tiga minggu di Salatiga, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Pdt Theo salah satu penerima undangan tsb.

Mengenal  dan menerima  pelatihan tentang uu perkawinan , untuk dapat melaksanakan   pernikahan secara  hukum Negara bagi umatnya di gereja Blenduk, dikala itu ia sebagai ketua majelis jemaat GPIB Imanuel Semarang dan ketua BP mupel jateng-Jogyakarta serta ketua I PGI wilayah jateng

Cerita hukum  yang diperoleh dari pembinaan ini :  seseorang di kota semarang, karena susah dibantu teman baiknya, boleh tinggal gratis  di salah satu rumahnya yang  kosong,  selama tinggal  pertemanan berjalan baik, tapi pemilik rumah ini meninggal dunia, ketika anak-anaknya sudah besar, mereka nikah dan  butuh rumah tinggal, ingin ambil kembali rumah  itu, ternyata dia mengatakan bahwa rumah ini miliknya, surat sertifikat tanah sudah diubah menjadi miliknya . Dalam cerita ini mau  memberikan gambaran bahwa boleh menolong orang  apa lagi teman, tapi harus disertai dengan bukti yang kuat, supaya  orang yang ditolong itu tidak salah gunakan  kebaikan hati  orang yang menolong.

Pembinaan  hukum  catatan sipil ini bukan hanya menambah tenaga B.S. saja, tetapi Pemda melihat bahwa inilah tenaga-tenaga yang  berhasil guna dan berdaya guna, karena merekalah yang mengenal umatnya lebih dekat untuk memberikan pembinaan pernikahan secara hukum Negara, selain hukum agam yaitu gerejanya.

Digambarkan bahwa semua warga Negara  Indonesia termasuk warga Negara asing  yang tinggal diwilayah hukum Indonesia, harus melaksanakan  pernikahan secara hukum Negara, selain hukum agamanya.

Kepada para peserta yang telah tamat dalam pembinaan ini akan mendapat surat keputusan  dari Gubernur jawa tengah dan dilantik oleh bupati/walikota nya  masing-masing.

Diinstruksikan untuk meneliti syarat-syarat untuk membimbing  calon  mempelai pernikahan, agar memenuhi semua persyaratan  yang berlaku sesuai uu pernikawinan. Hal ini tentu tidak akan disia-siakan  oleh pendeta Theo, tetapi ia selalu tampil didepan untuk mencari jalannya, guna kepentingan umum yaitu masyarakat Kristen

Setelah selesai pembinaan, semua diutus kembali kekotanya untuk  menunggu SK pengangkatan Gubernur jawa tengah, agar dilantik oleh wali kota atau bupati di kota  asal, untuk membantu pemerintah, karena dipandang lebih mengenal umat digerejanya

DILANTIK MENJADI PELAKSANA:  BURGELIJK  STAND (B.S. ) /CATATAN SIPIL OLEH WALI KOTA SEMARANG

Siap melayani masyarakat, setelah dilantik menjadi pejabat B S

Puji Tuhan, tidak sia-sia perjuangan dan jerih lelah pendeta Theo mengikuti pembinaan/pelatihan hukum untuk menjadi pelaksana catatan sipil, setelah diusulkan oleh Majelis jemaat GPIB Imanuel ( Blenduk ) semarang ke Kantor Gubernur jawa tengah, tidak lama kemudian keluar SK gubernur jawa tengah yang intinya mengangkat Pendeta Theofilus Natumnea untuk menjadi Pegawai Luar biasa pelaksana catatan sipil / Burgelijk  Stand  ( B.S. ) di kota madya Semarang  tanpa batas waktu (seumur hidup) dengan petunjuk agar dilantik oleh walikota Semarang.

Pendeta Theo melaporkan diri  ke Walikota dan  respons dari walikota semarang secara langsung menyediakan waktu untuk melaksanakan pelantikannya  sebagai pelaksana catatan sipil./Burgelijk Stand  ( B.S. )

Dalam pelantikan yang berlangsung dikantor kota madya semarang ini dihadiri oleh  staf  walikota dan anggota pelaksana harian majelis jemaat GPIB Imanuel (blenduk) semarang, yang sudah akrab dengan pak walikota karena urusan – urusan  gereja Blenduk ini

Sejak dilantiknya  menjadi pelaksana catatan sipil untuk warga jemaat GPIB Imanuel  semarang dan warga gereja lainnya yang datang minta bantuan untuk dilayani urusan nikahnya secara ganda , baik hukum gereja maupun hukum negara, setelah memenuhi sejumlah persyaratan tertentu.

TANTANGAN    DARI    LUAR,      SUARA     MENGATAKAN:  S I A P A   L U ? “

Ada yang kaget melihat dan menyaksikan pdt Theo yang murah hati ini  sanggup  menolong dan menyelamatkan banyak orang dalam urusan pernikahannya yang  terbengkalai,  sehingga mereka dari status kumpul kebo  menjadi resmi nikah  secara hukum gereja dan hukum Negara atau bagi  mereka yang sudah lama hanya nikah gereja saja di laksanakan  Nikah catatan sipil menurut hukum Negara republik Indonesia.

Menolong orang harus rendah hati dan sabar

Bagaimana expresi  mereka yang kaget ini ?  Suatu ketika  keluarga dari sepasang pengantin  yang sementara ditolong melayani  pernikahan  saudaranya ini,  pelaksanaan pemberkatan nikah selesai dan menunggu untuk  catatan sipil diruang konsistori  yang mana pelaksana  Burgelijk Stand  B>S> nya adalah Pdt Theo juga,  seorang ibu  adalah keluarganya,   menyelonong dan masuk ditengah tengah rombongan mempelai dan  mendekat serta berkata kepadanya : “ S I A P A   L U  ? ”, bukan hanya kaget, tetapi juga marah karena sementara  bertugas  a/n gereja dan Negara menolong dan menyelamatkan  saudaranya ini, tapi kemudian  pdt Theo diam sejenak minta bimbingan Roh kudus, supaya suasana pernikahan ini tidak kacau, bubar dan batal tetapi  supaya berjalan baik dan aman.

Seandai pdt Theo mengikuti emosi, maka ia dalam keadaan dinas baik atas nama jemaat –gereja , maupun atas nama Negara untuk menolong dan menikahkan  saudara dan keluarganya ini, bisa buyar acara pernikahan, tapi  ia  tenang dan menguasai diri  serta  berdoa dalam hati: “Tuhan  ampunilah  ibu ini, karena dia tidak tahu apa yang diperbuatnya , dalam nama Yesus hamba berdoa amin”

MENOLAK PERMINTAAN  SEORANG ANGGOTA  GBKP YANG HANYA BAWA SURAT NIKAH ADAT.

Ia datang kerumah meminta dengan sangat untuk dilayani nikah  B.S.nya, karena kelengkapan yang dituntut dari kantor kejaksaan  Negeri  Semarang, rupanya dia seorang  jaksa terkenal , tapi masih ada kekurangannya ialah belum nikah secara hukum negara sebagai persyaratan  untuk mengurusi masa pension, supaya masuk daftar  anggota keluarganya yaitu isteri dan anakanak.

dalam kasih ada ktegasan, dalam ketegasan ada kasih

Pdt Theo sebagai pelaksana catatan sipil, minta supaya ia menyempurnakan syarat-syaratnya yl, yang masih kurang untuk melengkapi persyaratannya, tapi ia bersikukuh  dengan alasan  bahwa nikah adat ini sudah sah, karena itu tidak perlu urus surat yl.

Pelaksana Burgelijk Stand   B>S yang suka menolong  orang dan murah hati  ini ( jika ada pasangan  yang  kurang bayaran  ditambahkan dari koceknya ,   untuk disetor ke kas negara)  tetap juga meminta syarat-syarat yang sama , dilengkapi baru dapat dilaksanakan, sebagai pertanggung jawaban  hukum kepada  Negara dan pemerintah melalui kantor Catatan sipil Semarang.

Klayen ini rupanya  seorang jaksa yang  biasa melayani  dan menuntut orang  secara hukum, tetapi dia  tidak sadar akan  kekurangannya, bahkan  setengah memaksa dengan meletakan dompet hitamnya yang penuh uang diatas meja  tamu, bahkan dengan setengah membanting dompetnya, maka  dengan  rendah hati pendeta Theo   mengatakan “ silahkan angkat dompetmu, dan jika syarat pernikahannya lengkap  baru kembali bertemu   untuk diproses.

Pendeta Theo mengajak berdoa :  ya Tuhan ampunilah bapak kekasih kami ini, jika ia tidak sadar akan kekurangannya, sadarkanlah dia, supaya ia dapat memenuhi syarat yang  dibutuhkan secara  hukum gereja dan hukum Negara dalam urusan pernikahannya ini. Kami percaya Tuhan menolong dan  menyadarkannya sebagai pelaksana hukum juga. Dalam nama Tuhan Yesus  kami berdoa Amin

DOA KHUSUS DENGAN BAPAK MARTEN SAPULETE.

Karakternya keras, omongnya tajam, suka naik pitam kalau emosinya lagi melonjak naik, sehingga sering tak dapat menguasai dari dalam rapat, dan selalu dilampiaskan dengan pukul meja sambil marah setengah berteriak, kadang kala kedengaran keluar ruangan rapat majelis jemaat.

Instrospeksi,  mohon Tuhan Yesus tolong supaya ada perubahan , pembaharuan dan kemenangan amin

Hal ini sudah berulang kali, bahkan terlalu sering didengar oleh pdt. Theo, hanya mencari waktu yang tepat untuk dapat menyampaikan peneguran untuk menolongnya,  sehingga ibarat : “benang  kusut dalam tepung, benang  ditarik kembali  dan diperbaiki kusutnya, tetapi tepung tidak terkoyak-koyak”, demikianlah dengan doa menunggu waktu yang tepat untuk menolong beliau, sehingga benang  kelemahannya diluruskan dan diperbaiki, tetapi tepung  persekutuan majelis jemaat dan jemaat tidak terkoyak-koyak, karena ribut para pemimpinnya.

Tibalah waktunya  pemilihan penatua dan diaken adalah waktu yang tepat untuk hal itu. Surat sanggahan dari warga jemaat sudah masuk,… beberapa surat tentang kelakuan beliau yang sering meresahkan warga jemaat ini, dikumpulkan cukup banyak surat sanggahan tentang  calon yang satu ini.

Pdt Theo memanggilnya dan mengklarifikasi kebenaran surat-surat ini, bahkan sang pendeta menyampaikan bahwa bukan hanya surat- surat  sanggahan ini saja,  tetapi pdt Theo sendiri melihat dan mendengar beberapa kali  insiden seperti yang dimaksud dalam surat ini, yaitu ketika pitam karena marah selalu pukul meja dan setengah berteriak dalam  rapat-rapat yang dilakukan didalam gedung gereja blenduk ini

Ia secara terus terang mengakui kelemahan itu dan sadar bahwa iapun kadang kala tidak dapat menguasai diri ketika lagi marah dan naik pitam, itulah salah satu kelemahan pribadinya yang sudah lama digumulinya dalam dirinya  melalui doa tapi tidak pernah hilang, tapi selalu muncul ketika marah dalam rapat..

DOA PERTOBATAN BAPAK MARTEN SAPULETE.

Ia mengakui kelemahannya ini  dan  mau  dibaharui oleh  kuasa dan darah Yesus  serta bimbingan Roh kudus  serta bertobat, dan berjanji untuk tidak   mengulanginya lagi,…. untuk itu ia minta pembaharuan dari  TuhanYesus terus mmenerus  agar ia   mendapatkan kemenangan dalam dirinya ini.

Orang yang datang kepad-Ku. akan Ku Jamah dan Ku berkati, serta Ku rubah untuk di pakai Tuhan

D O A : YA TUHAN ,HAMBA MENGAKU BAHWA SERING KALI HAMBA MARAH-MARAH DAN PUKUL MEJA  KETIKA NAIK PITAM, KARENA HAMBA TIDAK DAPAT MENGUASAI DIRI HAMBA INI… TUHAN…. HAMBAMU INI MOHON AMPUN DAN MAU BERTOBAT… DARI PERBUATAN INI ….YANG SERING KALI MEMALUKAN TEAM MAJELIS JEMAAT. HAMBA MOHON DIBHARUI…. DAN BERJANJI UNTUK TIDAK MENGULANGI LAGI PERBUATAN HAMBA MU INI DALAM RAPAT-RAPAT MAJELIS JEMAAT. BAHARUILAH HAMBA OLEH PIMPINAN ROH KUDUSMU, TUNTUNLAH HAMBA DALAM KETENANGANMU, UNTUK SELANJUTNYA HAMBA BELAJAR MENGUASAI DIRI DALAM KUASA  TUHAN. DALAM NAMA YESUS HAMBA BERDOA. AMIN

Doa ini kemudian ditutup oleh Pdt Theo dalam doa bimbingan dan penguatan, agar ia menyerahkan seluruh  kelemahannya ini dalam Tuhan Yesus yang sudah mati untuk dosa kita umat manusia Galatia 2:19-20

LANGKAH YANG DITEMPUH PENDETA THEO UNTUK BAPAK MARTEN SAPULETE.

Setelah pengakuan yang tulus dari bapak Marten Sapulete, maka  Pdt Theo menawarkan kepadanya :1.  apakah anda  berdiam diri satu periode ?, atau   2.  Apakah mau berubah dan bertobat :   berhenti berteriak , pukul meja , ketika marah dan naik pitam ? Pdt Theo beri waktu kepadanya dua minggu untuk berdoa bersama keluarga dan memberi  jawaban  yang mana  harus dipilih dari kedua alternatif ini.

mau berubah 180 derajat, siap di pakai Tuhan, sambil pembentukan-Nya

Ketika selesai waktu bergumul, ia datang dengan jawaban pasti bahwa setelah bergumul bersama keluarga ia memilih berubah total , tidak mau berteriak & pukul meja lagi kalau lagi marah dan naik pitam, berusaha untuk menguasai diri sesuai dengan buah-buah Roh Kudus Gal 5:22-23, lalu mereka berdua  berdoa lagi  memastikan bahwa  pilihan  yang kedua inilah yang diambil dan membuat perjanjian  dalam doa kepada Tuhan.

Hal ini merupakan pekerjaan rumah bagi pdt Theo sebagai pengawas dalam rapat-rapat, supaya tidak mengulangi lagi perbuatan yang meresahkan  anggota majelis jemaat yl. Kadang-kadang  terjadi dalam rapat: ketika ia marah keras dan naik  pitam,  Bapak ini memandang Pdt Theo yang sudah memandang dia dengan kasih, lalu reda dengan sendirinya. Hal seperti ini berkali-kali, merupakan latihan bagi dirinya, sehingga ia semakin  mantap  dalam hal penguasaan dirinya.

Penanganan  khusus kepada bapak ini, membuat  kesan bahwa  selama kepemimpinan Pdt Theo sebagai ketua majelis jemaat GPIB Imanuel Semarang, suara-suara  keras yang muncul sebelumnya mulai mereda dan  berkurang, karena mereka  menahan  diri dan menjaga dirinya untuk kepentingan umum bagi jemaat ini.

WISATA KE CANDI BOROBUDUR  BERSAMA KELUARGA

mereka mengelilingi dan mendaki Borobudur dalam nama Tuhan Yesus amin

Hidup ini  terasa bosan,  jika  tidak ada variasi, untuk itu  perlu keluar dari rutinitas pelayanan, maka ia bersama keluarga mengadakan wisata ke candi Borobudur untuk menikmati alam dan memberI pelajaran bagi anak-anak, untuk menambah pengalaman  hidup mereka ditempat yang bersejarah ini…pikirnya…selagi di jawa tengah

Walaupun mobilnya tua,

Kenangkan ingat.. Lupakan jangan.. Nani berpose mewakili kel. Pdt Theo, di Borobudur

tapi bisa dikendalikan untuk berjalan jauh, sambil belajar  merawat mobil itu sepenjang perjalanan mereka.

Tidak lengkap kalau hanyamelihat saja  tetapi belajar ulang, betapa hebatnya  generasi mereka  untuk meriset,  mengarsitek dan merancang serta tentu membuatnya  dalam jangka waktu yang lama; hal ini untuk  menggenapi pelajaran  sekolah rakyat dulu, nah sekarang  sudah melihatnya langsung bersama keluarga.

Alangkah indahnya kedua candi yang menjadi peninggalan  bersejarah dan tempat wisata dunia ini, tanpa dicatat, sudah dihafal  nilai-nilai kepurbakalaannya , monumen yang   besar, luas  dan  menjulang tinggi kelangit, apa lagi Jeni dan Ory yang sempat belajar  bahasa jawa kuno /wono coroko, sehingga mereka mengerti tulisan-tulisan kuno  didinding  atau dibatu, bahkan dapat menerjemahkannya.

BERSAMA KELUARGA  MENERUSKAN WISATA KE CANDI PRAMBANAN

Jauh berjalan, banyak dilihat, kata :anak –  anak  yaitu  Jeni, Orry dan Nani, suatu perjalanan wisata yang sangat  menggembirakan mereka,  karena memberi pelajaran secara langsung dan  praktis tentang  ” apa yang mereka peroleh dalam pelajaran di kelas dan sekolahnya.

mengaggumi keindahan candi prambanan, tetapi lebih indah batu permata candi Tuhandi Sorga

Tidak menyia-nyiakan  waktu, sekali dayung, dua tiga pulau terlampawi, demikianlah pepatah yang menggambarkan bahwa    :     “kalo  su sampe di candi Borobudur….terus   sa… ke  candi  satu itu prambanan, karena ” c  a  n  d  i    prambanan   yang exotis  dan elok itu ”  …su dekat…. sonde   jauh….jauh lai.

Sejauh mata memandang, tak puas-puasnya  keindahan yang diperolehnya, bukan hanya  candinya  yang menjulang  tinggi dan indah itu  saja ,  tetapi juga  keindahan   ekosistim  sekitarnya yang sangat mendukung  candi prambanan ini

Keindahan Candi Prambanan di Malam hari dinikmati oleh keluarga Pdt Theo

Puas….puas….. dan   …puas…. kata Jeni, …Orry   dan   Nani…. mendampingi kedua  orang tuanya, yang sambil  loncat sana …loncat sini ….menunjukkkan tanda kegembiraan mereka, bahwa lahir di Banda Aceh dan  Bnajarmasin, tapi akhirnya liat juga  kedua candi dalam pelajaran ini. artinya  Jeni dan Orry llahirnya di banda aceh serta nani  yang lahirnya di Banjarmasin, sama -sama melihat wisata  kedua candi yang  bersejarah ini.

WISATA BERSAMA  KELUARGA KE BANDUNGAN-AMBARAWA.

Bandungan-Ambarawa adalah suatu tempat diatas gunung dan berudara sejuk… dingin, sama seperti puncak kalau kita tinggal di Jakarta,  maka Bandungan adalah puncaknya Semarang, disana kita bisa mendengar   berkokonya ayam hutan dlsbnya.

Bapak Selly bersama  keluarganya  yang mengajak Pdt Theo dan keluarga, sehingga bersama-sama kami menikmati  tempat wisata yang dingin dan sejuk itu…selama beberapa hari pada musim liburan sekolah.

Melepas lelah dari kepenatan kesibukan pelayanan di Bandungan Ambarawa, tempat yang sejuk,…dingin.. dan indah ini

Tanpa diminta… pak Selly sudah menelepon, bahwa semua fasilitas sudah disediakan untuk Pdt Theo dan keluarga berlibur  wisata sendiri ke Bandungan – Ambarawa, adalah suatu panggilan  nuraninya, karena melihat kesibukan pelayanan Pdt Theo begitu padat dan penat  di kota Semarang ,  sangat perlu penyegaran untuk keluar dari kepenatan padatnya pelayanan itu, maka ia terpanggil untuk  melayaninya melalui memberi fasilitas  liburan wisata ini.

MELAYANI BAPAK LAROSA SH, KAKANWIL KEHAKIMAN -JAWA TENGAH.

Salah satu tokoh GPIB Imanue l( Blenduk ) Semarang ialah  bapak Larosa SH, kakanwil  Depertemen kehakiman zaman itu, sebelumnya beliau adalah kakanwil  departemen kehakiman Sumatera Utara (Sumut), lalu  pindah  ke jawa tengah dalam jabatan yang sama.

Orang yang datang pada-Ku. AKU  baharui, Ku siapkan  hidup kekal yang tidak dirampas  dunia ini

Dalam keberadaannya sebagai pejabat yang punya  kuasa  untuk menolong pelayanan  di Penjara tetapi juga punya pergumulan dan tantangan yang hebat,  ia bergumul secara pribadi selaku  seorang Kristen,   dimana pergumulan itu  sangat berat sehingga ia harus masuk keluar rumah sakit, baik ketika di Medan maupun di Semarang.

Ia memanggil Pdt Theo masuk ruangan dan hanya empat mata : mereka bicara dalam pelayanan ini, baik soal  dinas maupun  soal pribadi dan akhirnya diadakan doa pertobatan serta mengundang Yesus untuk membaharui hati dan hidupnya ,   untuk mampu menghadapi semua tantangan   bersama dengan  Yesus kristus, karena Yesus berjanji untuk menyertai setiap anak-anaknya yang datang dan mohon pembaharuan  dalam namaNya

Dan akhirnya  beliau minta doa penyerahan kepada Tuhan Yesus Kristus yang empunya hidup dan  keselamatan itu,  doa ini diikuti dengan baik dan penuh penyerahan; Setelah Pdt Theo selesai berdoa dan keluar ruangan kira-kira 15 menit, keluarganya yang gantian masuk ke rungannya  memanggil untuk masuk kembali bersama anggota majelis jemaat  yang ada, ternyata waktunya untuk Tuhan memuliakan  dan  memanggilnya kambali kesisiNya yang kudus.

Puji Tuhan,  semuanya indah pada waktuNya, ia pergi untuk selama-lamanya dengan suatu kepastian, bahwa Yesuslah Tuhan dan Juru selamatnya, amin.

MENGIKUTI PEMBINAAN DASAR KEPEMIMPINAN PENDETA GPIB.

Menjawab undangan  Majelis Sinode GPIB, maka Pdt Theo   dari utusan jemaat GPIB Imanuel Semarang bersama  dengan Pdt Paul Linggar utusan dari  jemaat GPIB Torsina – Cipinang Jakarta, mulai mengikuti pembinaan  dan pelatihan dasar kepemimpinan pendeta GPIB di Jogyakarta.

Selama dalam pembinaan dan pelatihan  tsb. Pdt. Theo aktif  untuk memberikan tanggapan secara kritis  terhadap yang diperolehnya   dengan  menyaringnya berdasarkan pengalaman kerja dan memimpin selama dalam kepemimpinannya di jemaat-jemaat GPIB.

Salah seorang penceramah adalah Laksamana Sudomo, Pangkopkamtib. membandingkan sistim  pengkaderan AB R I  dan sistim pengkaderan Pendeta GPIB yg perlu ditata ulang

Salah satu penceramah adalah  Laksamana  Sudomo,  sebagai  Pangkopkamtip yang memberikan gambaran  tentang  kaderisasi di TNI  yang begitu ketat dan  selektif, bagi semua prajurit  TNI

Ia mengakui bahwa sistim berbeda,  karena  sistim yang dipakai dalam kepemimpinan TNI adalah sistim komando, sedangkan GPIB bukan sistim komando, melainkan sistim presbiterial sinodal; Dari latar belakang sistim presbiterial inilah berangkat dan beranjaknya kepemimpianan GPIB untuk membangun kepemimpinan para pendetanya yang memimpin jemaat masing didaerahnya

PENDETA THEO MENANGGAPI CERAMAH JENDERAL SUDOMO

Salah satu peserta yang secara kritis  menanggapi ceramah laksamana Sudomo ialah Pdt Theo Natumnea, ia menyampaikan pendepatnya tentang  kekayaan Indonesia yang berlimpah ruah, khususnya dibidang minyak, apalagi kalau harga minya dunia naik, pengelolanya yang berpesta, rakyat tetap  menderita dan miskin.

Ia ibaratkan seperti serombngan tentara yang sementara latihan melawati sungai disebuah  kampung, disungai itu  sementara  mandi seorang gadis yang buah dadanya  antara permukaan air, sebentar tenggelam… sebentar kelihatan, ….. sebentar hilang,….sebentar nampak….. (yang di soraki  dengan tepuk tangan oleh para peserta sampai semuanya berdiri )…yang menjadi sorotan para anggota

Jangan menonton saja kenaikan harga minyak, sementara rakyat menderita

tentara, ada yang sibuk foto, ada yang hanya nonton, ada yang melihat pakai alat jarak jauh dlsbnya( tambah bersorak para peserta pembinaan)….. sampai truk-truk komando melewati sungai yang  sementara gadis desa yang  lugu ini mandi.

Demikianlah  rakyat ini nasibnya sama, hanya nonton, melihat, atau melotot sekalipun  kanaikan harga minyak bumi ini naik turun, tapi rakyat tidak pernah mendapat kenikmatan harga yang sering kali berlipat ganda ini, yang hanya dinikmati oleh pengelola dan penguasa republik ini.

Komentar pak Sudomo : “Ada pula pendeta  yang bisa menilai dunia ekonomi, yang mampu menjabarkannya dengan cerita menarik yaitu ceritera eksotis” gadis desa yang mandi disungai  sementara lewat  prajurit  yang sementara latihan….yang bisa membuat mata  para tentara terbelalak, tapi senyum indah.”

Kita sama-sama nonton saja  naik turunya harga minyak bumi dunia ini  pak pendeta  !  bahkan kita sering ketimpa kenaikan harganya, yang membuat penderitaan rakyat  tidak habis-habisnya pak pendeta…terima kasih pak pendeta ujar sudomo  jenderal berbintang empat ini.

MENEMBAK MATI BURUNG HANTU DALAM GEREJA BLENDUK.

terjatuh ditembak dengan senapan cis, oleh pdt Theo, sekali membidik, terkulai ke lantai gereja tua…Blenduk

Ternyata dalam gereja blenduk menginap seekor burung hantu berwarna putih, untuk mencari kelelawar kecil yang  juga    tinggal & bersarang  cukup banyak  diatas bubungan gereja tua itu, kemungkinan  kesiangan atau memang  mau menetap di gereja, karena  lebih rasa aman dan gampang,   mencari makan kelelawar kecil pengganti tikus.

Burung hantu itu bukan penjaga gereja dan bukan burung hantu jadi-jadian, tetapi seekor burung  hantu yang  senang tinggal  dalam gereja karena dingin dan gampang mendapat makanan, karena banyaknya kelelawar kecil yang  tinggal dibubungan gereja dan sering terbang kesana kemari melewatinya untuk ditangkap.

Ketika koster melaporkan bahwa ada seekor  burung hantu dalam gereja, ia menyuruh koster itu pergi berlari-lari mengambil senapan angin di pastori, yang dibelinya ketika masih berada di Banjarmasin, dan sudah berlatih cara menembak yang tepat.

Setiba koster itu diberikan senapan angin itu, dipompanya sampai kencang dan diarahkan moncongnya keatas…  kearah burung hantu itu sambil membidik: cis…….terjatuhlah burung  hantu itu  kebawah dan terkulai dilantai gereja tua ini

Setelah diperiksa, ternyata peluru senapan angin itu  mengenai mata sebelah dan tembus  lewat atas kepala, sesuai dengan bidikan  pdt Theo, ketika menembak burung hantu itu. Ternyata  tidak percuma latihan menembak waktu masih ia berada dihutan Kalimantan  selatan, dengan sekali bidik, maka terjatuhlah burung hantu ini

Koster mengambilnya dan berkata : akan  menghadiahkan kepada  temannya yang akan membuatnya menjadi   hiasan dengan air keras untuk dipajang, karena  bulu burung hantu yang putih ini sangat indah untuk dipajang, jika dikemas dengan baik.

PENDEWASAAN ” JEMAAT  EFFATHA ”   S E M A R A N G

Efatha: “terbukalah”, lebarkan sayapmu,…. untuk melayani sesamamu, dalam nama Yesus, ia berjanji : Aku menyertai kamu

Jemaat GPIB Imanuel (  Blenduk )  Semarang semakin bertumbuh dan berkembang,   jumlah kepala keluarganya sampai ribuan  anggota majelis  jemaatnya  hampir duaratusan  dan wilayahnya amat luas dengan  gedung ibadah dalam kota semarang  ada 4 gedung:  yaitu Blenduk, Peterongan, Effatha dan Banyumanik ,  volume kebaktian tiap minggu sebanyak  6 kali kebaktian  dan luar kota adalah bagian jemaat Kendal serta pelkes  kenongo dan pelkes Dempelrejo.

Data demikian  pasti  mereka analisa  bahwa jemaat tidak puas, dengan pelayanan majelis serta pendeta untuk menjangkau dan melayani warganya yang banyak dan luas itu, apa lagi pendetanya (Pdt. Theo) yang seorang diri melayani jemaat  sekaliber  semarang ini, ia menyatakan ” sangat tidak puas”, jika mempertahankan jemaat ini hanya satu jemaat saja.

Dirancang dalam Program kerja untuk pendewasan  jemaat yang dipandangnya sudah memenuhi syarat,    sehingga          semakin bertambah  tenaga pendeta  bisa menjawab tantangan pelayanan ini dan dapat bersaing positip dengan  GKI, GKJ GIA,HKBP dan gereja lainnya di semarang.

Proses pendewasaan jemaat  Effatha ini, cukup menyita tenaga, karena status sebelumnya adalah bagian jemaat dari Imanuel (Blenduk) yang memberikan keluasan untuk mengelola sendiri pelayanan dan keuangan, sedangkan administtrasi dan sebagian pelayanan masih diatur dari jemaat induk.

Dari sisi inilah maka bagian jemaat ini ingin mau cepat-cepat dewasa, pada hal persiapan dibidang yang lain membutuhkan waktu untuk melatih, membina dan  membimbing   kearah persiapan pendewasaannya.

Kehadiran  Vikharis Andar Maitimu sangat berperan  dan  menolong mempersiapkan buku-buku menurut tata gereja serta mengisi buku-buku itu sebagai bagian dari pada persiapan pendewasaan itu.. al. buku : daftar anggota, kelahiran, pendaftaran, kematian, mutasi,  baptis, sidi, nikah , majelis dan BPK serta komisi dlsbnya.

Setelah membuat program  dan anggaran tersendiri yang turut memperhitungkan  anggaran seorang pendeta, maka ditimbang dari segi pengeluaran dan pemasukan, sehingga dari segi ekonomi dipandang  siap dan matang  untuk didewasakan.

Selain itu bagian jemaat ini punya wilayah perbatasan yang jelas, majelis jemaat yang terbagi dalam sektor-sektor, merupakan penataan yang matang untuk menerima pendewasaan.

Pendeta  Simau  sebagai ketua umum Majelis  GPIB telah membawa sk majelis sinode GPIB tentang pendewasaan dan beliau yang langsung mendewasakannya menjadi jemaat GPIB Effatha Semarang…Effatha  …terbukalah .

AKHIRNYA,MEREKA  MAU MENERIMA RUMAH SESUAI UNDIAN.

Peristiwa menghilang  semua orang yang pada waktu doa syafaat itu , ialah orang- orang  yang menempati “rumah tua  peterongan”, mereka sadar satu persatu  bahwa tempat mereka tinggal itu bukan  hak milik mereka tetapi adalah milik  gereja,  sehingga  mereka mau menerima rumah undian di perumnas Banyumanik.

Terimalah nomor undian ini untuk rumahmu, sesuai pimpinan Tuhan

Rumah yang diundi untuk mereka ini bukan juga uang  atau rumah ganti rugi, tetapi sekedar uang/rumah pengusiran dan pengosongan, karena tempat yang mereka tinggal itu harus segera dikosongkan untuk membangun gedung gereja, pastory dan kantor gereja serta sisanya  sebagai pendayagunaan tanah tsb antara investor  dengan Majelis    Sinode GPIB.

Tanda tangan  mereka bubuhkan  dalam tanda terima rumah, sehingga bersiap-siap untuk masuk rumah, yang  tentunya masing-masing harus memperbaiki seperlunya, Karena  rumah yang dibeli oleh majelis Sinode GPIB melalui team penyelesaian ini adalah rumah yang sudah lama kosong.

Puji Tuhan, urusan    pengosongan  rumah tua peterongan dalam rangka program sinodal yaitu  pendaya gunaan harta milik GPIB ini dapat diselesaikan, sehingga rumah orang tua/jompo peterongan sudah mulai kosong untuk  dibangun gereja dan tanah sebagian oleh Majelis sinode GPIB berikan kepada investor, sebagai pendayagunaan harta milik GPIB  sesuai harga yang telah di tetapkan kedua belah pihak.

TANAH & GEDUNG GEREJA  GPIB DIPAKAI  AGRARIA & GERGAJI KAYU DIKUDUS

Harta milik GPIB dijawa tengah ada dimana –mana, kalau mau ditelusuri al  ada di Kudus, rombongan majelis jemaat Imanuel (Blenduk) sudah melihatnya ketika berkunjung ke Dr Philemon….pindahan dari Palangkaraya, mereka  melihat dari dekat dan menyaksikan  tanah sebagian besar dibangun kantor Agraria (BPN) , sedangkan sisanya  berupa gedung lama gereja  Indische kerk, dipakai tukang gergaji kayu karena tidak diurus .

Kasihan  tanah & gereja tua ini terbengkalai :Tanah gereja ini segera ditangani oleh MS GPIB, kalau tidak akan hilang seterusnya, tanpa bekas…jangan dan jangan terlambat

Hal ini Pdt Theo sebagai ketua majelis jemaat  GPIB  Imanuel semarang (BLENDUK) telah melaporkannya ke Majelis sinode, serta ia pendekatan dengan  Mayor  jenderal purnawirawan TNI Pen Kris  Masengi yang adalah anggota majelis Sinode bagian harta milik dan dalam perkembangannya ia mengatakan: “sudah melihat dan akan dibawa dalam rapat  majelis sinode” dan di perhatikan secara serius harta milik GPIB  di Kudus ini.

Bagaimana nasibnya tanah itu, kita pasti mendapat keterangan   dari anggota Majelis sinode bidang harta milik, supaya  dapat diselesaikan dengan baik.

Usul Pdt Theo: tempatkanlah seorang tenaga, apakah seorang motivator ? atau Vikharis yang  punya keberanian? Atau siapapun  orangnya dengan  predikat  &  jelukan  apapun namanya ? dibawah pengawasan Majelis jemaat GPIB Imanuel semarang dan Majelis Sinode GPIB untuk mulai mengembangkannya  berkoordinasi dengan  warga GPIB disana yang sementara kebaktian digereja lain untuk mulai  berdoa dan minta Tuhan hidupkan kembali jemaat dikota Kudus dengan modal  keluarga Dr Philemon yang  berasal  dari GPIB  Ebenhaezer Palang Raya, , seperti pengalaman Pdt Theo bekerja sama  Dr Philemon dan  membangun  Jemaat  GPIB Ebenhaezer Palangkara yang lalu.

Sayang, jikalau dibiarkan terus, dan tidak diurus, bisa saja  tanah dan gedung gereja tsb  menjadi sirna diambil orang semuanya, pada hal GPIB ditempat lain seperti pengalaman gereja lain juga, bahwa dalam nama Tuhan Yesus  bisa membuat yang tidak ada menjadi ada dan  yang sudah ada  menjadi  lebih baik

GEREJA INDISCHE KERK  DISERAHKAN OLEH GKJ KEPADA GPIB  DIREMBANG.

MS GPIB segera mengurus statusnya ke Pemda Rembang, kalau tidak akan berubah fungsi

Surat Majelis gereja jawa Rembang menyampaikan ke Majelis Sinode GPIB dengan tembusan Majelis jemaat GPIB Imanuel Semarang (Blenduk) dalam hal mengembalikan /menyerahkan tanah dan gedung gereja itu kepada GPIB, karena mereka  yang pinjam pakai sudah  selesai dan sudah memiliki gedung gereja sendiri.

Pada saat itu dikomunikasikan kepada majelis Sinode GPIB, saat-saat mana Pdt Theo pindah dari jemaat Imanuel ( Blenduk ) Semarang ke  jemaat Filadelfia Banten.

Menurut salah satu warga jemaat yang tahu Rembang  bapak Sutrasman  adalah  anggota  majelis jemaat  GPIB Gloria mengatakan bahwa letak gereja ini sangat strategis karena berada dipantai dan disinyalir mau dijadikan  monumen bersejarah, milik Pemda Rembang, kalau tidak segera diambil ,  diurus  dan dipergunakan.

Usul supaya diurus dan ditempatkan seorang Vikharis yang mandiri yang dikontrol mentor dari Jemaat GPIB Imanuel ( Blenduk ) Semarang dan Majelis Sinode  GPIB untuk merintis  warga jemaat di Rembang dari tidak ada menjadi ada , atau dari yang sedikit menjadi  jemaat dewasa. Dengan iman  pasti tahap demi tahap dapat dicapai oleh pertolongan Tuhan Yesus kepala Gereja dalam pimpinan Roh kudus.

TANAH  P A L D A M :  G.P.I.B.   menang  dari Pengadilan Negeri s/d  Mahkamah Agung

negosiasi antara Kodam Diponegoro, Investor dan GPIB:  menyelesaikan tanah Paldam Semarang

Boleh dikatakan bahwa salah satu gudang harta milik GPIB peninggalan Belanda  berada di Semarang pada khususnya dan jawa tengah pada umumnya, selain di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia tercinta ini.

Tanah Paldam yang dibawah Kodam Diponegoro jawa tengah melalui suatu proses yang panjang dari Persidangan sinode  yang satu ke persidangan sinode yang lain yang menghabiskan tenaga dan pergumulan .

Hal ini terjadi  karena sesudah Kodam pindahkan kantor paldam baru ke Ungaran , suatu kompleks yang luas dan indah sebagai pengganti kantor paldam lama  dan merealisasikan perjanjian  antara GPIB dengan  Kodam Diponegoro. pihak kodam sudah aman menerima bagiannya,  sedangkan Majelis sinode GPIB belum menerima semua bagiannya, muncul suatu yayasan  yang mengklaim  bahwa tanah itu milik yayasan tsb, bukan hanya mengklaim tetapi memperkarakan status tanah itu ke Pengadilan Negeri semarang.

Majelis Sinode menyiapkan pengacara GPIB yang handal dari Jakarta untuk menghadapinya dan puji Tuhan, data pemilikan  yang dimiliki GPIB lengkap sehingga  yayasan itu  kalah…atau kemenangan dipihak gpib.

Yayasan ini tidak patah arang, mereka   naik banding ke pengadilan Tinggi semarang, puji Tuhan pula , kemenangan masih di pihak GPIB

Mereka  banding ke mahkamah Agung Jakarta, tapi dewi fortuna  tidak berpihak  kepada mereka, tapi justru terus menghampiri GPIB yang menang..puji Tuhan.

Yayasan  yang sebagian besar anggotanya adalah warga jemaat GPIB Imanuel  semarang  ini terus berusaha dan berkutat untuk menjadi keadilan  dengan mohon peninjauan ulang ke mahkamah  agung , tetapi justru semakin mereka berusaha, semakin dipermalukan, karena hasilnya nihil,  dewi fortuna  kemenangan tetap dipihak GPIB.

YAYASAN  BARU    MENGKLAIM    TANAH       PALDAM , SESUDAH  KEKALAHANNYA di MAHKAMAH  AGUNG RI.

Nasib mengurus harta milik  inventaris Blenduk ini, dibuatnya GPIB menjadi  bulan-bulanan oleh orang –orang yang merupakan preman berkerah  putih, permainan mereka tinggi, orang orang yang tidak

Instansi Hukum tertinggi : MA, telah memutuskan kemenangan kepada GPIB

bertanggung jawab , mereka masih  sama hanya mengganti baju saja dan   mencari tambah orang lain yang adalah keturunan belanda membuat yayasan baru, lalu mengklaim tanah paldam yang pernah di pakai Kodam Diponegoro ini menjadi masalah besar dan berlarut –larut.

Yayasan baru  yang mengklaim tanah paldam Kodam  Diponegoro ini memperkarakan kepengadilan. Pengadilan Negeri semarang, tetapi pihak pengadilan  menjawab mereka ,bahwa  GPIB sudah menang dalam perkara ini, tapi mereka mengatakan kami tidak mengenal yayasan yang kalah itu, kami adalah pemilik yang sebenarnya

Itulah dunia harta milik yang sering membutakan mata rohani manusia termasuk orang percaya,  sehingga kalau sudah buta, maka dia tabrak  kesana kemari untuk mencari harta dunia biarpun secara haram.

Mari kita periksa diri untuk bekerja, berusaha dan mencari apa saja termasuk harta dunia ini, tetapi bagaimana cari mencarinya dan bagaimana cara mempergunakannya untuk membangun hidup dan iman kita serta mencarinya secara halal.

PDT THEO MENOLAK UNTUK MEMBAWA PENGURUS YAYASAN INI k e  MAJELIS SINODE GPIB

Pada saat pdt Theo mau pindah  dari jemaat GPIB  Imanuel semarang ke jemaat GPIB Fildelfia Banten, mereka telepon ke pastori, supaya berteman menjadi team  untuk menghadap ke majelis sinode GPIB  agar menjari jalan damai.

Pdt Theo menolak tawaran itu dan berkata :” kita   beda pendapat,  karena harta milik  GPIB  yang ingin dikuasai oleh yayasan ini sudah kalah dan tidak perlu lagi cari jalan damai,  bahkan   anda adalah warga jemaat  GPIB Imanuel harus mengamankan keputusan Mahkamah Agung tentang   peninjauan ulang itu, oleh karena  mahkamah agung   sebagai lembaga hukum tertinggi dinegara kita ini…sudah memberi kemenangan kepada GPIB.

Saya dipihak GPIB, silahkan bertemu sendiri dengan MS GPIB

Kata pdt Theo : “Silahkah menghadap sendiri  ini alamat dan nomor teleponnya, agar mencari jalan damai atau bagaimana,  saya berada dipihak  GPIB dan inilah pandangan saya”, penegasan ini  untuk demi hukum dan nilai edukatif,  mengajarkan kepada warga jemaat, agar kerja dan usaha apa saja,  agar menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran,  pasti diberkati Tuhan.

Hal ini diinformasikan ke Majelis sinode GPIB, tetapi ia sendiri berada dipihak GPIB, memang mereka adalah orang –orang kaya , karena  yayasan mereka  sudah mendaya-gunakan beberapa tanah yang ditinggalkan oleh Belanda begitu saja sesudah revolusi, lalu mereka mengklaimnya sebagai milik yayasan tsb.

Semua informasi ini ia bukakan kepada majelis sinode untuk bersiap, jika memang mereka betul-betul datang untuk bertemu mencari jalan damai itu, maka pihak kita yaitu GPIB mendapat data yang akurat untuk menjamu mereka, namun jelas bahwa mereka sebagian besar adalah anggota yayasan lama yang sudah kalah dari GPIB, hanya ganti baju yang  warnanya lain, ini yang perlu diwaspadai, bukan sebagai status warga jemaat, tetapi dalam status  lawannya gpib di pengadilan.

INVESTOR SUDAH MULAI MEMBANGUN DAN MENJUAL TANAH YANG BELUM SELESAI MASALAHNYA.

Pada saat itu bersama salah seorang anggota team Majelis sinode GPIB yaitu bapak  Tetelepta SH  , ia adalah  asisten Intel jaksa tinggi jawa tengah, dari mana ia mendapat informasi, sehingga ia mengajak pdt Theo melihat lokasi tanah paldam yang sangat strategis itu.

Masalah belum selesai investor sudah membangun karena dia merasa rugi: MS GPIB harus tuntaskan hak-hak GPIB

Heran, ketika sampai dilokasi ia sendiri bertanya kepada pdt Theo; Mengapa mereka sudah membangun, pada hal urusan pembayaran kepada  Majelis Sinode GPIB belum selesai ?  Wah kata pendeta Theo: “ saya  juga  mau bertanya  : mengapa, dan mengapa  hal ini terjadi “ ?

Memang bila direnungkan, investor punya dana sudah banyak keluar untuk membangun kompleks baru paldam kodam dipinegoro diungaran, tetapi semuanya ini harus melalui prosedur yang baik , benar dan tertib , supaya tidak ada pihak yang dirugikan , dalam hal ini adalah pihak Majelis  sinode GPIB kita.

PERSIDANGAN SINODE DI DENPASAR DAN DI JAKARTA TELAH MENETAPKAN UNTUK  SEMENTARA TIDAK MENGURUS HARTA MILIK GPIB.

Awasmasalah yang berjalan tetap diurus sampai tuntas, karena nilai rupiah tetap berkembanginvestor mau mengembalikan modalnya juga

Pertanyaannya : berapa lama    tenggang waktu untuk  tidak mengurus harta milik G P I B   ?  dan  Bagaimana   urusan harta milik yang nasib urusannya   masih  terbengkalai  ? bagaimana nasib  urusan tanah milik GPIB di Paldam Kodam Diponegoro yang  yang pembayarannya belum selesai ? Jawabannya harus datang dari Majelis sinode, untuk mengamankan  semua transaksi, negosiasi yang sudah berjalan, karena jika ditinggalkan lama dan bertahun-tahun , nilai rupiah  uang republik Indonesia tercinta ini semakin menyusut, jika  tahun delapan puluhan majelis sinode harus terima 12 miliar rupiah umpamanya, maka sekarang harga itu sudah menjadi 12 triliun rupiah dan banyak pertimbangan faktor keamanan dan  kejujuran investor yang harus segera melunasi utang tsb.

Berdasarkan data-data  dan pertanyaan diatas, maka pihak gpib yaitu majelis sinode harus mengambil langkah kebijakan yang tepat guna mengamankan dan menyelesaikan semuanya itu, syukur puji Tuhan , kalau sudah selesai, tapi dalam laporan dan realissasi pendaya gunaannya   yang masih merupakan tanda Tanya!  Tapi kalau belum selesai  pendeta Theo mengusulkan untuk langkah-langkah strategis  itu harus segera ditempuh untuk kepentingan gpib  dan pelayanannya.

Hal ini diuruaikan dengan tulus , sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman mendampingi baik team majelis sinode dan anggota majelis sinode, karena selama ia bertugas sebagai pendeta /ketua majelis jemaat gpib imanuel ( blenduk) semarang,   sering datang anggota majelis sinode gpib untuk urusan tsb

Sebenarnya, masih banyak lagi dibenak pendeta Theo, tapi cukup  mengutarakan data-data diatas, kiranya dapat dimanfaatkan  dan menguntungkan pihak gpib, untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus dalam mengembangkan pelayanan ladangNya amin.

PENDEWASAAN JEMAAT FILADELFIA SEMARANG.

Selamat bersekutu, melayani dan bersaksi, “Filadelfia : Kasih Persaudaraan”

Penyelesaian gedung gereja  baru lengkap dengan kantor  gereja dan pastori,  merupakan  salah satu persiapan untuk melengkapi  syarat pendewasan  sebuah jemaat baru, dimana majelis  bagian jemaat peterongan  berkonsultasi  terus menerus dengan jemaat induk , dibawah koordinasi ibu Pattikawa sebagai koordinator  untuk mempersiapkan pendewasan tsb.

Kepadanya diarahkan oleh Pdt Theo, agar mempersiapkan buku-buku sesuai tata gereja dan menilai kemampuan calon jemaat tsb  menuju kemandiriannya.

Buku-buku sesuai tata gereja sudah disiapkan al. buku: keadaan jemaat, pendaftaran, kelahiran,  kematian, baptis, sidi, nikah, atestasi, majelis, bpk, komisi dlsbnya ,  sudah siap untuk di periksa oleh majelis jemaat GPIB Imanuel (Blenduk)

Laporan disampaikan kepada  Majelis Sinode GPIB untuk ditilik  dan dinilai kelayakannya, lalu ditetapkan  hari pendewasaan serta diutus  Pdt  wuwungan Dth  sebagai ketua umum majelis sinode untuk mendewasakan jemaat baru ini dengan nama “ FILADELFIA’ artinya persaudaraan

PENDETA THEO DAN KELUARGA  BERDOA’ DI BUKIT DOA’ GETSEMANI, UNGARAN

Semua anggota keluarga yaituTheo, Nelly, Jeni, Orry  Nani  dan  Debora (keponakan)  memilih satu tempat saja,diruang gua itu besar dan bisa muat semuanya.

Mereka berdoa seharian instrospeksi diri : Pdt Theo, Ibu Nelly, Yenni, Ori, Nani dan Debora (Ponakan)

Memuji-muji nama Tuhan atas kebaikanNya yang telah memimpin mereka  melayani di Semarang selamat empat tahun, suka….dan duka  …silih berganti, itulah dinamika hidup  dan pelayanan diladang Tuhan ini

Masing -masing mengadakan refleksi, mengangkat hati dan menaikan doa  puji syukur serta ucapan syukur pada  Tuhan atas  pertolonganNya dalam rumah tangga, sekolah anak-anak dan terutama pelayanan yang volumenya cukup tinggi…tetapi dapat menjalaninya serta melewatinya  dengan baik karena pimpinan Tuhan.

Kini waktunya untuk mereka akan pindah, mempercayakan kepindahan mereka ini pada Tuhan, sebagaimana  Tuhan memimpin di jemaat Imanuel (blenduk) semarang, kiranya berkat , anugerah Tuhan yang sama akan menyertai mereka di tempat baru …Filadelfia Bintaro-jaya-banten..terpujilah Tuhan Yesus Kristus.

Sesudah berdoa seharian bersama keluarga, waktunya untuk makan dan melihat sana -sini untukterakhir kalinya sebelum berangkat ke  Banten-Bintaro-jaya.

SIAP-SIAP MAU PINDAH KE FILADELFIA  BINTARO – BANTEN

Selamat Tinggal gereja Blenduk, selamat tinggal Jemaat Immanuel Semarang, terus berjuang dalam pelayanan, Tuhan Berkati

Tidak terasa, empat tahun  kepemimpinan Pdt Theo di Jemaat Imanuel Semarang, dalam waktu yang singkat itu Tuhan berkati sehingga mendewasakan dua jemaat baru yaitu   jemaat Effatha    semarang selatan dan jemaat Filadelfia Semarang timur serta mengembangkan pelayanan jemaat GPIB Imanuel (Blenduk), serta proyek sinode  yang memakan tenaga dan waktu tersendiri .

Majelis sinode telah menilik dan menetapkan untuk Pdt Theo menggantikan  Pdt.Brury Lewakabesy yang sudah keluar dari GPIB ke gereja pouk dan meninggalkan jemaat Filadelfia dalam keadaan kacau.

Isunya sudah didengar ketika ia  mengikuti konsultasi  mupel-mupel  dan Majelis Sinode di Medan, kini sk majelis sinode telah tiba  dan digumuli bersama majelis Jemaat untuk mempersiapkan  keberangkatan  dan kepindahan Pdt Theo dan menerima Pendeta yang baru.

Segala sesuatu telah dipersiapkan untuk diadakan perpisahan, tapi sementara persiapan tsb Majelis jemaat GPIB  Filadelfia  meminta agar segera mengisi kekosongan, untuk  itu Pdt Theo segera berangkat untuk diadakan serah terima di tempat baru yaitu Jemaat GPIB Filadelfia Banten.

Diadakan serah terima jabatan   ketua majelis jemaat GPIB Filadelfia dari Pen  Ny. Willy Tuapatinay  kepada Pdt. Theofilus Natumnea sebagai ketua majelis jemaat GPIB filadelfia Banten

Dengan demikian Pdt Theo mendapat kepercayaan untuk memegang dua jemaat yaitu Imanuel semarang dan Filadelfia banten selama empat bulan.

Untuk urusan pergi dan pulang tanggung jawab dari jemaat GPIB filadelfia tiap dua minggu mendapat tiket garuda selama empat bulan , karena belum ada serah terima di jemaat GPIB Imanuel Semarang.

Ketika tiba waktunya kenaikan kelas anak-anak, maka diadakan serah terima dengan ketua I majelis Jemaat GPIB  Immanuel Semarang Pen Tetelepta SH dan  selanjutnya ……selamat tinggal jemaat Imanuel semarang,…. selamat tinggal Gereja Blenduk,….dalam segala suka duka yang telah dijalaninya bersama dalam kasih dan kemenangan Yesus Kristus Tuhan kita amin.

BERSAMA  KELUARGA TIBA  DIJEMAAT  GPIB FILADELFIA  BINTARO – JAYA  – BANTEN.

Selamat datang.. dan selamat berjuang di Jemaat GPIB Filadelfia Bintaro-jaya- Banten.

Dalam biaya pindah  mereka  diperhitungkan tiket garuda, tetapi dalam mutasi pendeta tidak ada biaya pendaftaran anak sekolah, sehingga  mereka berdoa  kepada Tuhan untuk pendaftaran  anak sekolah .

Pada hari itu mereka sekeluarga  pergi  berdoa seharian di” bukit doa “ Ungaran, mau mencari waktu teduh dan evaluasi diri serta  menyampaikan  terima kasih pada Tuhan, bahwa selama empat tahun melayani Tuhan diJemaat GPIB  Imanuel (gereja blenduk) Semarang Tuhan  telah memelihara dan menjaga  mereka dengan baik, walaupun melaui suka dukanya, itulah dinamika kehidupan  seorang hamba Tuhan.

Ibu Ary bendahara mupel & anggota majelis jemaat  Filadelfia   semarang  yang telah didewasakan itu ,  menyampaikan bahwa  ia menanggung travel semarang – jakarta untuk keluarga Pendeta  Theo Natumnea.

Besok paginya ,bersama warga jemaat yang berkumpul untuk melepas keberangkatan  keluarga Pdt Theo Natumnea berdoa bersama, selamat tinggal…. teman-teman,selamat tinggal…tetap memelihara persekutuan dan tetap melayani, sampai jumpa…Tuhan memberkati (ucapan  ini  dengan suara sendu dan berlinang air mata)…..selamat jalan pak pendeta bersama ibu dan anak-anak semuanya…Tuhan memberkati  juga…selamat-selamat dijalan sampai di banten..Bintaro jaya Jakarta.(juga  ucapan dengan berlinang air mata dan suara sendu melepas pendetanya  bersama keluarga berangkat)   ngeng….ngeng…ngeng… berangkatlah mereka…makin lama ..semakin jauh mata memandang.….

Pendeta yang berhati kasih dan Injili ini masih sempat singgah berdoa diKendal   dalam “gedung gereja” bagian jemaat  yang  belum selesai ini,  ia berdoa  agar Tuhan memberkati bagian jemaat ini untuk berkembang , dimana gedung gerejanya belum selesai.

Meneruskan perjalanan darat, sambil istirahat dan makan , dengan sukacita mereka melaju dengan  kendaran travel ini sampai tiba di Bintaro –banten dengan selamat.

PERKENALAN KELUARGA PENDETA THEO  DENGAN WARGA JEMAAT  FILADELFIA.

Khotbah perkenalan pada ibadah minggu merupakan permulaan yang baik, pepatah yunani mengatakan :”permulaan yang baik adalah separoh keberhasilan”. Apa respon dan  komentar , warga jemaat ? Mereka mengatakan puas, ternyata  tidak beda atau sama dengan pendeta Brury Lewakabesi, demikianlah kata-kata ini ditiru ulang oleh beberapa  warga jemaat  yang mendengar warga jemaat dan diperdengarkan kepada pdt Theo…..lalu ia katakan; puji Tuhan, kiranya ada kerja sama yang baik dengan sambutan positip ini.

Perkenalan dalam kebaktian  syukur sebagai  penerimaan resmi warga jemaat, ketika pdt Theo dan seluruh anggota keluarga  hadir  seluruhnya, karena sebelumnya Ia masih bulak – balik selama empat bulan menunggu kenaikan kelas anak-anak.

Mereka  sangat mengharapkan kehadiran  seorang pendeta, itu tercermin dalam  percakapan dan kerinduan mereka, apalagi masalah yang ditnggalkan pendeta lama  yaitu pendeta Brury Lewakabesy itu sangat berat.

Apa masalahnya sampai jemaat   Filadelfia  bergumul berat ? Sebenarnya Pdt Brury Lewakabesi sudah serah terima dengan majelis jemaat GPIB  Filadelfia dan bahkan sudah diadakan perpisahan,  juga ditempat baru yaitu Bandung juga sudah serah terima dan acara penyambutan dan perkenalan… tetapi  entah… Mengapa  beliau tergoda untuk mau kembali ke jemaat Filadelfia ?

Bukan hanya kembali, tetapi mempengaruhi warga jemaat GPIB Filadelfia, sehingga hampir separoh  umat dibawa  ke GKO dimana  ia bernaung, sehingga jemaat GPIB Filadelfia terpecah menjadi tiga bagian yaitu yang pro beliau  ikut ke GKO,  yang lain netral tidak pro siapa  siapa ke GKI dan sisanya separoh  warga jemaat tetap menjadi warga jemaat GPIB Filadelfia

Itulah masalahnya, sehingga  dikatakan bahwa  : “jemaat GPIB Filadelfia  sedang  bergumul berat”,namun  ketika pdt Theo menerima  jabatan sebagai Pendeta/ketua majelis jemaat GPIB Filadelfia ini,ia mengucapkan bahwa  semuanya  menjadi tanggung jawabnya sebagai pendeta/ketua majelis jemaat GPIB Filadelfia.

MENGUNJUNGI PDT BRURY LEWAKABESY .

Adalah kawan akrab, ketika mereka  berdua bertugas dan melayani di Kalimantan , pdt Theo  melayani di Jemaat GPIB Maranatha Banjarmasin, sedangkan Pdt Brury melayani dijemaat GPIB Tenggarong, dimana  kedua jemaat ini masih  bernaung  pada satu musyawarah pelayanan atau mupel yaitu  musyawarah pelayanan Kalimantan timur dan Kalimantan selatan  atau disingkat mupel kaltim – sel.

memanggil, mengunjungi dan menjembatani untuk kembali ke GPIB, tapi sayang ia tidak mau kembali

Dengan demikian bagi Pdt Brury dan  sepak terjangnya bagi pdt Theo bukanlah  asing baginya, bahkan merupakan kawan akrab sejak keduanya melayani di Kalimantan dan bernaung dalam  mupel kaltim-sel.

Hal ini meringankan langkah pdt Theo untuk mau bertemu langsung dengan teman lamanya ini, tapi kunjungan pertama ditolaknya dengan alasan sibuk.

Penolakan ini tidak mengurungkan niat baik Pdt Theo untuk berkunjung lagi, setelah konsolidasi perkunjungan warga jemaat semakin mantap dan hampir 90 % warga jemaat yang ikut arus  dan pindah  ke  GKO telah  kembali kepangkuan  jemaat Filadelfia, maka dilanjutkan kunjungan keduanya dirumah  teman baiknya ini  yaitu Pendeta Brury Lewakabesy diperumahan Flamboyan  Rempoa.

Dalam kunjungan ini Pdt Theo sudah lebih dahulu berkonsultasi dengan majelis Sinode GPIB sebagai pimpinan dan menawarkan kepada beliau untuk kembali ke GPIB, tetapi tawaran ini ditolak olehnya, bahkan beliau  menambahkan bahwa ia sudah mempunyai kedudukan di tingkat majelis sinode GKO, dimana sebentar lagi akan  berangkat ke Australia dalam urusan  GKO, gereja barunya ini.

SETIAP WARGA BARU YANG DIKUNJUNGI BERKATA: ADA UNDANGAN GKO ?

Pendeta Theo menasihatkan supaya warga jemaat tidak mengikuti undangn tersebut

Berhubung  dengan warga jemaat  GKO sedikit, bahkan yang pindah kesana telah kembali 90 %, maka mereka mengambil strategi baru, karena perumahan bintaro adalah perumahan baru, maka setiap warga  yang baru menempati rumahnya  di bintaro ini,  ada surat undangan  GKO untuk membuat acara  yang menarik dengan mereka dijemaat GKO Bintaro

Hal ini terungkap ketika  warga baru yang belum terdaftar ini dikunjungi oleh Pdt Theo, ( warga baru) yang belum mendaftar sistim kunjungannya “sistim jemput bola”  , dikunjungi sebelum mendaftar) mereka ungkapkan bahkan menunjukan  surat undangan itu: Pdt Theo  berkata : bapak dan ibu  jangan mengikuti mereka, karena  pdt Brury tadinya adalah Pendeta jemaat GPIB Filadelfia, tapi sekarang ia telah keluar dari GPIB  bahkan Majelis Sinode  GPIB telah mengeksikusi pemecatannya dengan surat keputusan dan ia sudah menjadi Pendetadi jemaat GKO, dengan meninggalkan  1001 macam persoalan dan pergumulan,  yang sementara kami selesaikan  satu persatu terutama  warga  jemaat yang ke GKO  baru dimenangkan kembali satu persatu tetapi baru sekitar 90 %….belum 100 %

IBARAT PERANG  : PDT BRURY ADALAH MUSUH, TETAPI  IBARAT DAMAI : PDT BRURY  ADALAH  KAWAN.

Mengapa dikatakan  pdt Brury adalah musuh jemaat GPIB Filadelfia ?

apapun yang terjadi tetap teman dan membawa misi damai dalam pelayanan

Bukankah sama-sama gereja adalah sama dihadapan Allah ? Mengapa tidak saling  mengasihi  dan membantu sebagai gereja ? dan pasti banyak lagi pertanyaan yang akan timbul,  apa lagi warga jemaat yang mengalami  langsung pergumulan ini, dengan rayuannya  yang luar biasa   itu , untuk kalau bisa semua warga jemaat  GPIB  Filadelfia  pindah saja kejemaat  GKO Bintaro yang baru saja didirikannya alias semua warga jemaatnya adalah  mantan  warga jemaat GPIB Filadelfia.

Dari kaca mata  inilah kita dapat mengerti isi hati warga jemaat yang tetap bertahan sebagai warga jemaat GPIB Filadelfia,  yang kata-kata mereka “ibarat perang pdt Brury adalah musuh / lawan jemaat GPIB Filadelfia, karena selain ia menharubirukan warga jemaat, terus saja menggorogoti warga jemaat baru supaya  mau memperkecil jemaat GPIB Filadelfia dan mau memperbesar  jemaat GKO yang baru didirikannya itu .. sama dengan cari domba dari kandang GPIB Filadelfia.

Hari itu dalam perang  urat syaraf,  kalau tidak  jeli untuk berkunjung  habis-habisan, boleh jadi yang  ikut ke jemaat GKO tidak kembali bahkan  warga yang ada di gerogoti terus menerus, karena beliau adalah  mantan pendeta lama, dimana ia mengenal liku-liku kehidupan warga jemaat ini.

Kalau kita pakai ibarat perang organisasi gereja beliau  adalah musuh, pada saat itu, atau pada kondisi tertentu bukan untuk selamanya, sebab ketika dia bertobat dari perbuatannya untuk tidak mengacaukan  warga jemaat GPIB Filadelfia lagi, maka dia bukan musuh , tetapi kawan karena perang sudah selesai dan  bergandengan tangan untuk melayani dan bersekutu bersama.

APAKAH PDT BRURY DITERIMA LAGI DI GPIB ?

Adalah urusan majelis sinode GPIB,

terserah ybs; dan keputusan MS GPIB

sebab kalau dia mau kembali lagi, sejak pendeta Theo mengunjunginya, memanggilnya sebagai teman supaya sadarlah dan kembalilah, bagi Tuhan tidak ada kata terlambat, tetapi dia tidak mau dan tidak mau.

Bagaimana kalau saat ini mau kembali ?  jawabannya juga sama adalah urusan majelis sinode GPIB, tetapi saran pdt Theo supaya tidak usah  terima dia lagi karena umurnya sudah tua, Dn rasa hati ini bagaimana ya ?

Kalau datang , mengikuti dan  mendaftarkan diri sebagai warga jemaat yang baik untuk duduk manis saja, sebab  dedikasinya sebagai mantan pendeta GPIB semuanya  sudah tahu dan hafal, maka demi menjaga kerukunan dan persekutuan jemaat GPIB Filadelfia, maka jemaat ini melayani dia sebagai warga jemaat biasa saja.

KALAU MASIH ADA  MEREKA : MUSTAHIL KAMI KEMBALI.

akar pahit harus dibasmi habis dalam nama Tuhan Yesus

Dalam perkunjungan tanpa pemberitahuan yang didampingi oleh  isteri : Nelly tercinta, pagi, siang ,  sore dan  malam  ada suka dukanya, ada yang menolak, ada yang menerima, ada yang langsung mau kembali, ada yang saling menunggu, tetapi ada juga yang berkata:” kalau masih ada si A, B, dan C mustahil kami kembali menjadi  warga jemaat GPIB Filadelfia”,  situasi hati seperti ini ia dan nyora hanya mendoakan saja minta pimpinan Tuhan yang terbaik, sebab jika  Tuhan kehendaki untuk kembali nanti ada waktunya, karena tidak yang mustahil bagi Tuhan jika  Ia kehendakinya supaya semuanya bersatu.

Itulah isi hati mereka yang dicurahkannya kepada pdt Theo, dapat dimaklumi kendala ini, masih butuh pergumulan, butuh waktu dan doa khusus untuk mereka ini, karena ada ganjalan dan batu antukan kalau mereka kembali; hal ini tak dapat dipaksakan karena mereka juga punya perasaan  dan adalah manusiawi, Pdt Theo hanya katakan bahwa bagi manusia mustahil, tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, jikalau Tuhan sudah kehendaki untuk kembali kepangkuan jemaat Filadelfia,  untuk menjadi saksiNya lebih luar biasa dan hebat lagi.

Hal ini  menjadi pembelajaran juga bagi umat, agar dalam memelihara persekutuan janganlah menjadi batu ganjaran bagi orang lain, masing masing introspeksi dengan pertanyaan-pertanyaan ini: apakah saya sudah menjadi berkat bagi  keluarga saya ? apakah saya sudah menjadi berkat bagi persekutuan saya  ?  apakah saya sudah menjadi berkat bagi  orang lain ? dan apakah saya sudah memuliakan nama Tuhan ?

Dengan pertanyaan-pertanyaan ini mau menantang kita supaya dalam memelihara suatu persekutuan yang besar seperti jemaat Filadelfia ini  jangan aku kita yang ditonjolkan, janganlah  kelompok kita yang  dinampakkan, tetapi saling menerima dan saling melengkapi satu dengan yang lain, mungkin ada orang Kristen baru yang baru bisa berlari  lima km perjam, jangan dipaksakan sesuai kekuatanmu yang bisa berlari dua puluh lima km per jam, tapi terima keberadaannya untuk saling menerima, saling melengkapi dan membangun menuju kepada kesempurnaan Kristus. (Epesus 4 :11-16)

KAMI NETRAL, KARENA ITU KAMI KEBAKTIAN  DI  GKI  SAJA.

tadinya bernaung sementara di GKI, tapi ada yang kerasan mau menetap disana dengan syarat harus ada surat pindah dari GPIB Filadelfia

Kelompok ini cukup banyak yaitu 1/5 dari jumlah warga jemaat, mereka mengatakan kami tidak pro siapa-siapa ! kami tidak pro pak Brury tetapi juga tidak pro  pada   warga jemaat tetap di Filadelfia  yang bertentangan dengan  pdt Brury, untuk itu kami tetap  netral…  kelompok poros tengah  ini  mau menunjukan kemurnian  kenetralan   mereka  dan  berkata : “ kami mau cari  tenang kalau beribadah , kami tidak mau ikut ribut  ( keadaan jemaat waktu  itu seperti  bara api ditungku yang panas) semua bicara tentang   seseorang dan segala sesuatu yang telah terjadi dalam jemaat yang membawa perpecahan luar biasa, tetapi kelompok ini tidak ikut-ikutan ribut hanya mau  cari ibadah  dengan tenang ,  jadi  mereka kebaktian ke  jemaat GKI Depsos Bintaro.

Mereka sudah tenang  mengikuti ibadah-ibadah di  jemaat GKI Depsos, hanya peraturan GKI cukup ketat, jika mau menjadi warga jemaat, harus membawa surat pindah (atestasi  dari jemaat atau gereja lama), maka merekapun tidak terdaftar di jemaat GKI  depsos  sana.

Puji Tuhan, karena kasih dan kemurahan Tuhan menyertai Pdt Theo, sehingga dengan gigih mengunjungi  mereka ini  dari keluarga yang satu ke keluarga yang lain, dan  menyadarkan serta memastikan mereka bahwa keadaan jemaat GPIB Filadelfia  sudah aman terkendali dengan  kehadiran pendeta jemaat yang baru ini. Merekapun satu persatu  membaca tanda-tanda itu  dan mau kembali berjemaat di Filadelfia  yang  artinya kasih persaudaraan itu .

Walaupun berusaha begitu rupa, tapi  ada juga warga  yang tetap tidak senang dengan keadaan yang sudah terjadi ini, tetap mau minta atestasi untuk pindah ke jemaat GKI depsos Bintaro, terjadilah dialog yang panjang, bahkan Pdt Theo minta berpikir ulang  selama seminggu, mereka tetap berkeras untuk pindah ke jemaat GKI depsos bintaro yang dianggapnya lebih tenang untuk beribadah, rupanya situasi hatinya sudah menetap dan mantap disana.

Keadaan seperti ini  menuntut pdt Theo dan para majelis  yl harus  kerja extra keras, tempa besi selagi panas, sebab jika besi sudah dingin dengan apapun tak dapat ditempa untuk ditarik kembali lagi, hanya kuasa Tuhan Yesus saja yang bisa memanaskannya ulang, maka berlakulah bagi Tuhan tidak mustahil itu.

MENANAM DAN MEMETIK  PEPAYA , DIHALAMAN BELAKANG PASTORY…FILADELFIA BINTARO- JAYA

Kesibukannya untuk  berkunjung dan melayani jemaat, tidak  mengurungkan niatnya untuk pendeta petani ini menanam  pisang meja dan pohon pepaya.

Fiilosofis memimpin jemaat sering  diibaratkan dengan menanam tanaman yang disdayanginya, merawatnya, menumbuhkannya dan  membesarkannya dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang sungguh-sungguh.

Bercocok tanam ini juga untuk   tidak jemu dan tidak tenggelam dalam rutinitas

Dimana menginjak bumi,   disitu bercocok tanam,    tidak melupakan Habitat & ekosistim sebagai petani, (MELAMBANGKAN BAHWA  LADANG PELAYANAN SUDAH MENGUNING DAN PERLU  PENUAI-PENUAI YANG  SIAP UNTUK DIUTUS DAN SETIA MELAYANI  TUHAN

pelayanan, tetapi ada penyegaran tersendiri dalam hidup pribadi yang  lahir sebagai anak petani ini.

Bahkan  sering kali tanaman ini disejajarkan dengan  memelihara jemaat, merawat, menumbuhkan  yang penuh dengan kasih sayang, “jika tanaman ini berhasil, demikian juga penanganan  masalah apa saja dalam jemaat akan berhasil, kata pendeta yang bertangan dingin ini”  sabil memberi semangat kepada keluarganya.

Suatu ketika  ia memetik buah pepaya yang sudah matang  itu, yang ditanamnya sejak ia tiba  diBintaro jaya, seraya sambil melayani tidak melupakan  habitat aslinya yaitu tanam menanam ini.

SITUASI  JEMAAT FILADELFIA   &  JEMAAT GKO   di  BINTARO

Sebagian besar warga jemaat tanggelam dalam pembicaraan antara bertahan dan  pindah,  dalam  pengaruh dua kelompok besar ini, menciptakan  hiruk pikuk pembicaraan tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dan dilewati itu ibarat “ makan buah simalakama”     “dimakan ibu mati, tak dimakan ibu mati” , mau tidak mau dimakan, kecuali mereka yang netral dan ke GKI.

Bola panas ini terus bergulir melintasi  wilayah jemaat  bintaro, siapa yang tidak tahu dan siapa  yang tidak ikut bicara, semuanya mau tidak mau  terjerumus dalam membicarakan  orang lain,  berarti diluar kasih dan pembicaraan panas yang melintasi jemaat Filadelfia  Bintaro.

Syukurlah sebagian besar jemaat yang bertahan, tetap tenang dalam kasih persaudaraan sesuai nama Filadelfia, ini kekuatan yang dipakai Pdt Theo untuk menalarkan kasih persaudaraan yang semakin bertumbuh  untuk mengadakan konsolidasi ulang jemaat GPIB Filadelfia

RAHASIA KEMENANGAN DALAM MEMPERSATUKAN KEMBALI JEMAAT FILADELFIA.

Semua hamba Tuhan pasti tahu rahasia yang satu ini ialah doa dan perkunjungan warga jemaat,itulah basis pelayanan terutama dalam memulai jemaat yang sedang pecah,  timggal bagaimana mengelolanya, mau atau tidak, kalau  mulai harus sungguh-sungguh dengan berkorban untuk menjalankan dan  menghadapinya, berani

Doa dengan Tekun sangat besar Khasiatnya, berkunjung dengan rajin menemukan warga jemaat mau kembali

berkomitmen untuk memenangkan pertandingan ini .  Ia tidak menyia-nyiakan waktu sejak  pindah  dari Semarang, ia tekun berdoa dan mulai perkunjungan dari rumah ke rumah terutama warga jemaat yang sudah meninggalkan jemaat  GPIB Filadelfia dan berpindah baik ke GKO   maupun ke GKI

Ada suara-suara yang mengatakan bahwa kita sadar untuk kembali, dengan sentuhan khotbah perdananya yang menceriterakan  tentang orang Kristen baru di Nepal yang masuk penjara karena dibaptis. Ketika pendeta  misionaris datang berkunjung ke penjara, mereka   sampaikan  pokok doa : “Pak Pendeta: jangan doakan kami supaya kami cepat keluar dari penjara, tetapi doakanlah kami supaya kami tetap  setia kepada Yesus sampai akhir”, maka warga jemaat yang ikut ke GKO dan  GKI berkata :  berarti  kita tidak setia, sekarang kita harus kembali kejemaat GPIB Filadelfia.

Kata pepatah “Tempa besi selagi masih panas”, sebab jikalau besi sudah dingin, biar pakai hamar gajahpun tidak dapat dibentuk lagi, karena itu mendengar respons  mereka  waktu khotbah pertama:  bahwa  ada  yang mau kembali adalah  permulaan yang baik   karena  kata mereka:  “kita sudah keliru”, dimana ada sambutan positip dari mereka, sebab yang masuk gereja waktu itu tidak hanya  warga Filadelfia  yang bertahan , tetapi juga warga jemaat yang sudah pindah ke GKO dan GKI.

Doa pendeta Theo: ya Tuhan, keadaan jemaat filadelfia  terbagi kelompok-kelompok, ada kelompok GPIB, ada kelompok GKO dan ada kelompok Netral GKI.  Tuhan …jangan biarkan jemaatmu ini dipecahkan dan dicerai-beraikan  oleh iblis, jamahlah hati semua  umatmu,  kembalikanlah pada posisi kasihmu , untuk saling mengampuni dan saling menerima, kembalikanlah mereka yang pindah tak  menentu   itu kembali ….ke Jemaat Filadelfia. Dan ya Tuhan  hamba mohon ,  siapkanlah hati anak-anakMu di jemaat Filadelfia untuk menerima mereka yang kembali, ampunilah dosa mereka dan baharuilah hidup mereka, ikatlah kasih mereka supaya kembali dan kembali bersatu, supaya namaMu dipuji dan dimuliakan’  dalam kuasa pengampunan dan pembaharuan Yesus Kristus Tuhan dan juru selamat kami, .. kami mohon ampun dan jawablah doa kami  , terpujilah Tuhan Yesus  kekal selama-lamanya..Haleluyah amin

Dalam doa yang sungguh-sungguh dan kerinduan untuk mengembalikan   warga jemaat yang pindah itu.. semuanya mulai terjawab, ketika Tuhan mempertemukan  dengan para tokoh-tokohnya sehingga memudahkan  mobilisasi  rangkaian  gerbong pengembaliannya ke  jemaat GPIB Filadelfia.

Para tokohnya sudah dicapai dan mau ikut kembali ke GPIB, maka  warga yang lain akan  ikutnya saja yang  dikatakan  oleh pimpinan sehingga kembalinya  mereka dalam rombongan besar

Pendeta Theo mengikuti mereka dalam  berjalan bersama dan dalam pelayanan   sementara  berdiaspora, mengenal isi hati mereka dan membelokkan mereka untuk kembali pada momentum yang tepat, dan tidak terasa sudah berada dalam persekutuan jemaat GPIB Filadelfia Bintaro jaya

PEMULIHAN JEMAAT GPIB FILADELFIA BINTARO

Sehabis gelap terbit terang, pemulihan, demi pemulihan  terus  berlangsung  karena pimpinan Roh Kudus, yang membuat secara  alamiah keadaan jemaat ini menjadi  kembali bersatu,  baik    warga jemaat yang  tetap bertahan, juga  warga jemaat yang kembali dari  GKO, demikian pula  warga  jemaat yang kembali dari GKI, semua bertekat untuk melupakan yang dibelakang dan memandang kedepan, saling berpegangan tangan,  kembali bersekutu, melayani dan bersaksi tentang nama Yesus  untuk membangun kembali jemaat GPIB Filadelfia Bintaro jaya.

Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan denga Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Mereka sadar bahwa musuh mereka bukanlah manusia, tetapi iblis yang masuk memakai emosi mereka pada saat beda pendapat yang sangat panas itu oleh pengaruh kepentingan, kekuasaan dan kelompok, kini mereka sadar dan sadar bahwa mereka bersaudara dan sedang memasuki pemulihan Tuhan dalam pimpinan roh kudus.

Proses ini berlangsung begitu cepat, kecuali beberapa keluarga yang bertahan, tapi akhirnya  Roh kudus menolong umatNya untuk kembali saling mengampuni dan saling menerima satu dengan yang lain untuk memulai babak baru dalam perjuangan jemaat yang sedang berada dalam dunia perumahan bintaro jaya yang semakin pesat perkembangan  pembangunannya ini.

MENGEMBANGKAN JEMAAT FILADELFIA MENJADI  SEKTOR-SERTOR.

Melihat perkembangan ini semakin membaik, pelayanan terus berjalan, persekutuan semakin mantap dan dieratkan, bahkan kesaksian  menggetarkan  dunia bintaro, banyak orang sudah memenuhi gedung gereja kembali, maka yang segera ditangani adalah pembagian sektor-sektor, supaya kebaktian keluarga tidak terdapat kefakuman dan kejenuhan yang bisa menyebabkan celah-celah terbuka untuk jemaat   GKO beraksi lagi.

Sudah waktunya pembagian sektor agar pelayaan dapat berdaya dan berhasil guna, dilakukan oleh Majelis Jemaat

Sesuai dengan nama sektor-sektor perumahan bintaro jaya, maka tidak sulit untuk merancang sektor pelayanan jemaat Filadelfia ,  kecuali wilayah perumahan  pertamina dan rempoa,  terbentuklah sektor I  s/d IV sesuai dengan sektor perumahan bintaro jaya dan sektor V Perumahan pertamina serta sektor VI rempoa.

Pelayanan  yang berdaya guna dan  berhasil guna ini dalam memberdayakan seluruh anggota majelis jemaat dan warga jemaat untuk turut memelihara persekutuan, melayani serta menyaksikan dan memberi informasi tentang  kehadiran warga baru agar segera dikunjungi walaupun keluarga ini  belum mendaftarkan diri sistim jempaut bola untuk  menjemput mereka ke gereja.

Dalam kebaktian keluarga dalam bentuk renungan atau persekutuan doa diberi kesempatan kepada tuan rumah untuk menyampaikan sambutan serta memberi kesaksian tentang  pengalaman hidup bersama dengan Tuhan, terutama hal-hal yang telah dibuat Tuhan dalam kehidupannya, maka dapat disaksikan menjadi berkat rohani bagi warga jemaat, asalkan dalam kesaksian dia membatasi diri, jangan   menyaksikan akunya, tetapi menyaksikan kuasa Tuhan  Yesus yang sedang berkarya dalam hidupnya untuk hormat dan kemuliaan baginama Tuhan

MEMBUKA DAN  MENGADAKAN KEBAKTIAN SUBUH BAGI WARGA  JEMAAT.

Melihat dan merasakan tantangan pelayanan beragam walaupun konsolodasi sudah berjalan baik, serta menganalisa  bahwa yang dilawan ini bukan manusia,tetapi musuh utama adalah kuasa iblis yang masuk melalui berbagai cara dan kesempatan  untuk  mengacaukan gereja.

Pulihkanlah keadaan kami ya Allah. Maz 126: 4a

Memang konsolidasi dapat dikatakan   berhasil, semua  warga jemaat yang ada dipertahankan , sedangkan warga jemaat yang  keluar dikembalikan karena kuasa  Tuhan, tapi satu hal yang penting untuk membentengi kemenangan jemaat yang sudah diperoleh  ini ialah mengadakan persekutuan doa.

Dalam wadah persekutuan doa diberi kesempatan bagi warga jemaat untuk ikut melayani dalam doa yang dapat menjangkau hal-hal yang belum terjangkau dalam pelayanan pendeta dan majelis jemaat, sekaligus menjawab kerinduan warga jemaat, sehingga tidak pergi mencari persekutuan doa ditempat yang lain.

Pelayanan kebaktian dan persekutuan doa ini diadakan tiap hari sabtu subuh jam 05.00 , kiranya dipagi hari sebelum berbicara dengan siapa-siapa , diberi kesempatan untuk menyembah Tuhan dan berbicara dengan Tuhan serta sebelum  menghadapi kesibukan lainnya,  ada waktu teduh bersama dengan Tuhan.

Pelayanan doa ini hanya merupakan sarana, tetapi diharapkan seluruh warga jemaat baik yang ikut persekutuan doa atau yang tidak ikut persektuan doa digereja, dapat mengadakan doa secara pribadi  bersama keluarga di rumah masing-masing.

Penggalangan dan mobilisasi warga jemaat untuk ambil bagian di seluruh lini pelayanan ini adalah amanat jemaat dan gereja missioner, ketika gpib memproklamirkan  diri sebagai geraja dan jemaat missioner di Bandungan Ambarawa – jawa tengah pada persidangan sinode gpib yang dipimpin oleh Pdt D.R.Maitimu, supaya melibatkan seluruh warga jemaat untuk ikut melayani Tuhan

IA MENGAKU:  BAHWA  LEBAH ITU IALAH DIRINYA

Dalam usianya ayahnya Meliakhi Natumnea sudah mencapai 95 tahun, orang bertanya kepada ayahnya : apa rahasia umur panjang sampai mencapai usia 95 tahun ?  Meliakhi  sembari  menjawab: karena kasih karunia Tuhan dan  kalau orang berbuat salah padaku, sebelum ia meminta maaf, saya sudah maafkan, serta  kalau kerja  sesuai kekuatanku, ada waktunya kerja, ada waktunya istirahat; salah satu makanan  vaforit ialah madu hutan.

Melihat usia ayah yang sudah mencapai 95 tahun ini, maka mereka berencana untuk mengadakan kebaktian syukur di Timor – Kupang – Amarasi – Baun – Nubraen. Secara serentak  mengambil cuti membawa isteri, anak – anak untuk  mengadakan kebaktian syukur bagi ayahanda Meliakhi Natumnea

Sehabis kebaktian syukur  diadakan adat : dari ketujuh anak Meliakhi Natumnea ini ,  tiap anak berdiri didampingi oleh isteri/suami – anak-anak serta cucu -cucu untuk menyampaikan terima kasih bahwa sudah dipelihara dan dibesarkan serta meminta maaf atas kesalahannya dan memberikan kain  tenun timor,  serta mencium  ayah  Meliakhi Natumnea…. tanda  hormat pada ayah selama ia masih hidup

Gilirannya  pendeta Theo Natumnea yang adalah anak kelima , juga  bersama isteri Nelly dan anak-anak: Yenny, Orry dan  Nani,  mereka berdiri didepan ayah dalam skap hormat, ucapan terima kasih disampaikannya   dan permintaan  maaf  diucapkannya  serta memberikan kain timor sesuai adat … mencium ayahanda sambil menangis diikuti  Nelly, yenny, Orry dan Nani si bungsu

Thema  permohonan maaf itu  ialah pengakuan bahwa : dulu  ayah kecewa  berat atas tuaknya yang diminum lebah hutan  sampai habis itu, bukan lebah hutan tapi si Filuslah lebahnya, …( lihat seri I……” tentang  lebah itu luar biasa”….karena  sehabis bermain fiti burung, cari sapi dihutan dan dalam keadaan haus berat,  maka lebah siFilus inilah yang menghabiskan  tuak ayah sampai tiga haik, tanpa seekor lebahpun yang mati karena  lebahnya adalah anak kandung ayah….., karena itu dari hati yang terdalam  mohon maaf atas kenakalan remajanya menghabiskan tuak ayah untuk  menggantikan larunya yang tertunda itu

Suasana  hadirin  dalam ucapan syukur  itu menjadi  berubah, separoh hadirin tertawa dan separoh hadirin  menangis atas pengakuan tulus –  ikhlas seorang pendeta Theofilus Natumnea kepada ayahandanya yang berusia 95 tahun ini

Hal ini disimpannya dalam hatinya sampai 25 tahun,  baru dibukakan kepada ayahnya yang kecewa berat waktu itu, membuat hadirin separoh tertawa dan separoh menangis  genbira, karena seorang pendeta  mengaku dosa kepada ayahnya didepan umum yang disaksikan oleh warga dan undangan serta ..hadirin sekalian di Nubraen ini

PEKAN  DOA  KELUARGA JEMAAT FILADELFIA.

Keadaan semakin membaik, sehingga  semua ikut ambil bagian secara bertanggung jawab, karena itu diharapkan  bahwa acara pekan doa setiap ulang tahun BPK (sekarang pelkat) selama  seminggu, semua dapat ambil bagian dari bapak, ibu, anak I, anak II anak ke III dstnya, sehingga semuanya dilatih untuk bisa memimpin dan berdoa  bersama dalam pokok doa yang telah disiapkan dalam liturgi dan jadwalnya.

Tuhan melakukan perkara besar kepada kita. Maz 126:3

Mendoakan pengalaman yang telah dilewati dan ambil hikmahnya, serta belajar dari hal-hal yang positip dan negatip. Apa artinya ini ? belajar dari hal yang positip artinya yang positip dan baik agar dipertahan dan ditingkatkan sampai menjadi teladan yang baik dalam berjemaat dan bermasyarakat. Demikian  juga  belajar dari hal-hal yang negatip artinya tau bahwa itu negatip, segera mengantisipasi agar kekurangan dan kelemahan yang telah terjadi jangan terulang kembali tetapi mentransfer serta mengalihkannya  menjadi  yang  positip, agar berguna  untuk membangun kehidupan masa depan yang lebih baik dalamTuhan

Setiap anak Tuhan  punya  penglihatan kenabian untuk melihat kebelakang  dan kedepan, karena  kita  menjadi imamat-imamat perjajian baru band  I Pet 2: 9 apa artinya semua ini ?  Melihat kebelakang  25 tahun yang lalu artinya kalau 25 tahun yang lalu kami tidak hidup dalam Tuhan, dan Tuhan tidak menyertai kami, maka apa yang  telah terjadi dengan hidup kami sekarang ini, juga melihat kedepan artinya kalau hari  ini kita tidak sungguh dengan Tuhan , maka apa yang akan terjadi dalam hidup kita 25 tahun yang akan datang  nanti…daam dunia yang semakin modern dan maju ini

Kiranya  anak Tuhan bisa menilai tanda-tanda zaman,  untuk melihat kebelakang dan kedepan, dan dapat menerjemahkan  apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi dalam hidup kita,   untuk belajar pada pimpinan  dan kehendakNya serta menceritakan keajaiban Tuhan yang luar biasa menyertai hidup kita, menjadi pembelajaran bagi anak cucu kita, dengan demikian semakin jernih kita melihat dalam teropong firman Tuhan dan tuntunanNya kemasa depan yang lebih jelas dan pasti bersama Tuhan.

MENERIMA  JEMAAT KOBA  &  TABOALI MENJADI  JEMAAT ADOPSI

Berkat Tuhan yang diterima dan dimiliki oleh jemaat GPIB Filadelfia, janganlah  menjadi berkat suatu keindahan  untuk dinikmati sendiri, tetapi harus dibagikan kepada jemaat lain yang dalam kekurangan

Lebarkanlah sayapmu, patoklah injil kuat-kuat didaerah pulau bangka, naa Yesus dimulyakan

untuk saling melengkapi menopang dan membangun sebagai jemaat GPIB  missioner untuk menjawab tantangan pelayanan ini.

Dalam kerangka  semua itu,  jemaat  Filadelfia menyambut dengan senang hati penawaran dari Majelis Sinode untuk menerima dua jemaat dewasa di pulau Bangka yang secara ekonomi jemaat berkurang  drastis, akibat menurunnya warga jemaat sebagai efek dari  menurunnya produksi timah didaerah itu.

Ke dua jemaat dewasa itu ialah jemaat GPIB K o b a   dan jemaat GPIB Taboali, yang semuanya  berkedudukan di pulau Bangka dan yang memposisikan diri sebagai  jemaat-jemaat yang ingin diadopsi, sehingga mendapat bantuan secara langsung dari  jemaat Filadelfia.

Sebagai mana firman Tuhan mengatakan  : “yang mendapat banyak tidak kelebihan dan yang mendapat sedikit tidak kekurangan”, maka  wajarlah jemaat GPIB Filadelfia terpanggil untuk  melayani  dan membantu kedua jemaat  dewasa ini

BERKUNJUNG KE BANGKA: JEMAAT KOBA DAN JEMAAT TABOALI

Bersama  dengan team majelis jemaat GPIB Filadelfia, mereka bersiap-siap  untuk berangkat ke pulau Bangka  dengan  penerbangan  merpati air line dari Bandar udara Sukarno-Hatta, dan tiba dengan  selamat di pangkal pinang  ibu kota Bangka itu.

Mereka diterima oleh majelis jemaat Pangkal Pinang dan menjelaskan tentang  wilayah dan kondisi kedua jemaat itu dan selanjutnya rombongan Jemaat GPIB  Filadelfia meneruskan

orang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya. Maz 126:6

perjalanan darat yang  ditempuh selama dua jam karena jalannya sangat bagus dan tertata rapi, sana sini… kiri dan kanan… kelihatannya indah baik laut  maupun hutan pohon kelapa…nyiur melambai, tetapi tak disangka semakin jauh  perjalanan disana sini pula kelihatan habitat hutan yang rusak  akibat  proyek-proyek timah itu.

Dalam pimpinan Tuhan tibalah rombongan di Koba dan Taboali untuk siap menerima  tanggung jawabnya sebagai jemaat adopsi, melihat, mendengar dan mengalami secara langsung untuk mempelajari keadaan jemaat dari dekat

Hal yang sangat mendesak adalah menanggung gaji penginjil dan biaya perbaikan  gedung gereja serta pastori jemaat, selanjutnya  jemaat GPIB Filadelfia memprogramkan bantuan secara rutin dalam program kerja jemaat.

PENEGUHAN SIDI JEMAAT GPIB KOBA.

Siapa yang tahu ada kebijaksanaan luar biasa dari jemaat gpib koba dan Taboali  yang membaca dan menetapkan  serta mempersiapkan anak mereka yang akan sekolah keluar daerah ?

kader baru untuk generasi penerus gereja

Pada hari sabtu  malam anak – anak berkumpul denga memakai baju smp karena baru pulang sekolah…langsung ikut persiapan  sidi.Pdt Theo bertanya >:mana anak-anak calon sidi baru ?  dijawab oleh penginjil : ini dia mereka ini pak ! sambil disela  oleh ketua  I majelis jemaat : bahwa anak-anak  ini kami bijaki  supaya  sidi pada kelas III smp, karena setelah  tamat smp,  mereka sudah ke jawa, khususnya Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah yang  lebih berkualitas, mereka ini sudah  sidi, maka kami orang tua lega melepas mereka dengan predikat sudah sidi

Filosofis pemikiran majelis jemaat Koba dan Taboali ini dapat dipahami dan diberikan  pertimbangan khusus untuk persiapan dan peneguhan sidi baru bagi  anak –anak muda ini.

Biarlah dalam pelayanan ini nama Tuhan Yesus dipuji dan dimuliakan  dan perlu menerjemahkan  injil Allah dalam pelayanan sesuai situasi dan kondisi yang berlangsung yang dapat dipertanggung jawabkan kepada Tuhan dan gerejaNya.amin

Dipublikasi di Uncategorized | 15 Komentar

Seri III: DARI SERAMBI MEDINA ke CENTRAL JAVA (BLENDUK-SEMARANG)

MEJA KACA DIHANCURKAN DAN MENGUSIR PENDETA DAN PENATUA

Bagi seorang pendeta, jangan kaget kalau diusir oleh warga jemaat yang emosi, tidak senang karena masalahnya kompleks dlsbnya; Bahkan  merupakan selalu bersyukur, jika diusir oleh warga jemaat , tetapi juga seorang pendeta  tidak boleh mundur, apalagi sama-sama emosi lalu membuat kelompok untuk

Pendeta dan Penatua  harus :  sabar..sabar.. dan sabar, karena kemarahan tanpa roh kontrol akan merusak semua pelayanan,   dia tidak tahu apa yg diucapkan dan kerjakan.

pembelaan diri, jika hal ini terjadi  akan membuat runyam jemaat yang dipimpinnya; karena itu  harus sabar…sabar dan sabar.

Peristiwa pengusiran itu  pendeta Theo masih di Jemaat GPIB  Maranatha  Banjarmasin,  ia bersama penatua Melly Titahelu , berkunjung  ke rumah Om Kussoy, menyangkut anaknya dalam penggenbalaan dalam  urusan pernikahan.

Setelah mereka sampaikan “ masalahnya,” om  Kussoy kaget dan belum siap menerima  keadaan yang terjadi, sehingga beliau emosi,  memukul meja kacanya    hancur brantakan, mengusir para hamba Tuhan ini : keluar….keluar..dan .keluar… Penatua Melly Titahelu langsung  keluar dan  pulang, tinggallah Pdt. Theo seorang diri, tapi sesudah  emosinya mereda Om Kussoy minta maaf, Pen. Melly Titahelu pun kembali lagi dan mereka melanjutkan percakapan dengan tenang dan berhasil menyelamatkan  dan  menikahkan putrinya dengan seorang pemuda  Gereja secara sah  hukum gereja dan sah hukum Negara.

D O A  BERSAMA OM  ONG.WALU JAM 12.00 MALAM  DI GEREJA

Beliau adalah sosok seorang yang rajin dan perhatian, jika  sedang kebaktian minggu dan  tidak ada kursi untuk mereka yang terlambat, ia sangat perhatian dan melayani mereka dengan  sungguh-sungguh.

Pengakuan yang tulus dan mohon pembaharuan kepada Allah

Tapi Om ini punya kelemahan  yang  harus  ditolong oleh orang lain  ialah : masalah  keuangan…dan sudah berlangsung bertahun-tahun, mungkin tidak ada yang berani  menegur guna memperbaiki kelemahannya ini.

Pendeta Theo berteman baik dengan dia karena rajinya, dimana mereka satu sektor, namun untuk  hal ini sangat sensitif, karena itu memerlukan pergumulan dan doa serta mencari waktu yang tepat,  agar  dapat menyampaikan kepadanya dengan kasih serta dia bisa menerima peneguran ini.

Mengumpulkan  data yang akurat, baik kolekte akhir tahun yang dibawa pulang kerumah dan lenyap begitu saja, maupun natal ABRI dan masyarakat, juga uang WVI untuk kios-kios  dllnya, semuanya ini tidak dapat dipertanggung-jawabkan,  belum lagi hal-hal yang kecil sesuai dengan laporan  teman majelis dan warga jemaat GPIB  Maranatha Banjarmasin.

Dalam perhitungan suara pemilihan penatua &diaken , ia mendapat suara terbanyak, tapi ada beberapa  surat masuk tentang kelakuan dan kelemahannya ini ditangan Pdt.Theo sebagai ketua panitia pemilihan Penatua & diaken dikala itu.

Om ini dipanggil untuk berdoa bersama jam 12.00 didalam gedung gereja, tepatnya dua kursi telah disediakan  didepan mimbar diatas altar dikaki depan  mimbar itu.

Puji Tuhan dalam penyampaian sesuai dengan data-data  tsb. diatas, dia tidak menyangkal, tetapi dia mengakui semuanya satu-persatu, bahkan dia berterima kasih  kepada Tuhan yang pakai Pdt Theo untuk memperbaiki kelemahan dan sifatnya yang buruk ini; Lalu mereka berdoa bersama dalam suasana  yang sangat hening ini.

DOA PERTOBATAN OM ONG.WALU.

Ya Tuhan baharuilah hambamu ini

YA TUHAN, HAMBAMU MENGAKU  BAHWA  HAMBA TIDAK DAPAT MEMPERTANGGUNG-JAWABKAN : UANG KOLEKTE AKHIR TAHUN,  UANG  WVI  UNTUK   USAHA  KIOS-KIOS,  UANG NATAL ABRI DAN MASYARAKAT; SERTA HAL-HAL YANG KECIL LAINYA

YA TUHAN HAMBAMU INI MOHON AMPUN ATAS SEMUANYA INI, DAN MENGUNDANG TUHAN YESUS …DATANG LAH … MASUKLAH DALAM HIDUP HAMBA  DAN BAHARUILAH HIDUP HAMBA DENGAN KUASA ROHMU YANG KUDUS.

HAMBA BERJANJI, TIDAK AKAN MENGULANGI LAGI SEMUANYA INI, KARENA ITU, TUNTUNLAH HIDUP HAMBA DALAM  KUASA  ROH KUDUS  & PEMBAHARUANMU… DALAM NAMA YESUS  HAMBA BERDOA  AMIN.

Doa ini kemudian ditutup  dengan doa tuntunan oleh Pdt Theo, sambil berjabatan tangan dan membuat suatu perjanjian kepada Tuhan  dalam hidup baru ini.

Ia berkata kepada Pdt Theo : terima kasih pak, selama ini tidak ada orang yang berani menegur dan menyampaikan kelemahan saya ini, hanya bapak yang berani menyampaikan dan mau menuntun  saya dengan  penuh kasih  dan dalam pimpinan Roh Kudus;  sambil menangis ia menyampaikan  kata-kata ini…yang sangat mengharukan itu.

LANGKAH YANG DITEMPUH  PDT THEO KEPADA  OM ONG.WALU

Pdt Theo sampaikan kepadanya dua pilihan untuk digumuli :1 .Mau bersaksi  dalam penyegaran  iman (Maranatha Banjarmasin  waktu itu, tiap bulan diadakan penyegaran iman)    2. Berdiam diri selama satu periode (4 tahun), sambil bergumul memperbaiki diri dan melayani sebagai warga jemaat saja.

Siap melayani Tuhan, walaupun bukan Presbiter adalah ciri jemaat missioner.

Pendeta Theo memberi waktu bergumul untuk  memilih satu dari antara dua alternatif ini selama dua minggu, setelah berjalan dua minggu ia datang menyampaikan bahwa ia  memilih berdiam diri selama satu periode  ( empat tahun) dan setelah itu, jika terpilih ia siap untuk melayani Tuhan….pada periode  berikutnya dijemaat ini.

Puji Tuhan  Om ini  tetap melayani sebagai warga jemaat yang aktif, sampai pdt Theo pindah,…..dialah yang mengurusi barang-barang pindahan dari rumah  sampai di lapangan terbang.

Adakah  peristiwa seperti cerita diatas masih  terjadi  dalam kehidupan dan pelayanan jemaat-jemaat  masa kini ?…saudara bisa jawab sendiri….. dan kalau ada,  apakah saudara sebagai pendeta berani mengambil langkah iman untuk menolong mereka ?

Memang  langkah tsb penuh resiko, tetapi jika digumuli dalam doa pada Tuhan, Ia akan menolong anak-anakNya dan itulah yang harus kita tanggung, untuk melayani dan menolong warga jemaat yang terjerumus dalam  lembah kekelaman itu,  siapakah yang berani turun ke dalam lembah itu, untuk  mengambil   dan menyelamatkan mereka ?  saudara dan saya yang telah  dipanggil,… diselamatkan… dan diutus …untuk melayani Tuhan Yesus dengan penuh resiko dan pengorbanan  seperti  teladan Yesus….Paulus..dstnya.

LAHIRLAH ANAK : ” AGUSTIEN MANACHIEN NATUMNEA.”

Pergumulan demi pergumulan  karena nyora Nelly keguguran berturut-turut dua kali

Lahirlah anak ke-3 “Agustine Manachian Natumnea”, bulan agustus Manachian (bahasa timor) artinya Hikmat……ia digendong oleh ibu Ary Lalamentik

karena kandungannya tidak kuat dan terlalu sering mendampingi tugas suami dengan boncengan motor  di Banjarmasin namun Tuhan sayang kepada keluarga hamba Tuhan ini, sehingga lahirlah anak ketiga dan diberi nama “Agustien Manachien Natumnea (Nani) pada tanggal  3 Agustus 1986.

Inilah penjelasan namanya : Agustien karena bulan agustus, Manachien artinya hikmat (bahasa  timor )  Natumnea Fam  atau marga dari timor Amarassi, sedangkan Nani (Nanin) nama panggilan yang diberikan Bai (opa) Maleachi Natumnea ketika ia berumur  satu tahun, waktu mereka cuti besar ke Timor, Kupang.

Akhirnya tiga nona yang Tuhan karuniakan kepada keluarga Pendeta Theofilus Natumnea, kita orang  beriman menerima bahwa apa yang diberikan oleh Tuhan itu baik adanya, tinggal kita membesarkan,  mendidik, membina dan mengarahkan supaya  mereka bertumbuh dengan baik, fisik, mental dan rohaninya,  kiranya berkenan dan memuliakan nama Tuhan.

CUTI BESAR KETIMOR-KUPANG.

kalo orang timor dan ambon dipelabuhan langit menjadi mendung

Untuk mendapat penyegaran dari kepenatan , kecapean dan rutinitas   dari pelayanan,

sambil mengail diKM Dobon Solo mereka mengarungi lautan sampai ke Pulau Timor, tanpa dapat seekor ikanpun.

maka  Pdt Theo dan keluarga cuti besar tiga bulan guna mendapatkan penyegaran kembali, serta  mempererat tali persaudaraan dengan orang tua dan keluarga di Kupang Timor.

Mereka naik dan berlayar dengan kapal laut dari pelabuhan  Trisakti Banjarmasin , Semarang , Batu licin, Surabaya, Ende  Flores, Waingapu  sumba dan akhirnya pelabuhan Tanau  Kupang tujuan terakhir  pelayaran mereka untuk menjalani cuti dikampung halaman Nubraen Merbaun-Baun-Amarassi tempat kelahiran Rassi Ninu ini termasuk termasuk  tempat lahirnya  Prof. DR. J.L.Ch. Abineno (Baun).

Di Nubraenlah Bai Ninu memanggil dan memberi nama panggilan Nani bagi si bungsu ini, dan nama ini sebelumnya dipanggil oleh Bai Ninu :” Nanin”, kemudian dipertegas menjadi” Nani”, nama panggilan yang dipakai sampai sekarang ini.

MENERIMA  VIKHARIS DAN MENJADI MENTOR PERTAMA KALI.

Dulu, tidak ada pembinaan bagi mentor dan Vikharis, seperti sekarang ini sampai menerima 2 vikaris baru mulai adanya pembinaan, alangkah bahagianya para mentor dan vikharis yang  menerima pembinaan, karena  langkah ini sangat berguna  untuk  mentor  dan vikharis, walaupun tidak mendapat pembinaan, tetapi secara naluri berdasarkan pengalamannya ,  menjadi Vikharis serta pengalaman pelayanan, maka  tugas-tugas  mentor dan vikharis berjalan dengan baik sampai selesai.

Tanpa Pembinaan mentor dan vikaris oleh Majelis Sinode, Pdt Theo dapat membimbing Vikaris sampai di teguhkan menjadi Pendeta

Memang ada  kerikil-kerikil kecil dalam  perjalanan tugas itu, tetapi dalam  kasih  dan inter –aksi yang fleksibel, semuanya dapat diselesaikan dengan baik,  untuk membangun  dan mempersiapkan  kader generasi penerus dalam kepemimpinan GPIB  luas dan besar dalam kepelbagaian serta kompleks dalam pergumulan ini.

Dalam   kerangka itulah, maka Vikaris  Vony Pattipeilohy  ditempatkan  di bagian jemaat GPIB  Guntung Payung, guna  mempersiapkan  pendewasaan bagian jemaat tsb

Posisi  Guntung Payung adalah pinggiran dari kota Banjarbaru yang berbatasan dengan  Martapura yang mendapat jelukan” Serambi Medina”

Jadi hari-hari hidup dan pelayanan kami bersinggungan  langsung dengan  Martapura serambi Medina  itu, dimana vikaris tinggal dan melayani dalam Jemaat dan masyarakat itu.

PENDEWASAAN JEMAAT GPIB  EFFATA GUNTUNG PAYUNG.

Berbatasan dengan Martapura-Serambi Medina

Vikharis Vony Pattypeilohy  bertugas untuk menyiapkan  buku-buku menurut tata gereja dan menuntun mereka untuk menyusun program kerja, sehingga  Majelis Jemaat GPIB maranatha mengenal  wilayah secara rinci  dan  kemampuan mereka secara ekonomi, serta kesiapan warga jemaat dan Majelis jemaat untuk menuju pendewasaan jemaat, sesuai ketentuan Tata Gereja GPIB.

Program ini secara rinci dan teratur dilaporkan oleh Majelis jemaat GPIB Maranatha Banjarmasin ke Majelis Sinode GPIB, sehingga laporan itu diteliti secara saksama, dan terjadilah  kemonikasi dua arah serta  persetujuan pendewasaan bagian Jemaat Effata.

Pihak Majelis Sinode mengutus Pdt. Sentosa Mandik S.Th, selaku  sekretaris Majelis Sinode untuk a/n Majelis Sinode GPIB mendewasakan bagian jemaat ini menjadi jemaat  Effatha.

Effatha artinya terbukalah, demikianlah nama yang digumuli dan diberikan kepada jemaat baru ini, dengan harapan  semakin terbuka pelayanan yang terbentang begitu luas  disekitar  jemaat baru ini, karena batas-batasnya  terbuka dari arah utara, selatan , barat dan Timur diwilayah Banjarbaru yang berdekatan dengan  Martapura serambi Medina ini.

Utusan Pemerintah daerah propinsi Kalsel diwakili oleh pembatu gubernur Banjarbaru-Martapura (Serambi Medina) Bapak Drs. Gurusinga adalah  anak Tuhan, warga jemaat GPIB Maranatha Banjarmasin juga.

KENDARAAN DINAS ADALAH SEBUAH SEPEDA MOTOR TUA

Kalau kendaraan dinas di Banda Aceh sebuah sepeda tua, maka kini meningkat kendaraan dinas di  Banjarmasin  adalah sebuah sepeda motor tua( Honda bebek) berwarna merah,  motor inilah walaupun  batuk-batuk jika dijalankan…tapi  inilah kendaraan   yang mengantarkan  Pdt Theo untuk pelayanan di kota yang  dikelilingi sungai ini.

Motor inilah yang membawa Pdt. Theo keliling melayani Banjarmasin, kota sungai itu

Pelayanan dan perkunjungan  tetap berjalan, bahkan bertambah semangat untuk meningkatkan  partisipasi warga jemaat yang sudah lebih dari enam bulan ditinggalkan  oleh  pelayan firman yang lama, dalam pergumulannya.

Untuk menambah semangat Pdt Theo, maka  majelis jemaat membeli sebuah sepeda motor baru Suzuki yang lebih tinggi  dan berkekuatan lebih cepat dari Honda bebek.

Motor inilah alat transportasi yang tepat untuk bergerak kesana –kemari, terutama menjangkau dua bagian jemaat diluar kota yang jaraknya puluhan km,  yaitu Effatha Guntung payung dan  Imanuel syamsudinur (Lapangan Terbang AURI)

Pelayanan ke  Effatha Guntung payung dan.Imanuel syamsudinur(lapangan terbang)  tetap berjalan baik kebaktian minggu maupun kebaktian keluarga, walaupun jaraknya cukup jauh untuk ditempuh yaitu 25-30 km, tetapi semangat pelayanan  pendeta yang muda ini  tetap  ada dalam dadanya,  karena Yesus terlebih dahulu sudah menjamah dan melayaninya.

TERJATUH DAN TERTINDIH SEPEDA MOTOR SUZUKI DIATAS JEMBATAN KAYU.

Dalam suatu kunjungan keluarga yang haus melewati jembatan kayu licin karena hujan, maka  ia terpelecok,  terjatuh serta tertindih dengan sepeda motor itu.

Bunyi sepeda motor itu semakin keras,    aduh….. aduh… aduh…   tolong…….tolong……tolong……..maka keluarlah pemilik rumah yang akan dikunjungi itu, segera  membantu dan mengangkat  motor   dan  Pdt Theo yang tidak berdaya dan tidak bisa bangun sendiri.

Diselamatkan oleh pemilik rumah, ketika tertindih dengan motor diatas jembatan kayu 3 papan

Puji Tuhan, Pertolongan Tuhan tepat pada waktunya, dimana pemilik rumah dan jembatan  kayu  itu  adalah warga jemaat  yang sedang berada dirumah itu   segera memberikan pertolongan  tepat pada waktunya, sehingga terhindar dari bahaya karena bensin sudah menetes dibadannya..

Itulah suka duka pelayanan dan perkunjungan dikota yang  ketinggiannya  dua   meter dibawah permukaan air laut dan dikelilingi  sungai dimana terasa pasang surut air laut air mengalir ke hulu dan ke hilir ini…terasa  dan kelihatan pergantian  aliran  airnya.

 BERKAT TUHAN TAK TERDUGA  & TAK TERPIKIRKAN.

Dalam pelayanan, kita dituntut untuk melayani Tuhan tanpa pamrih,  pasti Tuhanlah  memperhatikan  dan melengkapi kebutuhan  hidup anak-anaknya, dan  Ia tidak pernah meninggalkan mereka bergumul sendirian.

Tak pernah terpikirkan dan terharapkan, Berkat Tuhan melalui anak-anak Tuhan datang dengan sendirinya

Untuk kebutuhan sehari-hari Tuhan memakai kel. Ginting (bea cukai)  untuk mengirimkan  kebutuhan dapur setiap bulan, jadi  untuk mengelola gaji Rp. 300.000 dalam  belanja bulanan, nyora Nelly bebas mengeluarkan uang.

Tuhan pernah pakai keluarga Edy yang hanya ketemu ditengah  jalan ketika cuti di Balikpapan, ia bertanya: pak Theo kapan datang…dan kapan pulang ,  nanti saya siapkan tiket pulang ke Banjarmasin ya….,tolong sampaikan nama – nama anggota keluarganya, termasuk pembantu ditanggungnya tiket Bouraq  untuk kembali ke  Banjarmasin..Ternyata  pak Edy ini adalah anak mantu bapak Lalamentik, kenal ketika Pdt Theo pimpin kebaktian nikah mas ( 50 tahun ) Bapak dan ibu Lalamentik di Banjarmasin.Pak Edy tanda betul pdt Theo, ketika ketemu dipersimpangan jalan…..ia naik Vespa dan bercelana pendek….namun pelayanan kasihnya..luar biasa.

Keluarga baru yang tidak dihafal namanya karena hanya ketemu sekali dalam kunjungan,  pindahan  dari mabes polri ke polda kalsel, masih berstatus menunggu dan tinggal di mes polda kalsel,   ketika masuk kegereja dan dikunjungi pdt theo. Di mes  polda itu.  Keluarga  ini suami katholik dan isteri protestan (GPIB) kemudian mereka ditempatkan diKapuas, suaminya menjadi kapolres  Kapuas…Ketika mendengar kepindahan pendeta Theo,  ia mengirimkan tiket Bouraq untuk Banjarmasin – Semarang semua anggota keluarga termasuk keponakan yang pindah ke semarang, Jawa Tengah ini..heran ajaib.

Keluarga Rada Mahar telah aktif sebagai warga jemaat GPIB Maranatha, ketika beliau tahu bahwa Pdt. Theo akan pindah  ke Semarang,   datanglah pak Rada Mahar ke pastory gpib,     selain memberikan berkat Tuhan, ia menanggung  triplek tebal untuk peti barang-barang dan semua barang  pindahan diambil dari rumah pastory gpib Banjarmasin dan terima di Rumah pastory gpib  Semarang,  puji Tuhan bahwa Tuhan berkati keluarga ini bersama semua keluarga yang melayani Tuhan dengan memperhatikan  kehidupan dan pelayanan hamba Tuhan…Terpujilah Tuhan Yesus.

MEMBUKA    DAN  MELAYANI   : TIGA JENIS POS PELAYANAN.

  1.  Pos Pelayanan  Terapung.

    5 orang lebih diatas kapal, Pen. Warkor menghubungi, untuk mereka segera kebaktian.

    Semua kapal  yang sandar  dipelabuhan Tri sakti   Banjarmasin, dan memiliki abk yang beragama Kristen  5 orang keatas, diminta oleh koordinator pospel terapung untuk kontak  dengan  kapal  yang lain dan menginformasikan bahwa nanti  diadakan kebaktian  Kristiani.   Dinamika ini  ditempuh, karena memahami  filosofis perjuangan  mereka bahwa  abk kapal laut yang sandar itu, telah ditempa oleh angin dan ombak berhari-hari  dalam pelayaran disamudera raya,  mereka memerlukan pelayanan rohani, untuk memberikan kesejukan dan menyadarkan bahwa Tuhan ada  dan menyertai  umatNya. Penatua Warkor  adalah koordinator  pospel Terapung ini, ia menguruskan  pas bebas masuk keluar pelabuhan Trisakti,  sehingga Pdt Theo  dan Pen Warkor memiliki pas bebas  masuk keluar pelabuhan untuk pelayanan rohani  pospel terapung ini.Pelayanan ini menjalankan dua kantong kolekte ketika ibadah,  untuk kas gereja dan kas  pospel terapung ini ,  guna memudahkan praktisnya pelayanan yang serba mendadak ini; jika  jam ini diberitahukan bahwa ada kebaktian di kapal, maka segera direspon oleh tenaga yang tersedia dan siap melayani.  Banyak jiwa dilayani melalui Pospel terapung ini dan ….dari abk  hampir semua mengenal GPIB Maranatha  Banjarmasin dan berbakti pada hari minggu, jika kapalnya masih sandar dipelabuhan Trisakti.

  2. Pos Pelayanan  Transmigrasi.

    Pos transmigrasi didaerah Kalsel

    Roh Allah bekerja bagi para transmigran yang mengalami kesulitan beribadah. Ketika mendaftarkan diri dikampung sebagai calon transmigran (dijawa) mereka dipaksa untuk mengaku sebagai agama  islam… Tetapi mereka sembunyikan  surat baptis, sidi dan nikah gereja dalam lobang bambu (alat pikulan barang), setelah sampai dilokasi transmigrasi, mereka pecahkan bambunya dan ambil surat baptis, sidi dan nikah gereja . Jumlah mereka cukup banyak untuk mencari gereja di kota, dimana GPIB Maranatha  Banjarmasin meresponnya , terjadilah komunikasi dua arah , baik wakil-wakilnya yang   ikut kebaktian dikota maupun pihak Penatua dan Diaken jemaat GPIB Maranatha Banjarmasin. ..  Semua  sepakat  untuk membuka pos pelkes Transmigrasi. Pelayanan pos pelkes transmigrasi  Trantang ini berjalan sesuai dengan kesiapan mereka dan respon  dari majelis, dimana wakil-wakilnya turut diteguhkan menjadi Majelis  jemaat ,  merupakan kader pelayanan yang mendayagunakan  tenaga setempat untuk  bertanggung jawab dalam pelayanan tsb.

  3. Pos  Pelayanan suku Terasing.

    Pos Pelkes Suku terasing Pegunungan Meratus

    Batu kembar adalah pos pelayanan  GPIB jemaat Maranatha Banjarmasin yang berada diatas pegunungan Meratus dapat ditempuh  hanya sehari perjalanan dari kota  Banjarmasin. Naik kendaraan melewati  Banjarbaru…,Martapura (Serambi Medina) dan selanjutnya menuju ibu kota  Hulu sungai tengah (HST) Barabai…. masuk kekecamatan  Meratus dan  sekitar 25 km berhenti di pos penebangan kayu. Warga Batu Kembar sudah siap  menjemput untuk jalan kaki sekitar 10 km,… sampailah di Pos Pelkes Batu Kembar yang  asri itu. Baptisan pertama dilaksanakan dirumah kepala Desa , yang masih memeluk “agama keharingan”  tapi hatinya dalam Tuhan Yesus. Hari itu diadakan baptisan masal, warga desa  lebih dari separoh desa itu serahkan diri untuk dibaptis,  melalui pembinaan selama setahun oleh Motivator  Adrianus yang ditempatkan  oleh Majelis Jemaat untuk  praktek dan melayani Tuhan  di sana.

Hari itu ada peristiwa yang luar biasa, karena Roh Allah bekerja bagi desa batu Kembar, bahkan  kebaktian … sudah masuk pengutusan (warga jemaat  berdiri untuk menerima berkat) pun masih ada orang yang datang terlambat dari kebunnya yang jauh …MINTA DENGAN SANGAT UNTUK DIBAPTIS HARI INI ….Terpaksa jemaat yang sudah berdiri untuk menerima berkat ini…. duduk kembali, untuk melayani dan membaptiskan   orang tua ini; ternyata dia adalah seorang dukun yang bertobat,  juga seorang tokoh berpengaruh didesa itu,  puji Tuhan semua acara baptisan berjalan lancar dan aman…dirumah kepala desa  batu kembar ini.

ORANG TUA ASUH DAN ANAK  ASUH.

Tantangan yang harus segera dijawab Majelis Jemaat adalah bagaimana menyelamatkan serta mengaderkan  putra- putri daerah didesa itu.Data menunjukan bahwa anak-anak itu  setelah lulus SD di kampungnya,  mereka putus sekolah dan kerja kebun, Karena itu Majelis jemaat  memprogramkan   OTA ( Orang tua Asuh) yang siap menerima Anak Asuh dari Batu Kembar dan tinggal bersama OTAnya sambil bersekolah membantu keluarga sebagai bagian dari anggota  keluarga.

Warga GPIB Maranatha, menjadi Orang Tua Asuh, a.l Kel. Djoko Sumardi (menerima 2 anak untuk disekolahkan)

Kepada warga jemaat GPIB Maranatha Banjarmasin disebarkan  formulir (OTA)  Orang Tua Asuh , mereka merespons dengan baik dan menerima  Anak Asuh, yaitu anak-anak  dari Pos Pelkes Batu Kembar yang tamat SD disekolahkan  di Banjarmasin untuk membudidayakan  anak Batu Kembar menjadi lebih tinggi lagi,  setaraf dengan anak Indonesia lainnya. Beberapa   Keluarga penerima anak asuh dari Batu Kembar (pos Pelkes) adalah Kel Dr Siagian- Tobing yang menerima tiga anak dan  keluarga. Djoko Sumardi yang menerima  dua anak…..yl  tiap keluarga menerima satu atau dua keluarga menerima satu anak.  Keluarga  Joko Sumardi  saat ini  mereka berdomisili di Bekasi,  menjadi anggota jemaat gpib gloria, bahkan pak Joko sumardi adalah anggota majelis jemaat gpib gloria Bekasi.

BERTEMU IR SUGANDONO DI POS TERAKHIR  BUDIDAYA PERKEBUNAN  KOPI  & COKLAT.

Ternyata Ir Sugandono adalah anak Tuhan, bertobat pada waktu Pdt Theo

Pertemuan yang indah, di perkebunan Batu kembar peg.Meratus, tak disangka. Ir. Gandono dan Keluarga percaya Yesus waktu  Theo & Ishak, PI di perkebunan mboso-Kediri & Tulung Agung

praktek dari I3 Batu Malang ke Tulung – Agung kecamatan Sendang  Perkebunan Mboso, Tuhan membuat mujizat melalui peristiwa isterinya ny. Sugandono)  hamil anak ketiga  yang dilarang dokter, karena  anak I dan II lahir secara  bedah dan saran dokter untuk anak ke III jaraknya jauh, ternyata sangat dekat jarakya dan…. Disitulah  Roh Allah bekerja sehingga , ada kesempatan campur tangan Tuhan, melalui mujizat Tuhan Yesus….bagi mereka

Berkat ketekukan doa  dan kunjungan rutin  Theofilus Natumnea dan Ishak Mulyono (masih mahasiswa)   kuasa  Allah bekerja  untuk pelayanan dan pelebaran  Injil Yesus Kristus  , ibu ini melahirkan dengan normal dan  selamat Di RS  Baptis  Kediri, dan anak ini diberi nama Theo. Untuk mengenang pelayanan Theofilus Natumnea dan Ishak Mulyono praktek mahasiswa dari Institut Injil Indonesia  Batu –Malang tahun 1972 waktu itu.

Pertemuan ini sangat indah dan menyenangkan, karena Yesus mempertemukan  Pdt Theo dengan  keluarga yang pernah dilayaninya yaitu Ir Sugandono, Ibu, dan anak-anak, terutama  anak Theo itu sudah kelas III SMA negeri  di ibu kota Hulu Sungai  Tengah (HST) merupakan pertemuan penambah semangat pelayanan…&  penginjilan  di pos pelkes suku terasing ini.

Semuanya itu  indah pada waktunya, sehingga ada kerja sama yang  erat antara GPIB Maranatha Banjarmasin  dengan perusahaan penebangan kayu serta  anak perusahaan  perkebunan kopi dan coklat karena kuasa Tuhan…melalui driekturnya Ir sugandono ini.

MEMBUKA KEBUN   GPIB  DI  BATU  KEMBAR.

Pendekatan  dengan kepala desa Batu kebar  berjalan baik, karena itu  GPIB mendapat sebuah bukit yang terdapat sumber air dan sungai kecil yang mengelilingi bukit kebun  kelapa pelkes GPIB itu.

Pada waktu perkunjungan Sekretaris Majelis Sinode GPIB , Pdt. C. Wairata S.Th, yang adalah mantan mentor dan wali ketika pdt Theo menikah diBalikpapan, beliau didaulat untuk membuka dan meresmikan  penanaman  kebun itu dengan  menanam bibit kelapa perdana, sebagai tanda dimulainya kebun GPIB.

Bibit pertama ditanam oleh Pdt. C. Wairata, Sekum MS GPIB, bibit Kedua oleh Pdt. Theo, KMJ GPIB Maranatha Banjarmasin, selanjutnya oleh Tokoh masyarakat di Kebun Kelapa Batu Kembar, Peg. Maratus. Kalsel

Selanjutnya  bibit kelapa yang kedua oleh Pdt Theo dan tokoh-tokoh masyarakat setempat dari jemaat Pos Pelayanan  dan kesaksian Batu kembar  di Pegunungan  Meratus ini.

GPIB  sudah memiliki kebun dimana-mana, ini adalah  permulaan yang baik, karena permulaan yang baik adalah separoh keberhasilan, sehingga jika terjadi krismon, kekurangan dan kelaparan , diharapkan pospel ini tidak meminta dari kota , tetapi memetik sendiri dikebunnya untuk kebutuhan hamba Tuhan  ditempat ini.

Bahkan  jika terjadi perang  nuklir bercampur kimia, maka GPIB sudah memiliki   kebun kelapa disekitar hutan  Pegunungan  Meratus yang dikelilingi air sungai meratus yang jernih itu….bisa berkemah, bersembuny, tanpa kekurangan air dan kelapa disekitarnya.

SEJAK ADA KEAMANAN, KAMI TIDAK AMAN.

Demikianlah kata-kata dari  warga  suku terasing – Batu Kembar, yang mengalami perubahan sikap, karena sejak ada polisi didesa itu mereka merasa tidak aman.

selain bertani warga batu kembar mencari tambahan: menjual kayu gaharu, yg sering dipajak oleh oknum keamanan

Apa penyababnya ? Rupanya sebelum ada polisi di Batu Kembar, jika mereka mencari dan mengumpulkan  kayu gaharu yang harum dan mahal harganya  itu , bebas dibawa ke pasar atau langganan di kota Banjarmasin, tetapi sejak adanya polisi menjaga di Batu Kembar, justru mereka dipajak habis-habisan, sebelum barang jualannya yaitu kayu gaharu itu dibawa untuk dijual kelangganan di kota.

Apa boleh buat kata mereka, harus berbagi  sama pak polisi, karena itu timbulah  “anakdot”  “ sejak ada polisi dan keamanan, kami tidak aman “ ,  ini merupakan fakta dan kenyataan yang  harus dijawab oleh keamanan dan polisi, supaya rakyat rasa aman dinegeri  dan dikampung sendiri.

MENGIKUTI  P4 TINGKAT PROPINSI DIBANJARMASIN

semua tokoh masyrakat di Kalsel termasuk Pdt. Theo mengkuti Penataran P4 tingkat Pripinsi

Sebagai warga Negara yang baik dan bertanggung jawab, maka   pdt Theo merespons surat dari badan pembinaan P4 tingkat Propinsi Kalsel, serta mengikuti pembinaan tsb.

Dalam pembinaan  hadir dari berbagai unsur al. seorang haji muda dari Barabai yang sangat kreatif dan   energik yang berwawasan luas dan berpandangan positif dalam segala gejolak yang terjadi dalam masyarakat. Ia berteman baik dengan Pdt  Theo, walaupun kadang kala beda pendapat dalam  diskusi, sehingga membuat diskusi itu fleksibel dan hidup.

Pdt Theo dapat mengikuti  pembinaan P4 tingkat Propinsi ini dengan  baik dari hari kehari sampai selesai, semakin lama mengikuti, semakin banyak teman yang akrab dalam diskusi-diskusi yang hangat soal  kehidupan  agama-agama dan kemasyarakatan di Kalimantan selatan ini.

BERPELUKAN  AKRAB DENGAN PAK HAJI,  DALAM ACARA IDUL FITRI.DIRUMAH KAPOLDA KALSEL.

Bersalaman dan berpelukan dengan Pak Haji bersorban putih dalam suasana lebaran di rumah Kapolda Kalsel, yang dihadiri tokoh masyarakat lainnya

Team  jemaat GPIB Maranatha   Banjarmasin  menghadiri  acara   open hause  Idul fitri,  Muspida tkt  I  Banjarmasin. Setiba di rumah kapolda , ia bertemu dan  berpelukan akrab  serta hangat dengan pak haji yang bersorban putih  dikepalanya,   rupanya pak haji ini  adalah teman baiknya  pada waktu mengikuti P4 tingkat Propinsi, sehingga membuat suasa  lebih enak ,  indah dan sejuk , kerena kedua tokoh  agama yang berbeda ini berpelukan  akrab dalam acara idul fitri yang dihadiri oleh tokoh-tokoh daerah seKalimantan Selatan ini.

Suasana seperti ini lah yang harus terus diciptakan oleh generasi penerus dalam melanjutkan kepemimpinan Gereja dalam masyarakat Indonesia  yang majemuk ini

Kalau  terjadi pertemanan dan keakraban antara para tokoh agama dalam suatu daerah, maka tidak akan cepat termakan isu agama dlsbnya, karena cepat diredam oleh para tokoh agama itu,…dengan wawasan pancasila dan wawasan lainnya  yang luas…. Bahwa kita berbeda-beda, tetapi adalah satu bangsa yaitu Indonesia.

BELANJA DI PASAR TERAPUNG.

Setiap  tugas untuk memimpin kebaktian di pabrik kayu, selalu melewati pasar terapung bersama Nelly isteri tercinta, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, perahu yang ditumpangipun  mendekat pasar, terlihat sampan-sampan  yang isinya  barang barang belanjaan, seperti jeruk,ayam,gula, dlsbnya seperti sebagaimana layaknya sebuah pasar, beli…beli…beli  ..teriakan dari ibu-ibu di sampan itu, merekapun membeli jeruk untuk makan sepanjang jalan sambil  menyingkirkan  rasa bosan diatas perahu motor itu.

Dalam perjalanan kebaktian Oikumene, Klotok (Perahu Besar) merapat di Pasar Terapung,….. Pdt. Theo dan Nelly belanja Jeruk untuk perjalanan, sambil mengusir kebosanan di sungai

Bahkan  sering  membawa pulang sebagai oleh-oleh dalam perjalanan kerumah atau membagikan kepada teman,  seperti kepada  Prof Drs Alex Koroh, dosen UNLAM  Banjarmasin adalah juga putera Merbaun – Baun  Amarassi dari kampung halaman Timor

Pasar ini sangat terkenal sebagai pasar wisatawan domestic dan juga manca Negara, karena  sering dikunjungi oleh touris local, domestic dan touris asing.

KACA MEJA KANTOR GEREJA DIHANCURKAN.

Pada suatu saat ia menerima seorang  tamu adalah suami bendahara jemaat, yang melaporkan tentang keterlabatan isterinya selesai rapat untuk pulang

Tiap rapat beliau menunggu diluar untuk mengantarkan isterinya kembali kerumah.

Pada waktu itu suasana hangat oleh keuangan  jemaat dalam keadaan kacau, karena salah seorang anggota PHMJ pinjam uang kas Jemaat, utuk mengisi kas uang kantornya yang kosong itu pembahasannya agak lama.

dipecahkan kaca dan diambil sebilah kaca untuk melemparkan kepada Pdt Theo, karena rapat PHMJ sering hingga larut malam

Besoknya dia bertamu diruangan kantor pdt Theo, dengan emosi ia memukul kaca meja  kantor gereja sampai hancur brantakan.

Secara bijaksana Pdt Theo  bertemu dengan panglima  kodam Mulawarman, karena dia adalah seorang perwira menengah, namun secara  bijaksana pula panglima menyampaikan bahwa  kepada mereka yang tidak mempunyai  jabatan karena pengkerdilan  kerucut jabatan, sehingga ia frustrasi dan ditumpahkan kepada bapak pendeta, jadi saya  atas nama  kodam minta maaf atas kekeliruan perbuatan anggota kami itu.

GPIB MARANATHA  MEMBELI SEBUAH DANAU  DI BANJARMASIN.

Danau ini di timbun 400 truk dibawah pengawasan Om Kussoy untuk membangun serba guna GPIB Maranatha Banjarmasin

Dalam rangka membangun gereja ,  ketika gereja lama akan dibongkar umat harus tetap berbakti, dari latar belakang filosofis pemikiran inilah,  maka panitia membeli sebuah danau kecil dilingkungan  perumahan perwira AD Banjarmasin.

Danau kecil ini ditimbun tanah merah sebanyak 400 truk, yang  diawasi  0leh om Kussoy teman majelis Jemaat yang aktif  menolong panitia pembangunan.

Panitia menanam kayu tiap  coran  tiang  25 batang  kayu,  sedalam 10 meter sebagai sistim   cagar ayam,   sehngga fondasi  serba guna ini semakin kuat menahan beban rumah serba guna  yang akan dibangun.

Gedung serba guna inilah nantinya akan menjadi tempat kebaktian  sementara, ketika gedung gereja  dibongkar untuk dibangun total yang membutuhkan biaya yang besar serta waktu yang cukup lama, maka langkah ini  memberi  semangat kepada warga jemaat untuk sambil beribadah, membangun  gedung gerejanya.

KERJA SAMA DENGAN WVII

World Vision International Indonesia adalah suatu badan  yang membantu warga jemaat dan masyarakat dalam proyek-proyek kecil, karena itu Majelis Jemaat  GPIB Marantha  bekerja sama dengan WVII dimana  kepala wilayah Kalimantan adalah bapak Gideon , teman kuliah di Institut injil Indonesia.

Kanwil Word Vision International di Indonesia, Bpk Gideon (teman kuliah I3 Batu Malang), melalui Pdt. Theo, membantu tiap kios di kota Banjarmasin, setiap kios mendapat Rp. 500.000.

Semua kios disekitar  kota Banjarmasin mendapat giliran untuk penyaluran bantuan tsb, tidak mengenal agama, suku dan latar belakang, tapi semuanya mendapat bantuan secara bergilir tiap kios mendapat bantuan Rp 500.000…. dipandang sungguh besar, karena gaji Pendeta Theo dikala itu  sebulan hanya Rp.300.000   saja.

Pelayanan ini adalah  kepedulian gereja bersama WVII untuk membantu   masyarakat dalam mengembangkan  usahanya secara bertanggung jawab  guna menumbuhkan  ekonomi masyarakat kecil.

MENGUNJUNGI KELUARGA  IR RADA MAHAR.

Setiap kebaktian minggu ada seorang bapak dan ibu yang duduk berdampingan, mengikuti kebaktian sampai selesai, hal ini diperhatikan  dan dipelajari cukup lama, tapi ketika bersalaman dengan jemaat ia tidak ada.

Terpenuhilah kerinduan Kel. Ir. Rada Mahar, untuk dikunjungi seorang hamba Tuhan

Kehadirannya bukan hanya sebulan dua bulan , tetapi berlansung terus sampai setahun, karena itu dalam salam sehabis kebaktian minggu, ada petugas majelis menemuinya dan minta untuk berdoa bersama serta perkenalan di konsistori. Pdt Theo minta alamat bapak dan ibu ini untuk diadakan perkunjungan keluarga.

Perkunjungan perdana dilaksanakan dalam suasana kekeluargaan, isi hatinya  dibukakan, beliau mengatakan :” bahwa  selama ini banyak pendeta yang datang , tetapi hanya pada waktu  hari raya natal dan tahun baru, sebagaimana kita umat Kristen merayakan natal dan tahun baru, dan…. Baru kali ini saya dikunjungi  secara perkunjungan jemaat oleh Pdt Theo dan ibu, untuk itu kehadiran saya di kebaktian minggu GPIB tidak hanya sampai disitu, saya akan mendafdarkan diri sebagai warga jemaat GPIB maranatha  Banjarmasin.” Demikian kata –kata yang diucapkan oleh Ir Rada Mahar.

Selanjutnya proses berjemaat berlangsung dalam suasana kekeluargaan, sehingga tidak hanya kebaktian minggu, tetapi juga kebaktian keluarga baik menerima maupun mengikuti kebaktian tsb secara aktif, sebagaimana warga jemaat lainnya.

MENJADI WAKIL KETUA MUPEL KALTIM – SEL.

Menjabarkan kehidupan bermasyarakat sebelum melayani.

Dalam pemilihan kepengurusan Mupel kaltim-sel, ia terpilih sebagai wakil ketua Mupel  kaltim-sel yang meliputi dua propinsi yaitu Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Dalam kaitan tugas tsb diatas ia sering kali ke Balikpapan untuk  rapat rutin pengurus atau  musyawarah secara lengkap yang dihadiri oleh jemaat sekaltim – sel ini….bahkan konsultasi nasional.

Program kerja  mupel kaltim – sel , dipandang lebih efektif dan efisien jika  mupel kaltim-sel ini dimekarkan menjadi beberapa Mupel yaitu; kaltm I, mupel kaltim II, mupel kaltim III dan mupel Kalsel.

Pemekaran mupel ini  beberapa tahun diprogramkan tetapi tertuda karena adanya prokontra, namun akhirnya disyahkan pemekarannya, sehingga keefektifan kerja mupel-mupel ini semakin   Nampak diwilayahnya .

MENJADI KETUA  MUSYAWARAH PELAYANAN ( MUPEL ) KALSEL.

Setelah disyahkan pemekaran  mupel kaltim-sel menjadi 4 mupel, maka ia menakhodai ( ketua ) musyawarah Kalimantan Selatan (Mupel Kalsel), yang beranggotakan tiga jemaat GPIB yaitu Maranatha Banjarmasin, Effatha Guntung Payung dan  Imanuel Kota baru.

Tantangan ini ia harus jawab dengan berkunjung ke jemaat-jemaat ini, bahkan mengirim buku stensilan yang ditulisnya sendiri  kepada semua presbiter  dari ke tiga jemaat ini , Berthema : “ JEMAAT MULA-MULA DAN GPIB PADA MASA KINI”, sebagai pedoman dan pegangan  untuk melakasanakan tugas dengan baik.

Buku  ini merupakan suatu tinjauan jemaat mula-mula dan perbandingan GPIB pada masa kini, untuk memperbandingkan dan menganalisis kekurangan dan kelebihan GPIB yang hidup dan melayani pada zaman modern ini.

MENJADI WAKIL KETUA PGI – WILAYAH  KALIMANTAN SELATAN.

Merangkul semua gereja untuk melayabi bersama baik anggota PGI atau anggota khusus PGI

Dalam Persidangan  PGI wilayah Kalimantan selatan, ia terpilih menjadi wakil ketua, suatu wawasan oikoumnenes yang menantangnya untuk menerima semua anggota PGI, baik yang beraliran protestan( Lutheran dan kalvinis dan lainnya) atau yang  beraliran pentakosta.

Kepemimpinannya yang berlatar belakang dan pengalaman di Daerah Istimewa Aceh ini,  menantang semua pengurus supaya berhati dan berwawasan luas, menerima semua gereja, baik yang induknya sudah anggota PGI atau belum anggota PGI, asalkan mereka menerima  anggaran dasar dan Rumah tangga PGI- wilayah Kalimantan Selatan ini.

Hal ini diterapkan   dalam fasal khusus, yang menampung aspirasi semua gereja, sehingga termuat dalam anggaran dasar PGI-wilayah kalsel ini.

Pertukaran mimbarpun mulai diperluas, tidak hanya gereja anggota PGI, tetapi juga gereja non anggota PGI, karena mereka sudah menjadi anggota khusus PGI –wilayah Kalimantan selatan, yang kiranya memuluskan jalannya untuk  mendorong induknya menjadi anggota PGI, dimana  Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia  ini, yang dipandang dan diterima pemerintah sebagai wakil resmi.

MENDAPAT SURAT KALENG PERTAMA SEJAK MELAYANI TUHAN

Hati Pdt. Theo teriris-iris membaca surat kaleng ini dengan berlinang air mata, tapi menyerahkan kepada Tuhan dalam doa untuk mendapat kekuatan.

Surat kaleng pertama diterima dan dibaca….sungguh  hati seperti  diiris-iris dengan pisau, karena  itu  pdt Theo menyampaikan kepada Tuhan dalam doa dan penyerahan.

Diumumkan  agar siapa yang membuat surat kaleng itu,  agar berani tampil untuk bicara secara bertanggung jawab…tetapi sampai pindah tak seorangpun yang berani tampil  dan mau mengakui bahwa dialah yang membuat surat kaleng ini.

Diserahkan kepada Tuhan yang maha mengetahui dan maha kuasa itu untuk memberkati dan memberi  pikiran yang cerah dan jernih   kepada semua untuk terbuka dalam segala sesuatu dalam pelayanan  diladang Tuhan ini.

 MENGIKUTI  SIDANG PGI DI MAKASAR & JAYA PURA.

Dalam status sebagai wakil ketua PGI – wilayah kalsel, ia diutus dua kali untuk mengikuti sidang PGI baik di Makasar maupun di Jayapura pada tahun yang berbeda    bersama sekretaris  mewakili  Kalimantan selatan .

Dalam tahun yang berbeda Pdt. Theo mengikuti sidang PGI di Makasar dan Jayapura, ketika itu singgak di Abinus Natumnea (Adik) di Manokwaro

Dalam urusan tsb membutuhkan biaya yang besar, tapi bapak Drs Melly Titahelu  sebagai   kepala bagian  di kantor anggaran Kalimantan Selatan, tahu bahwa semua agama  terutama agama islam sering memanfaatkan jalur bantuan pemerintah ini, maka ia membawa surat PGI-Wilayah kalsel dan berhasil menguruskan uang tiket PP  dari Banjarmasin- Makasar dan tahun berikutnya dari Banjarmasin- Jayapura.

Wawasan  Pdt Theo semakin diperluas untuk memimpin jemaat GPIB  Maranatha Banjarmasin yang warganya  terdiri dari berbagai suku dan  latar belakang  yang tersebar  dalam berbagai instansi pemerintah maupun swasta ini.

MENERIMA YAYASAN DAN KELOMPOK PERSEKUTUAN DOA, MENJADI  CALON JEMAAT GPIB  PALANGKARAYA.

Atas nama Majelis Sinode, Pdt. Theo sebagai ketua Mupel Kalsel, diberi mandat untuk menerima sebuah Yayasan dan kelompok doa menjadi cikal bakal lahirnya GPIB Palangkaraya

Dalam merintis berdirinya GPIB Palangkaraya sering memberi  motivasi kepada warga jemaat yang pindah kesana untuk memulai dengan persekutuan doa biasa.

Sebagai  ketua Mupel kalsel,  diberi mandat oleh Majelis Sinode GPIB, (ketika Majelis Sinode berhalangan),  untuk menerima  sebuah yayasan dan sebuah kelompok persekutuan doa,   guna mempersiapkan mereka menjadi jemaat Persiapan  menuju pendewasan     jemaat GPIB  Palangkaraya.

Team  negosiasi ini bekerja sama dengan Ir Rada Mahar,dimana beliau memfasilitasi team ini dengan  spead boad dari Banjarmasin ke Palangkaraya dan hotel selama team ini berada di kota Palangkaraya ini.

Percakapan Team  Mupel kalsel & Majelis jemaat dengan kelompok persekutuan Doa  & yayasan ini berjalan lancar, sehingga diadakan  penanda tanganan dokumen secara resmi dalam ibadah, bahwa ada  jemaat persiapan menuju pendewasaan jemaat GPIB dibawah bimbingan  Majelis jemaat GPIB Maranatha   dan Mupel Kalsel di Banjarmasin.

Diadakanlah kebaktian minggu dan kebaktian keluarga tersendiri, walaupun bimbingannya sistim jarak jauh,   karena  pelayanan  merintis ini berokasi pada dua propinsi  dimana mereka belum diteguhkan sebagai penatua dan diaken tetapi melayani sementara jemaat persiapan ini.

Buku-buku  sesuai tata gereja, liturgi, buku nyanyian Rohani dikirim  secara bertahap, sehingga kemauan baik ini,  direspon  (ditempa selagi besi masih  panas)  seperti  gayung bersambut, sukacita & semangat semakin membara dalam hati dan hidup pelayanan dalam kehidupan bergpib dari kedua kota ini(Banjarmasin dan palangkaraya) tercinta.

Segala perjuangan  jerih payahmu ini tidak sia-sia, karena Allah bekerja dalam RohNya yang kudus untuk turut mempersiapkan  segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi mereka yang melayani dengan  pengabdian dan pengorbanan. Ketika ia sudah di Semarang mendengar  serta membaca dalam laporan Majelis sinode bahwa telah didewasakan  jemaat Palangkaraya ini.

SIAP-SIAP  MAU PINDAH DARI BANJARMASIN  KE  SEMARANG.

Surat keputusan Majelis Sinode GPIB telah diterima dan diproses, persiapan mutasi ini semakin mantap, barang- barang sudah dikirim duluan , tiket bouraq sudah disediakan oleh seorang warga jemaat yang hanya ketemu sekali dan singkat ,  semua ini datangnya dari Tuhan.

Dengan semangat mutasi GPIB, kel. Pdt. Theo Natumnea meninggalkan Banjarmasin Kalsel menuju Semarang Jateng, “Gereja Blenduk”

Perpisahan diadakan melibatkan Jemaat Effatha dan Maranatha yang dilayani dengan penuh penyerahan dan kasih, rombongan pengantarpun sudah tiba di lapangan terbang, yang mana barang diatur oleh om Ongrwalu yang sungguh bertobat ketika dilayaninya.

Selamat tinggal Banjarmasin ……  dan selamat jalan Pdt Theo bersama kkeluaraga….dalam segala kenangan,……. Manis  dan  pahit …….adalah  dinamika hidup daam pelayanan  &  makanan sehari-hari seorang pendeta GPIB…. yang ditempa dan dibentuk serta ditempatkan Tuhan melalui Majelis Sinode GPIB.

TIBA DI SEMARANG … GEREJA BLENDUK … SENTRAL JAVA.

GEREJA BLENDUK ADALAH;  GEREJA TUA, WISATA DAN BERSEJARAH.

GPIB Immanuel Semarang atau biasa di sebut “Gereja Blenduk” sebagai tempat wisata domestik dan manca negara, memiliki nilai purbakala. menjadi tempat Pdt. Theo bertugas selanjutnya. (tahun 1988)

Gereja Blenduk adalah sebuah gereja tertua di Semarang-jawa tengah, bahkan sejawa, yang berlokasi di kota lama… seumur dengan gedung tua lainnya seperti  Lawang Sewu di kota Semarang.

Gereja  ini adalah gereja berstatus wisata rohani bagi wisatawan domestic maupun manca Negara. Sehubungan dengan gedung gereja ini bernilai   sejarah dan purbakala, maka ia dilindungi oleh Negara.

Gereja Blenduk didirikan pada tahun 1753, adalah salah satu land mark kota lama di semarang.

GPIB mempergunakan gereja  Blenduk ini dalam tiga kali ibadah minggu, yaitu jam 06.00, 09.00 dan   17.00 wib selain gedung  ibadah Effatha, Filadelfia dan Banyumanik di kota Semarang.

IA MENJADI PENDETA  KE 89 di GPIB  IMANUEL  – BLENDUK SEMARANG.

Tak disangka Pdt Theo Natumnea menjadi pendeta ke-89 di geja Blenduk atau No. 7 Pendeta Orang Indonesia. Terpujilah Tuhan Yesus

Deretan nama – nama pendeta di gereja blenduk  yang didirikan pada tahun 1736 ini  semuanya adalah pendeta orang belanda, karena Indonesia  masih dalam jajahan Belanda, dimana para pendeta belanda ini mendapat gaji dari pemerintah belanda

Setelah Indonesia merdeka semua fasilitas gedung termasuk gereja blenduk dipelihara dengan baik dan gpib mendapat kepercayaan sesuai sejarah gereja dan aliran  gereja serta surat pelimpahan agar semua  gedung gereja Indische kerk diIndonesia dierahkan kepada gpi,  dimana  Indonesia bagian timur  diserahkan kepada  gpm, gmim dan gmit, sedangkan daerah Indonesia bagian barat diserahkan kepada  gpib

kedua insan ini berfose dibawah mimbar Blenduk yang khas, sesudah memimpin kebaktian

Gereja blenduk termasuk dalam wilayah indonesia bagian barat, dimana gpib mendapat kepercayaan untuk mengelolanya, sehingga sejak tahun 1945 para pendetanya  yang ditempatkan digereja blenduk adalah orang indonesia

Pendeta Theofilus Natumnea adalah pendeta   orang Indonesia ke 7 ditempat oleh majelis sinode  gpib untuk melayani Tuhan, dimana ia dimutasikan dari gpib maranatha banjarmasin ke gpib imanuel  semarang., sehingga dari deretan  nama – nama  seluruh pendeta gpib, ia berada pada deretan nama  pendeta  yang ke 89 di gereja blenduk yang terkenal dengan  gereja wisata dan punya nilai  kepurbakalaan ini

SEORANG WANITA BELANDA DATANG KEPASTORI & MENCARI PALANG PINTU.

Palang pintu pastori gereja Blenduk  panjangnya 1 meter  itu pernah dicari oleh seorang  wanita Belanda. Ia  bercerita sambil memegang dan berfoto dengan palang pintu ini , bahwa dulu bapaknya adalah seorang koster dan mereka tinggal di tempat ini.

Ketika malam hari mereka kunci rumah dengan palang pintu ini,

“Mana palang pintu?, dulu Opa saya Koster disini, kalau malam kami tutup rapat dengan palang pintu ini Zaman Jepang, saya mau foto dengan palang pintu ini”

pada waktu itu  zaman pendudukan  Jepang, dalam keadaan darurat  & takut,  sehingga palang pintu ini   adalah alat penutup pintu ,  ditutupnya  kuat-kuat dan erat-erat  …  sehingga tidak dapat di goyahkan.

Koster adalah pelayan dan pembersih serta pengatur urusan gereja, sehingga pada waktu pelayanan berlangsung semuanya dalam keadaan baik dan rapi siap untuk dipakai gerejanya.

Tempat koster itulah yang sekarang didiami oleh pendeta jemaat yang  sedang bertugas dijemaat GPIB Imanuel  (Gereja blenduk)  adalah pastori di taman sri gunting ini, berarti dulu rumah koster bukan pastori tempat pendeta

DIMANAKAH TERDAPAT PASTORI GEREJA BLENDUK SEBENARNYA ?

Pastori gereja Blenduk sebenarnya menurut ceritra warga jemaat dan dikukuhkan ibu Belanda ini, terdapat  di Perumahan Candi atau dikenal semarang atas,  namun pada waktu pendudukan jepang dan zaman revolusi Indonesia, pastori gereja Blenduk itu diambil alih oleh orang lain.

Pastori ini diambil alih Zaman Revolusi

Majelis Jemaat pernah menelusuri melalui celah-celah yang bisa ditelusuri, tetapi  sampai hari ini masih tertutup erat kemungkinan untuk menemukan  dan mengembalikannya kembali.

WISATAWAN BELANDA MENGADAKAN KEBAKTIAN  DI GEREJA BLENDUK

Jarak gereja dan pastori hanya 10 m , diseberang jalan  belakang gereja ini, suatu ketika terdengar  pujian berupa koor  besar didalam gereja….khotbah  … yang semuanya dalam bahasa Belanda.

Terdengar Paduan Suara Wisatawan Belanda dalam gereja Blenduk

Pendeta Theo pelan-pelan membuka pintu belakang dan melihat….aduh …. Hai….. banyak orang belanda yang sementara mengikuti kebaktian dalam wisata mereka di gereja ini..

Ternyata rombongan ini  punyai kaitan sebagai anak cucu  dari bapak /ibunya atau opa/ omanya yang dulu pernah  tinggal  semarang dan beribadah di gereja  blenduk ini

MEMILIKI DUA POS PELKES YAITU  KENONGO DAN  DEMPELREJO

setelah Panen mereka jadi pemulung di Jakarta

Walaupun sibuk karena  jemaat  Imanuel semarang masih satu jemaat dewasa dan dalam  jumlah besar dan wilayah yang luas,  serta ada  empat buah  gedung  ibadah  dalam kota dengan variasi jam ibadahnya, tetapi jemaat ini sudah memiliki   dua pos pelkes yaitu kenongo dan  Dempelrejo.

Pos Pelkes Kenongo,  setelah melewati  Banyumanik,…Ungaran…….. dan Bawen , belok ke kiri turun ke desa kenongo,  sekitar  5 km. Mereka dilayani dua bulan sekali dari jemaat induk Immanuel (kota Semarang), sedangkan hari minggu lainnya dilayani oleh penatua dan diaken setempat.

Ketika musim tanam selesai, warga jemaat di kennongo ini  pergi mencari kerja di Jakarta untuk menambah pendapatan mereka ,dan yang tidak punya keahlian pun dia bertekat walau  memungut barang-barang disampah mereka tetap mencari kerja di kota besar.

Pada saat itu,  tinggalah isteri dan anak-anak mereka di kampung Kenonngo, walaupun jalannya turun naik dan curam, tetapi mereka tetap aktip kegereja dan pelayanan lainnya.

Pos Pelkes  Dempelrejo  ke arah Kendal

Pospel Dempelrejo ini, adalah suatu pos pelayanan yang 4  km dari kota Kendal, masuk ke arah kiri kalau  dari Semarang. Pospel ini terdiri dari beberapa keluarga yang ada kaitan famili dari antara mereka.

Keaktifan mereka  sesuai dengan pekerjaan sebagai petani   ada waktunya sangat sibuk dikebun dan sawah, tetapi ada waktunya untuk beribadah ke gereja.

Pepatah mengatakan Jauh bau bunga, dekat bau tahi, demikianlah pepatah ini berlaku bagi jemaat pospel Dempelrejo ini yang hanya terdiri dari beberapa keluarga yang ada kaitan family, jadi  tak heran jika terjadi diantara mereka dinamika  dan  selisih paham keluarga, maka dalam beberapa wakktu lamanya gereja itu berkurang sekali, karena sebagian  besar dari mereka tidak datang  kebaktian

Itulah tugas dan panggilan pelayanan untuk mendamaikan mereka, sehingga merekapun mampu membawa damai itu kepada orang lain sesuai fungsi dan pelayanannya dalam jemaat dan masyarakat.

PROYEK MAJELIS SINODE GPIB.

Proyek  GPIB dalam kaitan dengan harta milik dan pendaya- gunaanya, sering kali memerlukan perhatian & energy khusus dari  Majelis Sinode, sehingga  jemaat ini sering dikunjungi fungsionaris majelis sinode GPIB dari Jakarta.

GPIB Jemaat Immanuel Semarang (Blenduk) tidak puas saja dengan memiliki gedung tua ini, tapi keluar untuk ber Pelkes ke Kenongo dan Dempelrejo

Baik masalah Paldam(kompleks  kodam) maupun masalah perumahan orang tua di Peterongan….. Semarang timur yang diduduki  warga jemaat, adalah masalah  GPIB yang tak habis-habisnya  memaksa  Majelis Sinode dan team   Majelis jemaat untuk berurusan dengan semua pihak yang terkait.

Masalah ini selalu menjadi topic utama dan terhangat dalam setiap persidangan sinode GPIB antara tahun 1980 – 1990an.

SEHABIS DOA SYAFAAT GEREJA KOSONG

Dalam kaitan dengan  masalah peterongan ada titik terang, dimana semua penghuni yang tinggal dirumah orang tua Peterongan ini, setiap keluarga mendapat rumah di perumnas Banyumanik sebagai pengganti uang pengusiran.

Kebaktian pembagian undian rumah bagi warga yang menempati rumah orang tua Peterongan. Sehabis doa syafaat, mereka tidak ada dalam gedung gereja lagi (menghilang dari ibadah)

Hal yang  lucu dan menggelikan, aneh tapi nyata ialah, ketika semua berkumpul di gereja Blenduk bersama Majelis Sinode, team dan Majelis Jemaat, untuk mengadakan kebaktian pembagian  rumah  agar mengambil nomor undian, ketika doa syafaat selesai,  gereja kosong……kemana  mereka ?…. rupanya pada waktu doa syafaat, satu persatu  angkat kaki dan menghilang  dari dalam gereja.

Pendekatan demi pendekatan, akhirnya mereka dapat menerima  untuk keluar dari   kompleks  peterongan dan menempati rumah hasil undian team  Majelis Sinode tsb.

TIGA ORANG ISTERI, SEMUANYA ADIK – KAKAK KANDUNG.

dilarang tambah istri lagi, malah harus menceraikan istri ke 2 dan ke 3, tapi tetap bertanggungjawab secara ekonomi

Diantara Semarang dan Kendal terdapat seorang warga jemaat  yang memiliki tiga orang isteri,  yang semuanya adik kakak kandung, mereka tinggal dalam satu kompleks kecil yang letaknya tidak berjauhan satu sama lain.

Kakak  yang tertua adalah isteri tua yang sekaligus menjadi koordinator dari antara mereka, untuk mendapat  kunjungan suami yang adalah orang indo bugis ini.

Suatu saat ia  memberikan persembahan syukur kepada gereja berturut turut beberapa bulan atas  nama isterinya yang muda, rupanya suatu pendekatan untuk mengadakan baptisan bagi anak anak dari isterinya yang muda ini.

Mereka  datang ke Pendeta Theo  serombongan,  ketiga isterinya dan belasan anak-anaknya dengan dua kendaraan mini bus, untuk melaporkan niat mereka ini, bahwa anak-anak dari isteri yang muda ini akan di  serahkan  ke gereja untuk dibaptiskan.

Pendeta Theo menjawab; boleh, tetapi nanti dalam persiapan akan disiapkan bahwa yang berdiri sebagai orang tua adalah isteri tua bersama bapak, sedangkan yang lain tetap ikut digereja tetapi dibelakang bapak dan isteri  tua.

Selanjutnya yang ikut perjamuan kudus adalah isteri tua, sampai urusannya diselesaikan pada waktunya,  jika isteri kedua   dan ketiga diceraikan  dalam tanggung jawab  bapak

Mereka adalah keluarga besar, karena itu gereja harus melayani dan menyelamatkan mereka sesuai dengan ketentuan yang berlaku, anak-anak pemuda, gadis, remaja  serta adiknya yang kecil  yang cantik sedang bertumbuh,  mereka tidak tahu  apa yang diperbuat,   gereja jangan biarkan mereka, tetapi gereja perlu melayani semuanya menurut ketentuan , karena Yesus datang  kedunia ini untuk mencari dan menyelamatkan  orang berdosa.

NAMANYA BAPAK  DAENG KAHAR & TETAP MENJADI WARGA JEMAAT GPIB IMANUEL SEMARANG.

Walaupun ia (Daeng Kahar) ini memiliki tiga orang isteri yang adalah adik -kakak kandung,  tetapi ia tetap  tegar  mau menjadi anggota jemaat GPIB Imanuel semarang.

Tantangan tersendiri pagi para hamba Tuhan, termasuk Pdt Theo untuk mengelola dan memimpin jemaat termasuk  bapak  Daeng  Kahar yang  antik keluarganya ini

Ibarat benang kusut dan   timbunan tepung, kita harus berhati-hati, agar benang   tidak putus, tetapi juga tepung tidak terkoyak dan terhambur-hambur, demikianlah  menjaga  jemaat tetapi Tuhan Yesus  mengutus kita untuk pergi mencari  dan menyelamatkan domba yang hilang.

Mereka ibarat domba yang hilang, tapi tidak jauh hanya disebelah kandang saja, bagaimana  caranya untuk memasukan mereka kedalam kandang melalui pintu  dan jalan Tuhan Yesus,  yang datang untuk mencari dan menyelamatkan orang berdosa.

Anak-anaknya yang sudah bertumbuh besar:  ada pemuda, ada remaja dan ada juga anak sekolah minggu yang jumlahnya belasan dan nanti akan menjadi puluhan,  berarti satu generasi harus diselamatkan , sambil memelihara persekutuan yang ada yaitu warga jemaat yang  lainnya  dan banyak seperti gunung  tepung  ini, agar tepung  persekutuan tidak terkoyak  dan terhambur yaitu warga jemaat, tetapi langkah penyelamatan  keluarga ini seperti benang kusut harus dilayani dan diperbaiki status dan hidup mereka, karena merupakan potensi satu keluarga yang belasan  bahkan akan menjadi puluhan anak-anaknya ini.

Langkah pelayanan pertama adalah pelayanan sakramen baptisan kudus bagi anak-anak isteri ketiga  (lihat  uraian diatas) supaya yang berdiri adalah isteri Pertama…yang sah itu

Langkah pelayanan kedua adalah  semua  boleh ikut kebaktian dan mendapat pelayanan , tetapi yang berhak untuk ikut perjamuan kudus adalah isteri pertama , bukan yl dihalangi tetapi statusnya  yang menghalangi mereka ini..

Langkah pelayanan ketiga adalah diadakan penggembalaan ,  sampai  waktu Tuhan, status isteri kedua dan ketiga dapat diselesaikan secara baik-baik    diceraikan , tetapi tetap tanggung jawab bapak Daeng Kahar untuk menjamin hidup mereka secara ekonomi, dan langkah ini sulit tapi harus ditempuh, sehingga  ibarat benang kusut diperbaiki tetapi tepung persekutuan tidak terkoyak-koyak dan tidak terhambur.

Sayangnya simtim presbiterial sinodal yang dianut oleh GPIB, membuat  Pdt Theo tidak dapat melanjutkan langkah ketiga ini karena harus pindah ke Bnaten,  tapi   salah satu  catatan  dalam acara  serah terima kepada ketua I, (karena belum datang pendeta penggant)i, diberi catatan untuk melanjutkannya.

KENDARAAN DINAS SEBUAH MOBIL TUA.

Majelis jemaat mengatakan, ini kendaraan dinas kita, sebuah  mobil mini bus Merk hijet 1000, yang sudah batuk-batuk, kalau sementara  dikendarai; mobil inilah yang membawa Pdt Theo kemana-mana untuk melayani warga  jemaat yang begitu banyak dan wilayah yang sangat luas ini.

Mobil Tua ini berjasa mengantar Pdt Theo melayani keliling Semarang, bahkan sejawa tengah dan Jogjakarta ketika menjadi ketua Mupel Jateng-DIY

Berapa kali harus ditinggalkan dibengkel di Salatiga , ketika mobil ini mogok dalam perjalanan pelayanan, yang akhirnya diambil oleh sdr Rony pegawai kantor gereja.

Mobil ini pula yang membawa keliling Pdt Theo   kebupaten- dan kota sejawa tengah & DIY untuk melayani dan berkunjung sebagai ketua Mupel Jateng-DIY

MENJADI KETUA MUPEL JATENG-DIY

Ia terpilih menjadi ketua Mupel Jateng-DIY,

masih berkumis dan tampil meyakinkan

sebelumnya  sebagai wakil ketua, untuk membina dan melayani jemaat-jemaat  GPIB  se-mupel  Jawa tengah  & Yokyakarta ini.

Dalam melayani jemaat-jemaat  se-mupel ini, mengadakan program kerja  untuk menjabarkan program sinodal  serta menganalisis aspirasi Jemaat-jemaat se Mupel. serta  mengadakan pertukaran mimbar antar jemaat , supaya  ada penyegaran diantara jemaat dan para pelayan firman….sekaligus menggali aspirasi dalam kehidupan  dan dinamika warga jemaat sejateng- DIY.

Memberi bea siswa kepada mahasiswa theologia untuk  menyelesaikan  pendidikannya, dikala  mengalami pergumulan dari segi ekonomi.

Membantu jemaat kecil untuk menggaji pendeta yaitu jemaat  Purworejo, sekaligus  membantu untuk membuka bengkel, sehingga dari hasil bengkel itu mendapat tambahan selain mendayagunakan  warganya untuk bekerja.

Menghadapi pemerintah dalam urusan kemasyarakatan dan kenegaraan dalam kehidupan dan kerukunan antar umat beragama.

PENATARAN UNTUK MENJADI   PEJABAT  B.S. (BURGELIJK STAND)  KOTA SEMARANG.

Dikota dingin, Salatiga itulah seluruh peserta dikumpulkan dalam rangka pembinaan/pembelajaran tentang catatan sipil, yang berlaku untuk gereja-gereja di Indonesia, khususnya  jawa tengah. Salah satu peserta adalah pendeta Theofilus Natumnea utusan  majelis jemaat gpib Imanuel – blenduk Semarang yang mewakili juga  musyawarah pelayanan (mupel) jateng – D.I>Y, dimana ia adalah ketua mupel jateng-d.i.y pada periode  itu.

Pembinaan/pelatihan berlangsung ketat, dimana semua peserta dibina dan dilatih untuk sanggup melayani warga jemaatnya  bahkan warga jemaat yang lain jika mereka membutuhkannya, asalkan  mereka  sudah memenuhi persyaratan yang ditentukan sesuai hukum dan undang-undang yang berlaku.

Bagi warga yang ekonomi lemah dan bayaran pajak nikah kurang, dibantu oleh Pdt. Theo, untuk setor ke kas negara

Setelah mengikuti pembinaan hukum  yang diadakan oleh  pemerintah daerah propinsi  jawa tengah di salatiga selama  satu bulan dan menerima SK Gubernur jawa tengah, ia dilantik oleh walitota semarang menjadi pelaksana Catatan sipil /pejabat B>S.Kota semarang,  untuk melayani   pernikahan warga jemaat secara hukum Negara

Berdasarkan  status ini, maka ia dapat melaksanakan pelayanan pernikahan menurut hukum gereja maupun hukum Negara, yang dapat dipertanggung-jawabkan sesuai kapasitasnya untuk melayani   warga gereja dari kedua sisi hukum ini

Suatu status yang mempunyai kapasitas ganda  untuk  menolong banyak orang  yang datang dari  mana saja, dimana suatu ketika melayani  mantan muridnya SMA  Methodis Banda Aceh yang  sedang  dalam keadaan sulit dan  mencari jalan keluar dalam urusan pernikahannya, karena   mereka berdua  adalah keturunan  Cina.

Dipublikasi di Uncategorized | 25 Komentar

Seri II: DARI SERAMBI MEKAH KE SERAMBI MEDINA

IA TIBA DI SERAMBI MEKAH DENGAN KEPASTIAN  DARI TUHAN YESUS.

Hal ini  telah diperlihatkannya  bersama sang isteri Nelly pada renungan pagi di Balikpapan, dalam  Matius 10:30 & 31a :dan kamu rambut kepalamupun  terhitung semuanya, karena itu jangan takut ;artinya :Tuhan tahu berapa jumlah rambut  kita, walaupun kita tidak  tahu, dan kalau demikian, sehelai rambutpun tidak akan gugur ditangan orang jahat,  kalau Tuhan tidak menghendakinya.  Amin.

Janji  Allah ini diyakini  dengan harga mati, sebagai jaminan  Tuhan pada mereka  lalu merekapun berangkat keserambi mekah.

Sebelumnya  kedua insan ini berlibur ke Kupang  untuk melihat ayahanda Meliachi Natumnea , berserta  adik-/kakak yl,  karena ibu Regina Pasu telah dipanggil Tuhan waktu dia kelas V SR , jadi masih kecil, .lalu mereka hanya ambil cuti  singkat dua minggu untuk berliburbersama orang tua dan kemudian berangkat kembali karena surat keputusan ( SK) penugasan dan penempatan  dari Majelis Sinode GPIB  sudah berada ditangan sang pendeta muda ini, dan dalam semangatnya yang berapi-api  ia siap berangkat  ketempat yang paling  jauh dan sulit pada km nol bagian barat Indonesia , sesuai permintaan doanya   kepada  Tuhan  , maka keluarga tak dapat menahannya lama-lama lagi, . ini dijalaninya  sampai tiba  dengan selamat di Banda Aceh(Serambi Mekah) serta Sabang km nol  bagian barat Indonesia ini.

KEAIAIBAN TUHAN MENYERTAI MEREKA SELAMA DALAM PERJALANAN.

Nelly isteri tercinta heran atas keajaiban Tuhan yang menyertai mereka  sepanjang perjalanan, sebagai pembelajaran penting bagi seorang   isteri  pendeta, pendamping  hamba Tuhan ini,  bahwa Tuhan yang memanggil dan mengutus hambaNya , Ia juga menyertai anak – anakNya dengan kuasaNya juga sepanjang perjalanan dan pelayanan mereka.

Mengapa  hal ini  dinyatakan Tuhan ? Ia tadinya terima  apa  saja yang  ia minta dari ayah dan ibunya dimana  Peter Lilipaly sang ayah  adalah seorang pejabat pemerintah, walikota Balikpapan yang selalu perhatikan kebutuhan anak – anaknya, apa lagi Tuhan  ….Ia tahu kebutuhan   anak -anakNya dan pasti Ia perhatikan  sebagai  jawaban kepada mereka , sesuai kebutuhan yang diperlukan untuk meneguhkan iman mereka dalam pelayanan guna melayani dan meneguhkan orang lain juga.

KEAJAIBAN PERTAMA : NAIK KAPAL TERBANG  GRATIS  BALIKPAPAN – JAKARTA .

Kepala Penerbangan Sipil Balikpapan menawarkan untuk pdt.Theo dan Nelly naik Pelita, melalui   Orang tua Nelly, Bapak Pieter Lilipaly dan Ibu  Paulina Lilipaly. Tiketnya hanya sehelai kertas buram bertuliskan : Pdt. Theofilus Natumnea dan Ny. Nelly Natumnea , lalu mereka pakai itu sebagai tiket pelita Balikpapan ke Jakarta,  bahkan  barang yang cukup banyak termuat semuanya ,  karena berangkat sekaligus dalam rangka pindah ke Aceh Serambi Mekah.

KEAJAIBAN KEDUA:  NAIK KAPAL TERBANG GRATIS JAKARTA  – KUPANG.

Naik Hercules Gratis, mendapat nota dari kepala lapangan Pelud. Halim Perdana Kusuma, Mayor TNI AU Pandango

Setelah bergumul dan mengambil  keputusan  untuk  melihat orang tua di Kupang, maka Bu Nei (bapak Cornelis Saneh) mempertemukan mereka dengan mayor TNI AU Pandango adalah kepala lapangan terbang AU di  Halim perdana Kusuma,  beliau katakan besok  datang pagi-pagi, karena  Herkules TNI AU  akan  mengantar rombongan Sekneg Kepresidenan ke Dili Timtim.

Kedua insan ini hanya membawa sepucuk surat pengantar dari  Mayor TNI AU  Pandango dan naik bersama rombongan sekneg  kepresidenan menuju Dili Timtim . Setelah mendarat ada acara penyambutan  rombongan sekneg  kepresidenan  dengan tari-tarian  Timor leste  sekitar 10 menit di  lapangan terbang…presidente  nicolau labato……  Dili dan seusai  menyaksikan tari-tarian itu  semua  naik kembali  ke Hercules   dan  penerbangan dilanjutkan ke Kupang….  Sekitar   satu jam mnerka tiba di Kupang ,  kota yang dihuni selama sekolah di SMEP dan SMEA itu.

Puji Tuhan sejak merantau dan kuliah sampai selesai masa Vikahariat,  Pdt Theo baru kali ini pulang ke Kupang   berarti   sekitar  12 tahun dan ia pulang dengan membawa isteri tercinta yang baru saja dinikahinya 3 april  1977,…… bayangkan begitu senang berjalan berdua di kota Kupang  bahkan sampai di Nubraen tempat pdt Theo. Natumnea  dilahirkan dengan  suasana yang menggembirakan kedua penganten  baru  dalam  ber bulan madu ini.

KEAJAIBAN KETIGA: NAIK KAPAL TERBANG GRATIS   KUPANG – JAKARTA

Naik Garuda gratis, Pelayanan kepada hamba Tuhan Pdt, Theo dan Nelly dari kel. Marten Amtiran, pengusaha yang di berkati Tuhan, di Kupang

Dalam suasana kunjungan di rumah kel .Marten  Amtiran  sebelum berangkat  ke Nubraen kampung halaman Pdt Theo, mereka  mau berdoa bersama keluarga ini, karena Bu Marten anak kampung yang diberkati Tuhan, yang tadinya sama-sama  jalan kaki 30 km dari Kupang ke kampung  kalau mau berlibur sekolah , itulah suasana  & semangat semua anak sekolah dari kampung yang berjuang di Kupang untuk sekolah….dengan tekad mau maju ini.

Bu Marten Amtiran bertanya : kapan kembali ke Jakarta dan pakai penerbangan yang mana ?

Pdt Theo menjawab: seminggu dua minggu ini kami di Nubraen dan nanti akan  pakai Herkules kembali ke jakarta.

Bu Marten  menjawab:  minggu ini kami( Bu dan susi )  akan berlibur ke Singapore, jadi  kalau  datang sudah tersedia tiket garuda Kupang-Jakarta dirumah ini, sebagai berkat Tuhan  untuk kedua adik (Pdt Theo Natumnea dan Ny. Nelly Natumnea)  sebagai support kami untuk melayani Tuhan  di Aceh serambi Mekah, karena  menurut kami tempatnya paling sulit…….. Dan selesai berdoa berangkatlah  mereka ke Nubraen  yang diantar   Bu Marten Amtiran ini        bersama   rombongan kecil , sambil mengenang ketika masih bersekolah  melewati jalan-jalan ini dengan berjalan kaki 30 Km, sebagai napak tilas  pdt Theo , ditempat-tempat tertentu mereka berhenti  dan bercerita, tertawa ria  mengenang  perjuangan sekolah dulu.  Dengan bersemangat  luar biasa ia dan Istri tercinta tiba di Nubraen, dan…sehabis berdoa  rombongan Bu Marten pulang, ke Kupang  sedangkan mereka berdua memulai mengenal keluarga satu persatu…dalam lingkungan desa  Nubraen  tempat lahir pendeta Theofilus Natumnea (Rasi Ninu ini)

Jika kita renungkan kata-kata dan seperti  diucapkn  kel Marthen Amtiran ini, maka seperti telah dipersiapkan Roh Kudus, dimana mereka juga mau melayani Tuhan  dalam panggilan  Tuhan dan doa mereka selama ini.

Tak disangka 12 tahun  yl meninggalkan Nubraen   sebagai seorang remaja  yang sedang bertumbuh dan kini datang dengan istri  Nelly tercinta : seorang anak walikota Balikpapan, tentu keluarga sangat bahagia,  maka   syukuranlah mereka  : dengan  mengorbankan dan dipotong seekor sapi untuk  kebaktian syukur dan adat secara singkat ,karena waktu cuti  sudah mau habis  ia segera mempersiapkan  diri  untuk   berangkat  kembali ke Jakarta   dan  seterusnya Ke Banda  Aceh (Serambi Mekah.)

Sesampai di Kupang dari  Nubraen …… Nelly terheran-heran  janji Tuhan menjadi kenyataan : bahwa  janji Bu Marten  hamba Tuhan ini dipenuhi, walaupun mereka sudah  ke Singapore untuk berlibur, benar  tiket garuda untuk Kupang –Jakarta dua orang  telah tersedia, puji Tuhan :  Besar kuasaMu menyertai perjalanan  kami  Kata Pdt Theo dalam doanya amin.

Semua keajaiban ini  dibuat  untuk memberi  pelajaran kepada   mereka khususnya Ny. Nelly Natumnea-Lilipaly yang  baru terjun dalam pembentukan hamba Tuhan  dimana tidak ada Mission hause untuk belajar praktis beberapa  lama, tetapi  menjadi tempat pembelajaran  dan pemuridan bersama dengan Yesus…disepanjang  perjalanan  selama cuti ini.

KENDARAAN DINAS ADALAH  “SEBUAH SEPEDA TUA”…DI BANDA ACEH.

Sepeda ontel, kendaraan dinas Pdt. Theo di Banda Aceh, untuk melayani 120 KK warga Jemaat

Setiba di Banda Aceh mereka berdua diterima dengan  penuh antusias kata seorang anggota Majelis BP Drs. Meslek Sebayang : inilah pendeta yang kita doakan dan harapakan  selama ini: , Majelis Jemaat GPIB BANDA ACEH  mengatakan lagi ini kendaraan dinas kita yaitu sebuah sepeda tua , yang akan mengantarkan bapak pendeta  dan ibu kemana-mana.

Benar-benar bersahaja  Nelly  yang tadi  sering turun naik mobil dinas atau mobil pribadi bapaknya sebagai Walikota, kini  kedua insan ini  memulai  pelayanan pertama  dengan menggunakan  dan mendayung sepeda tua ini, merawatnya dan belajar menerima apa adanya yang telah disiapkan  oleh  Tuhan melalui jemaat yang sudah lama  rindu  & menunggu kehadiran seorang pendeta ini.

Kesempatan ini  tidak disia-siakan : Kepasarpun sang pendeta membawa isterinya untuk belanja dan membawa pulang belanjaan dengan memuat  istrinya serta belanjaan tsb…dengan  sepeda tua ini…. Bahkan kemana saja  mereka berdua   seperti seorang tuan dan nyonya  yang sangat bahagia mengelilingi kota Banda Aceh.

WARUNG KOPI TEMPAT MENARUH//MENITIP SEPEDA TUA INI.

DiBanda Aceh terdapat banyak warung kopi, itulah kesukaan orang Aceh, mereka berdua gampang bergaul dipasar , termasuk diwarung kopi,  sehingga tempat penitipan sepedapun gratis.

Sering pendeta Theo menuggu istrinya belanja, sambil ia meneguk segelas kopi  sementara  ngobrol sana sini tentang masalah kehidupan ini….dengan pemilik warung kopi,  bahkan dengan  tamu lain yang sedang  minum kopi Aceh yang terkenal ini.

TERJATUH BERSAMA ISTERI DAN BELANJAAN DARI PASAR…SEPEDA TUA KEMPES

Karena terlalu berat : banyak belanjaan, maka sekali peristiwa mereka dua terjatuh ke aspal ,  sehubungan  muatan  belanjaan banyak tambah isterinya lagi hamil besar,  jadi pendeta Theo tidak kuat dayung  untuk mendaki  bukit  lagi pula  ban sepeda bagian depan  kempes , akhirnya terjatuh, tapi puji Tuhan semuanya baik-baik saja karena dipelihara oleh Tuhan Yesus….itulah dinamika hidup keluarga baru ini. Seandainya  zaman itu  ia miliki  HP, pasti  direkam  menjadi sejarah  hidupnya….yang  akan  menjadi tontonan  gratis bagi anak-cucu dikemudian hari.

Dan sampailah mereka di rumah pastori dengan terengah-engah sambil beristirahat & merenung,: beginilah perjalanan  hidup dan pelayanan yang diminta dari Tuhan yaitu tempat yang paling sulit, semua pembelajaran ini semakin menambah komitmen mereka  untuk melayani Tuhan Yesus  sampai akhir.

SAMBAL DARI RANTANGAN MAKANAN SELALU HABIS.

Pada suasana  penyesuaian, mereka rantangan  untuk makanan sehari-hari…Aneh, sambal  yang diberikan pada rantangan itu  selalu habis;karena terlalu enak sambalnya…untuk dilahap….

makanan ini selalu habis termasuk sambalnya, ternyata ada campuran daun ganja

Warga  jemaat bertanya  :  apa benar bapak dan ibu rantangan di  Mrs X ? ya benar… bagaimana dengan makanan yang disuguhkan ? wah enak sekali, bahkan sambalnya selalu habis dilahap.

Mereka itu(pemilik rantangan) selalu membuat enak makanan dan sambalnya juga , karena ada campuran daun ganja !…..ha….. daun ganja ?  kata Pdt Theo   dengan nada menyesal  !!

Sejak itu Pdt Theo dan Nelly berhenti rantangan karena sadar, bahwa ternyata makanan yang enak tu ada campuran daun ganja yang membahayakan.

Puji Tuhan  ada saja jalan  dari Tuhan,  Ia  memakai warga jemaat untuk mengingatkan Pdt Theo dan Nelly agar berhenti rantangan pada Mrs. X itu.

TSUNAMI LOKAL DAN GEMPA BUMI

Pdt. Theo, bersama Bupati Aceh Barat meninjau tsunami di pantai

Didaerah Istimewa Aceh sering terjadi gempa bumi dan Tsunami, walaupun kekuatannya terasa hanya local didaerah Aceh, karena berkekuatan hanya sekitar 5-6 skala richter saja. Tsunami di Aceh Barat, memindahkan Tangki minyak pertamina ± 500 meter,  diadakan kunjungan  dan melihat lokasinya oleh Pdt. Theo waktu mengantar bantuan via  gubernur  Aceh dan  Bupati Aceh Barat.

Selama  Pdt Theo dan Keluarga berada di Aceh beberapa kali terjadi gempa, dan jika  gempa yang gonjangannya besar semua takut,   sehingga semuanya harus lari keluar meninggalkan rumah, untuk menyelamatkan diri…Setelah kembali kerumah, ternyata semua  makanan tumpah , karena lemari makan  terjatuh dan bersandar pada meja makan. Yang adalah sebuah lemari tua.

Peristiwa  itu terjadi pada hari paskah kedua, jika Tsunami besar yang lalu pada natal II, maka sebelumnya   gempa bumi pernah terjadi pada paskah kedua , mau memperingatkan  warga Kristen bahwa pada hari raya agar  masuk gereja dan ikut kebaktian. Untuk menyembah  dan memuji memuliakan nama Tuhan.

MENABRAK KEPALA DESA  (PAK KECIK) , KETIKA   BELAJAR MOBIL.

13 Januari 1978, terjadi musibah tabrakan, ketika Pdt. Theo belajar setir mobil

Bukan sudah memiliki mobil, tetapi  sebuah mobil truk kecil (pick up),mobil  sejenis  Daihatsu mini………….diberi bak seperti  truk  kecil  untuk memuat  cengkeh  milik perusahaan cengkeh   dibawa oleh  pak  Daniel Theofilus S.Th. (bendahara  Majelis Jemaat),  maka  sebagai teman baik,  mereka  bersepakat   agar  Pdt Theo  belajar kendaraan tsb.

Setelah  belajar beberapa    hari di tempat  yang luas , maka ………Pada saat itu hari jumat,  mereka    melalui suatu tempat yang sempit  dimana   orang ramai dijalan   tsb.  karena   umat  muslim  baru keluar  sembahyang  dari Mesjid dengan berjalan kaki,.. tiba-tiba pelatih  mengatakan rem..pak   rem ……….pak.. banyak orang ini… Pdt Theo dalam  keadaan panik  yang diinjak  bukan rem tetapi gas, sambil  serong kiri disitulah mobil ini menyeruduk  dua orang yang  naik  sepeda, yang satu agak ringan dan pak  kecik (kepala desa } masuk kolong mobil  dengan sepedanya, sehingga  keserempet sampai di pahanya.

TUHAN  PAKAI   NAMA TIMOR  UNTUK  MENYELAMATKAN  PDT.THEO DARI AMUKAN MASA

  • Pelatih  yang  mengajar untuk belajar mobil itu  adalah    seorang  pemuda sopir Drs. H.D. Tundang…………kepala Inspeksi  Bea cukai,  sudah menyelamatkan diri dan  naik kendaraan lain (alias menghilang),tiba-tiba  polisi intel pakain preman  datang langsung bertindak  membuat garis lingkaran dengan kapur tulis tanda massa tidak boleh  melewati garis tsb.

Pendeta Theo  berada dengan intel poiisi tsb dalam lingkaran garis putih  itu, dia bertanya mana SIMnya?  Pdt Theo. Menjawab baru belajar pak.. jadi belum ada SIM, Pak Intel .. bertanya  : siapa yang mengajar  anda ? Pdt Theo menjawab:  yang mengajar sudah naik mobil lain untuk pulang…. Intel bertanya : mana identitas yl, maka dikeluarkanlah KTP…. Intel ini membaca  nama Theofilus Natumnea, perkejaan Pendeta, lahir Kupang Timor…..lalu ia  berkata kepada banyak orang “ INI TAMU KITA DARI TIMOR TIMUR ADALAH   PASTOR , JADI  HARAP SEMUA TERTIB  MENGHORMATI TAMU KITA INI, DAN SEMUA URUSAN  LALU LINTAS DISERAHKAN KEPADA POLISI UNTUK DISELESAIKAN SECARA HUKUM  LALU LINTAS” demikianlah kata-kata dari intel polisi …kepada masyarakat yang berkerumun ini.

Pada tahun 1977 nama Timor timur top dan dikenal dimana-mana  melalui siaran RRI, sedang TVRI  belum   memasyarakat)  sehingga Intel ini berinisiatif untuk memakai nama  Timor timur  sebagai pengamanan   dalam suasana  panas ini  bagi Pdt Theo

Peristiwa itu terjadi pada tanggal 13 januari 1978, saat dimana sementara menunggu kelahiran anak pertama  dari  Pdt Theo Natumnea dan Ny. Nelly Natunnea-Lilipaly.

ADA SUARA DARI BELAKANG MENGATAKAN : ADA APA PAK  PENDETA !

Drs. Joto Sebiring, menjadi malaikat penyelamat: Mengatakan “Ada apa Pak Pdt.”

Itulah suara Drs  Joto Sembiring anggota Majelis jemaat GPIB Banda Aceh, Puji Tuhan  Pdt Theo mendengar suara itu seperti suara malaikat: rasanya seperti  air  yang menyiram  dia dari kepala sampai dikaki : bahwa masih ada yang mengenal dia, memanggil dia dan berbicara halus dan  ..tenang dengan dia, dikala suasana rasa panik … ketakutan  & tidak aman  menyelimuti tubuhnya , jiwa dan rohnya.

Suasana cair karena sudah tiga orang yang berdiri dalam garis lingkaran tsb yaitu Intel polisi, Pdt Theo dan drs Joto Sembiring, sambil ngobrol segi tiga,  Tambahan  dimana cara penanganan intel polisi ini sangat  profesianal dan penuh bijaksana terhadap pdt. Theo Natumnea yang baru  menetap di kota Banda Aceh ini

Semua ini mau menunjukan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anakNya bergumul sendirian, Ia (Tuhan  Yesus)  mengutus orang yang tepat untuk menangani masalah tabrakan ini, yaitu  intel polisi serta Drs joto  Sembiring untuk menemaninya, Pdt Theo anggap sebagai penolong yang tepat dan luar biasa seperti malaikat  pelindung dari Tuhan Yesus….. Yesus  berkata pergilah…..Aku akan menyertai kamu sampai kesudahan alam  band. Mat 28 : 18-20

POLISI INTEL KATAKAN: SEKARANG KITA NAIK  MOBIL  INI UNTUK MENUJU KE KANTOR POLISI.

Intel polisi  dan  Pdt. Theo pergi ke kantor polisi.  i a  membawa mobil dengan tenang.

Diatas mobil  polisi persilahkan  untuk menghidupkan mobil truk mini ini dan bawa kekantor polisi, dengan tenang pdt. Theo membawa mobil ini sampai di kantor polisi, sedang kedua orang  tertabrak tsb telah diurus masuk rumah sakit umum; sesampai dikantor polisi diserahkan kepada piket polisi lalulintas di kantor tsb. ; maka KTPnya  ditahan  dan Pdt Theopun  boleh pulang ke rumah  berpisah dengan intel polisi yang baik hati ini; sampai sekarang Pdt Theo tidak tahu nama Intel polisi tsb, itulah sebuah tugas intelejen yang manis menyelamatkan Pdt Theo; Terma kasih  pak Intel, terima kasih  pak polisi yang baik hati, semoga Tuhan  yang memberkati keluargamu dan membalas kebaikan  hati dan  pelayananmu yang sangat profesional dan penuh kasih itu.

ISTERI & MAMA MERTUA  WAS-WAS MENUNGGU DIRUMAH  PASTORY.

Pastori GPIB Banda Aceh, waktu Pdt Theo bertugas (1977-1983)

Pada saat itu, Ny, Nelly  ditemani mama mertua Ny. Pauline Lilipaly  yang mempersiapkan dan menunggu  hari  untuk melahirkan anak pertama , suasana tambah bergumul tak menentu… karena  berita insiden tabrakan ini disampaikan kepada keluarga, tidak membawa ketenangan, tetapi menambah pergumulan,…..dia (pdt. Theo) katakan  serahkan pada Tuhan hidup kita, maka Yesus pasti dapat mengatur semuanya dalam pimpinan  Tuhan Yesus.Semua berkumpul dan berdoa kepada Tuhan , mohon  ampun dan minta pimpinanNya yang terbaik untuk semua jalan hidup kedepan.

TELAH TERBENTUK TEAM PENYELESAIAN MASALAH TABRAKAN INI.

Ketua team  Mayor pol.Karim sembiring didampingi Drs Mester  Sebayang, Drh. R. Barus, Drs Term Ginting, drs Telaumbanua bersama Kapten TNI AD Siby kapten TNI AD Akap sebayang  dan beberapa nama yang tak dapat disebutkan disini mereka kerja, baik mencari dana,  menghubungi  pasien yang ditabrak bahkan membawa Pdt Theo ke rumah sakit menjenguk pasiennya, ternyata seorang rawat jalan dan pak kepala desa (pak kecik) sudah mau keluar dengan bayaran  nya gratis karena punya kartu asuransi pengobatan sebagai seorang  Veteran..

Tradisi di Aceh kalau datang menjenguk dan membawa gula , kopi  berarti selain ada perhatian, juga dianggap saudara, maka terjadilah keakraban  kekeluargaan  diantara  mereka begitu luar biasa  kuasa Tuhan nyatakan  dalam proses ini….dan memakai  warga GPIB  yang  tau tradisi tsb.

DIADAKAN  SYUKURAN  BERSAMA  ( B A S E J U K )  DIKAMPONG PAK KECIK

Di ruang serba guna mesjid ini, rombongan Pdt Theo di terima untuk “Basejuk” (Syukuran bersama)

Semua sudah berjalan aman dan lancar, maka diadakanlah basejuk(syukuran bersama) dikampung  pak kecik kira-kira 10 km dari kota Banda Aceh… rombongan  bersiap-siap berangkat ke sana dengan membawa persiapan, termasuk uang pembangunan pak kecik    Rp  50.000 ,  hilang pada waktu  terjadi insiden  tabrakan tsb. Menurut kisahnya, apakah ini adalah tipu Aceh, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Semua diterima dengan baik  dan penuh kekeluargaan, dimana diadakan di gedung  serbaguna  Mesjid kampung itu.Dalam acara tersebut diadakan evaluasi , maka ada   pesan-pesan  yang diumumkan untuk semua pihak

  1. Kepada pendeta Theo Natumnea: agar   berhati-hati membawa kendaraan
  2. kepada pak kecik dan temannya: agar kalau hari jumat beribadah ke mesjid
  3. kepada semua : terimalah peristiwa ini untuk mempererat persaudaraan, sebangsa dan setanah air, walaupun pertemuannya  dengan jalan  ini
  4.  Kepada semua :tingkatkan toleransi kerukunan antara agama  satu sama lainnya.

Setelah semuanya selesai dalam acara basejuk ini, bersalamanlah mereka satu sama lain dan pulanglah team  bersama pdt Theo natumnea dengan puas, karena  team kerja begitu manis dan cepat membawa hikmah persaudaraan  baik intern jemaat GPIB Banda  Aceh, maupun dalam hidup bermasyarakat.

SEPEDA TUA  DIGANTI DENGAN HONDA  BEBEK.

Sepeda motor bebek Hijau, mengantikan sepeda ontel. sebagai kendaraan dinas Pdt Theo di Aceh

Puji Tuhan,  pemberian bapak Drs H.D. Tundang kepada Pdt.Theo, namun pdt Theo serahkan ke gereja untuk menambah Inventaris , jadi kendaraan milik gereja   sudah dua yaitu sepeda tua dan motor Honda bebek.

Kalau di Aceh saudara  jangan   salah sebut , karena motor artinya mobil dan   kereta artinya motor, karena  hiruk pikuk   hari-hari becak bermotor yang melayani masyarakt di Banda Aceh

Motor Honda bebek ini di pakai sampai pindah, tetap berjasa untuk pelayanan yang menambah semangat pdt Theo  dalam  menjangkau yang lebih jauh lagi. Dapat ditempuh dalam waktu yang singkat.

LAHIRLAH  ANAK PERTAMA  DAN DIBERI NAMA  JEANNE  PAULINNE MANECHAN NATUMNEA

Puji Tuhan, lahirnya anak pertama: Jeanne Paulinna Manechan Natumnea

Puji Tuhan, bahwa kasih Tuhan menyertai keluarga muda ini, dengan didampingi oleh  Ny.Paulinne Lilipaly,   isteri walikota Balikpapan, maka ny. Nelly Natumnea mendapat kekuatan tersendiri, karena  ada Tuhan Yesus  dan disamping nya ada mama kandung,   bersama umat GPIB khususnya kaum hawa ke RS TENTARA KODAM I ISKANDAR MUDA  tempat kerja  ibu Mester Sebayang,   Ibu Term Ginting dan bapak  kapten TNI AD  Akap Sebayang…… untuk menunggu kelahiran anak pertama,

Semua umat  khusus ibu-ibu, karena beberapa ibu yang disebutkan  namanya diatas  bekerja dia RS tsb. sudah berkumpul dan keluarga besar Maluku : ikatan  sosial keluarga Maluku (IKASOMA) BANDA ACEH, untuk sumbang darah dalam  rangka operasi saesar sesuai keputusan dokter dimana  pdt Theo adalah penasehat IKASOMA.

Pdt Theo sedang menggendong Jeanne

Pada saat  ia  pulang ke rumah  dan sementara  mandi dikamar mandi  yang berpagarkan seng dan terbuka   dinggir sumur tua itu :     ada suara  panggilan pak pendeta…pak pendeta…segera ke Rumah sakit, mereka menunggu …., ibu memnggil terus  disana…..Secepat kilat semua diselesaikan dan segera   ia berangkat dengan sepeda  tua, puji Tuhan ibu siap melahirkan tanpa operasi.

Oe…oe…oe…. Syukur pada Tuhan Yesus yang ditunggu sudah datang   sebagai anegerah pertama  bagi keluarga muda ini dan diberi nama JEANNE PAULINNE MANECHAN NATUMNEA adalah  anak pertama  pemberi semangat dan pembawa kebahagiaan tsb…Inilah penjelasan nama anak : …………JEANNE; KARENA BULAN JANUARI  …..PAULINNE  : NAMA OMA Ambon …..       MANECHAN   artinya   ::ANUGERAH  (BAHASA TIMOR)              DAN               NATUMNEA ADALAH  FAM…ATAU.        NAMA KELUARGA      TIMOR AMARASSI.

SERING   MEMBELI CEKER DAN KEPALA  AYAM

Lauk tambahan keluarga, ketika Pdt. Theo kekurangan uang, karena gajinya      hanya Rp. 50.000

Sejak  Nelly melahirkan, otomatis yang ke pasar adalah Pdt Theo…. pengeluaranpun makin bertambah membuat pendeta Theo harus putar otak untuk mencukupi  uang belanjaannya.

Banyak akal, dimana yang paling murah adalah ceker dan kepala ayam , maka tak heran ia pulang dari pasar dengan membawa belanjaan yang cukup banyak yaitu kepala ayam dan ceker.

Mama mertua  Ny.Paulinne Lilipaly membuka belanjaan  ….heran, dan menangis, serta bertanya : Theo kenapa kepala ayam  dan ceker  begitu banyak dibelinya ? Ia diam dan tidak menjawab.

Kadang kala  mencari daging sapi pada sore hari, akan mendapatkan  harga murah, apalagi menjelang hari raya, pada sore hari harga daging  sapi pasti sangat murah , karena pedagang akan segera pulang rumahnya  untuk  mempersiapkn diri merayakan hari rayanya.

GAJI PENDETA THEOFILUS NATUMNEA SEBESAR RP 50.000

Tak heran  belanjaan seperti kepala ayam dan ceger, gaji pendeta hanya  Rp 50.000 sesuai SK Majelis Sinode, itupun sering  terlambat dibayarkan kepadanya.

tiap bulan mendapat gaji, Rp. 30.000 dari GPIB Jemaat Banda Aceh dan Rp. 20.000 dari GPIB Jemaat Sabang. yang kadang terlambat diterima.

Menjadi ketua  Majelis  jemaat GPIB  Banda Aceh dan Ketua Majelis jemaat GPIB Sabang,  serta bertanggung jawab sebagai pendeta jemaat untuk ke dua jemaat ini,  dengan konsekwensi logis  ialah  gaji Rp50.000  diperinci  sbb.Jemaat GPIB Banda Aceh menanggung Rp.30.000 dan jemaat GPIB Sabang menanggung 20.000 dan membagi tenaga yang adil  : dua bulan di Banda Aceh dan sebulan di Sabang atau kadang  kala tiga minggu di Banda Aceh dan dua minggu di Sabang jika bulan itu ada lima minggu dan… sewaktu-waktu  jika ada urgensi pelayanan dalam Jemaat.

JEMAAT GPIB  SABANG :  DARI  KM  NOL  UJUNG  BARAT  INDONESIA

Pelayanan pertama dari Km 0, Indonesia bagian Barat, Kota Sabang Pulau We

Pelayanan pertama dari Km 0, Indonesia bagian Barat, Kota Sabang Pulau We

Ia melayani dari kilometer nol (km – 0) Indonesia yaitu  jemaat GPIB Sabang. Jemaat kecil ini punya potensi luar biasa,  warga jemaatnya  yang terdiri dari suku batak, tionghoa, timor, toraja, jawa, manado, ambon dlsbnya ini, tersebar dalam pelbagai tugas dan kedinasan baik di pemerintah,ABRI dan juga swasta.

Rata-rata mereka memiliki kebun cengkah, sehingga  ketika harga cengkeh melonjak tinggi, masyarakat dan warga jemaat ini makmur, karena punya penghasilan tambahan yang besar dari menjual cengkeh ini.

Dalam keadaan demikian bila ditimbang  dan dikembangkan secara ekonomi, maka jemaat kecil ini punya kemampuan untuk mandiri menanggung seorang pendeta /ketua mejelis jemaat tersendiri.

Dari inspirasi inilah mulai ada pemikiran yang dikembangkan  dalam diskusi dan berlanjut dalam program kerja, bahwa sudah waktunya untuk menerima dan menanggung secara tanggung jawab penuh seorang  pendeta/ketua  majelis jemaat secara penuh.

IBADAH KELUARGA DALAM BAHASA TIONGHOA.KM NOL BARAT INDONESIA

Pdt. Theo, mengadakan inovasi untuk memjawab pelayanan bagi orang Thionghoa bersama denga Pak Kecik, tua-tua orang Thionghoa

Pdt. Theo, mengadakan inovasi untuk memjawab pelayanan bagi orang Thionghoa bersama denga Pak Kecik, tua-tua orang Thionghoa

Untuk merangkul warga jemaat  yang berasal dari suku bangsa Tionghoa, maka majelis jemaat setuju untuk sebulan sekali warga jemaat   ini  mengadakan kebaktian keluarga dalam bahasa tionghoa

Pasti yang mendapat jadwal /giliran  menerima kebaktian adalah orang tionnghoa, ini memberi  dampak positip dan  semangat tersendiri bagi mereka, sehingga jumlah mereka semakin bertambah, karena diakomodir kebutuhan bahasa mereka yang meminta untuk mmengadakan kebaktian selama ini

Dalam ibadah ini sering terjadi diskusi-diskusi menarik antara  mereka yang dipimpin pendeta, tentang  makanan  dan sajian yang telah dipersembahakan kepada roh-roh nenek moyang, : apakah dimakan atau tidak dimakan ?

Jelas bahwa tidak boleh dimakan bagi orang Kristen, dan kalau mereka yang makan adalah yang beragama kongfucu:  mereka makan sesuai dengan persembahan dan anjuran agama mereka..kepada  roh-roh nenek moyangnya.

Mengapa diskusi ini menarik ? Jelas diskusi ini hangat,karena   keluarga tionghoa di sabang, anggota keluarganya tidak semuanya Kristen, ada yang kristen, katholik, kongfucu bahkan ada yang islam, disinilah mereka belajar toleransi dalam hal pergaulan tetapi dalam  iman tidak dapat  ditolerir  dalam hal apa saja, kecuali saling menghormati satu sama lain dalam kehiidupan praktis ini.

UTUSAN KHUSUS WARGA TINGHOA MENJADI MAJELIS JEMAAT GPIB SABANG.

Hal ini dibijaki oleh majelis jemaat melalui dorong pendeta Theo,  atas usul dari mereka yang berasal dari  orang tionghoa warga jemaat GPIB sabang,

Memnempatkan Pak Kecik menjadi majelis Jemaat GPIB Sabang tanpa Pemilihan sebagai jawaban untuk memcapai orang Thionghoa

Memnempatkan Pak Kecik menjadi majelis Jemaat GPIB Sabang tanpa Pemilihan sebagai jawaban untuk memcapai orang Thionghoa

Mengapa usul ini disetujui, yang seolah-olah berbau eksklusip dan berbau  r a s   dan sukuisme ?

Potensi mereka cukup besar sumbangannya secara ekonomi, tetapi dari periode ke periode  untuk mendapat suara  sebagai calon majelis jemaat GPIB Sabang tidak pernah terjadi, karena itu usul ini diakomodir, dan dikembangkan serta dijawab serta posiitip pergumulan mereka ini, akhirnya pak Kecik orang tertua  mereka  ditahbiskan menjadi anggota majelis jemaat bersama anggota majelis jemaat  yl sehabis pemilihan penatua dan diaken berdasarkan surat kepatusan majelis sinode GPIB

Maka msemakin lengkaplah  inovasi yang dilakukan oleh Pdt Theo, untuk menjawab masalah pelayanan untuk membangun jemaat dan untuk hormat dan kmuliaannama Tuhan amin

LAHIR ANAK  KEDUA  DIBERI NAMA  ORRY  REGINA  NATUMNEA

Setahun  sepuluh bulan setelah lahir anak pertama, maka lahirlah anak kedua  , diberi nama Orry Regina Natumnea. .. diklinik  bersalin  REBECA  Banda Aceh. Kalau anak pertama   lahir  di rumah sakit Tentara dan membuat semua  cukup sibuk,  maka  anak kedua lahir tak  seorangpun yang tahu… hanya Tuhan, Bidan Rebeca dan Ny. Nelly yang tahu proses persalinannya. .

Pdt Theo, bersama Jeanne dan Orry, berada di Rumah adat Aceh

Dikala itu  Ia (Pdt Theo)  pulang cuci  pakaian  dipagi subuh setelah mengantar Nelly Isteri tercinta di klinik tsb, dan selesai cuci ia kembali ke klinik bertemu dengan  Bidan Rebeca, ia berseru Pak Pendeta : Trio pak Pendeta, Trio maksudnya duet, artinya sama-sama nona dengan kakanya Jenny.  ibu sudah melahirkan tadi ditangan saya, puji Tuhan : lahir dengan sehat dan selamat, Ia (pendeta Theo) bertemu isteri dan menciumnya serta berdoa mengangkat hati dan syukur pada Allah dalam Yesus Kkristus, bahwa peroes lahirnya  anak kedua ini   secra diam-diam dengan  anugerah Tuhan.

Ia (Pdt Theo) tidak menyiapkan nama  seperti  kakaknya,  bahkan yang    sudah  disiapkan  adalah nama laki-laki, karena gerakannya seperti laki-laki, …. ternyata  puiji Tuhan  perempuan , maka dirancang   dan diberi nama  Orry Regina  Natumnea…Orry artinya adik(bahasa Timor) regina  nama oma Timor: ibunda  pdt Theo Natumnea  dan….. Natumnea adalah  Fam  atau nama keluarga Timor  …Amarassi.

KELELAWAR MENYUSUP DALAM JACKED DAN MAU BERTENGGER DI DAERAH KATEAK.

“awas.. awas kelelawar..!!” ..eeh tiba-tiba dia  masuk  dalam jacked yg terbuka   dan mau hinggap di ketiak Pdt Theo

Dalam suatu pelayanan, ke batalion  TNI Arhanude Ketapang , yang berada diatas motor ini  empat orang: yaitu Pdt.Theo, Nelly ( isteri ) , Yenny (anak I) dan Orry( anak kedua) ..motor berjalan pelan…pelan   pada sore hampir gelap,  tiba-tiba menyusup masuk seekor kelelawar hitam besar dalam jacked dan mau bertengger di kateak, terpaksa motor  dihentikan i dan menyelesaikan masalah serius ini, karena  mereka hampir terjatuh.

Kecepatan  Penanganan  dan penyelesaian masalah ini, mau menggambarkan bahwa   walaupun  dengan  sebaik-sebaiknya  kita melayani, selalu ada tantanngan, , tetapi dalam   kesabaran dan penyerahan   kepada Yesus pasti ada  jalan keluar dan  penyelesaian yang terbaik dari Dia  yang empunya ladang  ini. Ialah Yesus.

Mereka meneruskan perjalanan pelayanan ke Asrama TNI  Batalion Arhanude  diKetapang   yang   kira-kira 15  km dari  pinggir kota Banda Aceh.

BELAJAR KEADAAN JEMAAT DALAM BERKUNJUNG:MENDENGAR, MELIHAT & MEMAHAMI.

Sesuai pesan para senior agar jangan gegabah bertindak sesampai di jemaat baru, apa lagi jemaat yang bertahun-tahun  tidak pernah ada pendeta, sebab bisa menimbulkan persoalan, karena itu pendeta   Theo  memahami benar  bahwa kedua jemaat ini,    selama Indonesia  merdeka belum pernah  mendapat  seorang  pendeta untuk menjadi ketua Majelis jemaat dan Pendeta Jemaat.

melihat dengan mata Yesus, mendengar dengan telinga Yesus dan memahami dengan hati Yesus. untuk menampung pergumulaan warga Jemaat dalam doa dan pelayanan

Banyak mendapat ceritera yang didengar…banyak  pemandangan yang  dilihat dan dipandang   serta banyak  pengalaman  yang dipahami , ia menjalankan semua ini  dan memahaminya   berbulan-bulan lamanya, menunggu momentum yang tepat untuk mengambil langkah dan bertindak secara organisatoris, kecuali pelayanan  rutin dan mendesak dari segi pelayan firman dan sakramen yang adalah tugas khusus seorang Pendeta.

Cara masuk yang  manis dan indah ini , merupakan  suatu pelajaran sendiri baginya… supaya    sabar dan sabar,  tabah dan tabah  dan dengan rendah hati  serta buah Roh kudus lainnya,  bnd Galatia 5 : 22-23;  jangan gegabah bertindak, untuk itu menghormati dan menghargai  seluruh anggota majelis jemaat yang telah menanamkan fondasi pelayanan dan pemeliharaan jemaat selama ini.

APA RESEP  YANG DITABUR PAK PENDETA  T H E O   PADA KEDUA JEMAAT INI.

Inilah pertanyaan  Ketua Majelis Sinode GPIB,  Pendeta Sahetapy Engel M.Th , ketika ia berkunjung ke Banda  Aceh dan Sabang; Beliau terheran-heran, karena beberapa tempat yang baru ditempatkan Pendeta…..sesudah beberapa lamanya tidak ada pendeta  jemaat,  selalu ada  persoalan  yang harus diselesaikan oleh Majelis Sinode GPIB.; Karena itu selain berkunjung sebagai pimpinan GPIB, ia mencari tahu rahasia pelayanan  yang ditaburkan secara tepat guna  dan berhasil guna  untuk kedua jemaat ini, sehingga  tidak ada   gejolak & gelombang  masalah, tetapi  rukun  dan  saling pengertian satu sama  lain.

Gedung GPIB Sabang di atas Bukit ini ,  berbatasan dengan Mess COBOY asrama Ankatan Laut

Pelayanan di jemaat : kita tidak boleh berteori lagi,  bahkan kadang kala dalam teori tidak ada, kita diwajibkan untuk menciptakan  teori baru, guna  menjawab masalah yang dihadapi,  tidak perlu menunggu  petunjuk dari pimpinan, karena jawaban sesuai dengan situasi dan kondisi harus segera diciptakan  untuk menolong  menjawab  masalah secepatnya dalam pimpinan Tuhan.

Jawabannya seperti  uraian diatas bahwa: mendengar, melihat dan memahami  beberapa waktu lamanya, sambil menghormati kebijakan yang telah ditanamkan  oleh para penatua/diaken dalam kesendirian mereka memimpin jemaat ini, adalah hal yang mutlak  bagi seorang  pendeta  baru.

Menunggu waktu dan momentum yang tepat dan dengan hati-hati membuat perubahan, sehingga tidak terjadi gejolak dan persoalan baru yang akan menimbulakn pro dan kontra dalam jemaat.

Salah satu  momentum yang  paling  tepat ialah ketika terjadi pemlihan penatua dan diaken, adalah kesempatan besar untuk mengadakan perubahan tanpa gejolak, walaupun  sering terjadi gelombang kecil, tetapi dengan pendekatan yang tepat dapat meredam  dan meratakan gelombang tsb.

Roh Kudus penolong kita, yang memimpin dan memberkati  pendeta muda ini, sehingga dari  kilometer nol… ia mampu menerapkan strategi dari  Tuhan yang tepat untuk kedua jemaat ini..Puji Tuhan…biarlah nama Tuhan dipuji dan dimuliakan untuk  kelebaran kerajaanNya.

MEMBANGUN GEDUNG SERBAGUNA GPIB

Dalam semangat pembangunan material, terbentuklah panitia pembangunan  gedung serbaguna, walaupun  ijin  belum keluar, karena sudah setahun lebih mereka menunggu, maka mulailah pembangunan gedung  serba guna GPIB  tsb dibangun.

Ruang Serba guna ini menjadi tempat ibadah ketika gereja tua rusak karena gempa bumi.

Pada saat wali kota  inspeksi  dan mengadakan  pemeriksaan kota dalam rangka MTQ Nasional ke XIII di Banda  Aceh,  dilihatlah gedung baru  yang sementara dibangun dihalaman gereja GPIB.

Pagi-pagi  benar petugas  keamanan kota madya datang  dan memanggil pendeta Theo untuk bertemu dengan wali kota; hal ini ditunda  oleh Pdt Theo selama  seminggu, untuk mengatur strategi bersama paniitia Pembangunan  dalam menghadapi beliau.

Rombongan panitia Pembangnan  bertemu walikota madya untuk menyampaikan aspirasinya : bahwa gereja  tua sudah rusak, umat sudah menyumbang semen dan kayu, jika tertahan lama , maka semen menjadi batu, dan kayu menjadi lapuk, sedang gereja tua tidak dapat dipertahankan lagi.

Perembukan terjadi dalam suasana panas, akhir tertunda tiga bulan, dan selanjutnya  mereka membangun sampai selesai, sehingga ketika terjadi gempa bumi dan gereja lama  tidak dapat dipergunakan lagi maka   gedung serba guna inilah tumpuan harapan jemaat untuk beribadah dan segala aktifitas lainnya berlangsung di gedung  serba guna ini, karena telah diresmikan oleh Bimas Kristen Protestan Provinsi D.I. Aceh, atas nama pemerintah.

PW YUNIOR ADAKAN IBADAH & DISKUSI DIBANDA ACEH.

Sejak dulu Pdt. Theo sudah berinovasi untuk mengumpulkan anggota PW Yunior dalam komunitas tersendiri dimana ketua PW adalah Ny. Nelly Natumnea

Sejak dulu Pdt. Theo sudah berinovasi untuk mengumpulkan anggota PW Yunior dalam komunitas tersendiri dimana ketua PW adalah Ny. Nelly Natumnea

Ibu-ibu muda bersama Ny Nelly Natumnea, mengadakan ibadah dan diskusi tentang kehidupan rumah tangga mereka yang baru mulai, agar mencari solusi dalam pergumulan keluarga dan rumah tangganya dalam kuasa Yesus Kristus.

Mereka merasa terlalu muda untuk mengikuti acara  dan ibadah  PW yang rata-rata diikuti oleh ibu-ibu  yang sudah  tua yang dipanggilnya tante atau ibundanya, karena itu  kelompok ini merupakan jawaban atas pertanyaan  dalam pergumulan mereka yang tepat yaitu kelompok pw yunior.

Dalam hal ini Ny. Nelly Natumnea merangkul mereka dan mengusulkan  serta mulai menggerakan ibu-ibu muda ini untuk beraktifitas dan mencari jawaban atas pergumulan mereka ini, namun tiap bulan hanya sekali adakan pertemuan, dan tidak meninggalkan ibadah PW jemaat, tetapi menjadi pendorong untuk aktifitas PW jemaat semakin giat melayani Tuhan  di serambi mekah ini.

Pengurus PW jemaat juga memberi restu dan  motivasi  untuk ibadah dan diskusi ibu-ibu muda ini tetap berjalan  dalam melengkapi  program PW jemaat sebagai bagian  dari aktifitasnya.

NY.NELLY NATUMNEA  MENJADI  KETUA PW JEMAAT  GPIB  BANDA ACEH

gabung copye

Walupun masih muda, tapi sudah ditunjuk sebagai ketua PW GPIB Banda Aceh, mendamping Pdt. Theo, di serambi Mekhah

Hal ini dilatar belakangi oleh pengalaman ibu-ibu yang berasal dari GBKP,  bahwa isteri pendeta( Nyora)  adalah ketua kaum ibu, maka mayoritas anggota pw yang berasal dari GBKP ini ingin agar pengurus pw jemaat Banda Aceh ini dipimpin oleh  Nyora, Ny Nelly Natumnea

Walaupun berulang kali ia menolak dengan  konsultase dengan suaminya  yang adalah Pendeta /Ketua Majelis Jemaat gereja ini,  dan diberi penjelasan bahwa peraturan GPIB tidak memungkinkan  untuk  seorang isteri pendeta  menajdi ketua pw, tetapi mereka tetap minta dengan sangat untuk  periode  ini saja  ny Nelly di daulat menjadi ketua pw jemaat

Setelah berkonsultase dengan pihak Majelis sinode GPIB ,maka membolehkan karena daerah khusus Istimewa  Aceh dan atas  dorongan serta kemauan dari anggota pw  untuk membangun dan melayani jemaat Banda Aceh.

Maka dilantiklah badan pengurus bpk  oleh pendeta jemaat, pendeta Theofilus natumnea, dalam pelantikan ini semua nama pengurus  dibacakan termasuk nama ketua pw Ny. Neeltje Petronella Natumnea-Lilipaly, sang isteri yang kekasih ini, selamat melayani nyora, beta pasti dukung jua dengan sepenuh hati

Gebrakan pertama  sesudah pelantikan selain rapat,  mengaktifkan semua pengurusnya dan bekerja sama dengan ibu Baatje Pardede- yang sama- sama Lilippaly nya ini  membuat semangat  membangun pw jemaat Banda Aceh.

Ketrampilan tangan ibu Baatje Pardede- Lilipaly diidukung ibu Mester  Sebayang, ibu Tresya Ginting, ibu Akap Sebayang ini membuat ketrampilan  latihan masak macam-macam resep untuk ibu-ibu, supaya makanan enak disediakan  ibu-ibu dirumah, agar bapak bapaknya  tidak mencari makanan  enak diluar rumah, restoran dan  kafe-kafe dllnya…terpujilah Tuhan Yesus.

MENDUKUNG  PAK SIMANJUNTAK UNTUK PIMPIN KOOR  AKBAR  DI MTQ   KE XIII.DIBANDA ACEH.

Paduan Suara pada saat MTQ

Beliau adalah teman baik, maka pak Simanjuntak  minta nasehat dan dukungan untuk melatih dan memimpin paduan  suara akbar  dalam pembukaan MTQ XIII di Banda Aceh dilapangan Blang padang yang luas dan megah,  salah satu cahaya orang Kristen dalam kurukunan  antar umat beragama di serambi Mekah ini..

Penuh antusias  Pendeta Theo menasehatkan dan mendukung, bahwa inilah kesempatan untuk manjadi saksi Tuhan dalam pelayanan ditengah masyarakat daerah Istimewa Aceh ( nanggro aceh darusalam) sekalipun dalam suasana MTQ ke XIII ini.

SEMUA BUKU SESUAI ORDINANSI GPIB DITULIS OLEH NY. NELLY (ISTRI) DI JEMAAT GPIB SABANG.

Jemaat GPIB Sabang belum memiliki pegawai gereja, karena itu atas tuntunan Pdt. Theo, maka nyora , Ny. Nelly dengan sukarela  mau menulis semua buku sesuai ordinasi GPIB seperti buku-buku sebagai berikut: Buku Anggota Jemaat, Buku Anggota Majelis Jemaat, Warga Jemaat Baru, Kelahiran, dll. Itu semua adalah buah tangan Nelly berserta sukarelawati,  dalam komitmen untuk melayani Tuhan Yesus, karena tulisannya lebih baik dan lebih indah  dari pada tulisan  suaminya  pendeta Theo.

Walaupu Ny. Nelly bukan anggota GPIB tapi Ny. Nelly telah menuliskan buku ordinansi GPIB, antara lain data Baptis, Sidi & Nikah

Walaupu Ny. Nelly bukan anggota GPIB tapi Ny. Nelly telah menuliskan buku ordinansi GPIB, antara lain data Baptis, Sidi & Nikah

Hal ini dilakukan sehabis urusan rumah tangga, masak, cuci dlsbnya, maka waktu senggang itu tidak terbuang percuma, dipergunakannya untuk mempersiapkan dan menulis semua buku yang disebut diatas, guna melengkapi  administrasi  jemaat, yang baru pertama kali menerima pendeta, sejak Indonesia merdeka ini.

Inilah yang disebut  merintis  semua bentuk pelayanan dijemaat, tanpa diperintah, ia menginovasiya, memakai isterinya untuk turut melayani dan bekerja selayaknya seorang pegawai kantor jemaat tanpa pamrih.

MENJADI JURI  DALAM PERTANDINGAN PADUAN SUARA SEBELUM MTQ  .

salah satu Juri adalah Pdt. Theo

Panitia meminta Pdt Theo untuk menjadi Juri  pertandingan paduan suara antar ibu- ibu menjelang MTQ ke XIII, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh  sang Pendeta,  dan  terjunlah ia bersama juri yang lain untuk memberi penilaian dalam berbagai segi penampilan paduan-paduan suara tsb.

Pertandingan paduan suara itu bekerja sama dengan Ibu-ibu Persit Kodam Iskandar Muda dalam  rangka mengasah dan melatih suara untuk koor  akbar  MTQ ke XIII  diujung Barat negeri ini yaitu  serambi Mekah.

MEMPERSIAPKAN  JEMAAT GPIB SABANG UNTUK MENERIMA SEORANG PENDETA.

Arahan Pdt. Theo, untuk mempersiapkan warga jemaat  …akan menerima Pdt. Wagiman di GPIB Jemaat Sabang

Dalam program kerja GPIB Sabang direncanakan akan  menerima seorang pendeta/ketua Majelis jemaat,agar melayani penuh di jemaat GPIB sabang

Setelah dievaluasi, ternyata  jemaat GPIB sabang mampu menanggung biaya hidup seorang pendeta, yang akan melayani, maka sesuai SK Majelis Sinode GPIB ditempatkan  Pdt Wagiman Sm.Th  untuk jemaat GPIB sabang.

Adalah wewenang Majelis Sinode untuk memindahkannya dari  jemaat GPIB Cimahi jawab barat, ke jemaat GPIB Sabang D>I Aceh.

Setelah berjalan dua tahun  ada kericuhan dan terjadi blok jemaat dan blok pendeta,bahkan upaya  perdamaian pun tak dapat menpertemukan mereka, sehingga Pdt Wagiman ditarik  dari Jemaat GPIB Sabang untuk sementara menunggu di kantor Majelis Sinode GPIB , tempat parkiran pendta GPIB yang bermasalah dengan  bidang staf umum.

Pendeta Theo kembali merangkap pelayanan di jemaat ini selama tiga tahun,  hal ini dilaksanakannya sampai pindah  (mutasi) ke jemaat GPIB Maranatha Banjarmasin maka  untuk jemaat GPIB  Sabang diganti oleh Pdt Sanjar dan  untuk jemaat GPIB  Banda Aceh diganti oleh Pendeta  Wati.

MENJADI KETUA MUSYAWARAH PELAYANAN (MUPEL)   SESUMUT-ACEH.

Berdasarkan  ketentuan  bahwa menjabat ketua mupel  seSumut- Aceh ini adalah secara priodik, maka ketika waktunya tiba jabatan itu diterimanya secara otomatis  tanpa pemilihan, karena secara  bergilir  memimpin mupel sumut-Aceh, sehingga semua dapat mengalaminya.

Dalam jabatan tsb. Menuntut kerja keras dan perhatian  yang lebih untuk seluruh jemaat-jemaat GPIB , baik di Sumatera Utara maupun di Daerah Istimewa Aceh… yang  kini disebut Nangro Aceh Darusalam.

Dengan demikian rapat-rapatpun bergiliran tempat rapatnya, sehingga semua jemaat dan utusannya semakin akrab dan mengenal satu dengan yl; Hal ini membuat lebih mudah untuk saling melayani & membantu, karena kehadiran jemaat-jemaat digaris depan ini perlu wawasan kebersamaan yang erat.

MENJADI   KETUA    P G I S    BANDA   ACEH

Komunitas Kristen melalui gereja-gereja di Banda Aceh memilih Pdt. Theo menjadi ketua PGIS sebagi embrio PGI Wilayah

Komunitas Kristen melalui gereja-gereja di Banda Aceh memilih Pdt. Theo menjadi ketua PGIS sebagi embrio PGI Wilayah

Puji Tuhan atas kerja  sama semua gereja anggota  PGI  dan dorongan dari PGI WILAYAH  SUMUT – ACEH, terbentuklah  pengurus  Persekutuan Gereja- Gereja  Setempat Banda Aceh (PGIS  BANDA ACEH) yang  diketuai oleh  Pendeta Theofilus  Natumnea, ia mulai berkiprah  secara Oikoumenes   dalam membina  dan menyatukan  HKBP, GMI dan GPIB  dalam visi dan misi oikoumenes …ditanah rencong ini.

Mereka bekerja sama  untuk membangun Natal  ABRI DAN MASYARAKAT,  yang sebelumnya didahului dengan acara  – acara  yang   bertujuan  untuk memeriahkan  Natal  tsb   seperti  pertandingan :  vocal group,  solo, dan  pesparawi  antara gereja termasuk gereja katholik.

Dari wadah inilah  mereka  bertemu, berinteraksi , saling menguatkan  dan tampil  bersaksi, baik dipemerintahan , maupun dalam masyarakat, dimana aktivitas mereka dihargai dan mempunyai arti bagi gereja-gereja  serta  masyarakat .

Kehadiran  PGIS Banda  Aceh ini merupakan embrio untuk lahirnya  PGI Wilayah Aceh sampai sekarang ini,  untuk menggumuli  masalah-masalah kegerajaan, kemasyarakatan dan kebangsaan warga gereja sebagai warga Negara Indonesia yang hidup dan berada dalam dan ditengah-tengah masyarakat Indonesia   paling barat dan yang mejemuk ini.

PENYEGARAN IMAN OLEH PDT. SINAGA DAN  EVANGELIS  AMRAN AMRI.

atas nama PGIS Banda Aceh, Pdt Theo sebagai ketua mengundang Pdt Sinaga dan Ev. Amran Amri. untuk mengadakan Penyegaran Iman bagi warga gereja-gereja se Banda Aceh (GPIB, HKBP, & GMI)

Dalam  status sebagai ketua  PGIS  kerja sama dengan gereja-gereja  anggota dan berkoordinasi dengan  warga Kristen se Banda Aceh untuk mengadakan penyegaran iman bagi warga gereja  seBanda Aceh ini.

Beberapa kali mendatangkan pdt Sinaga dan.,sekali mendatangkan Evangelis  Amran Amri untuk memberi  siraman  Rohani Kristen  bagi umat , yang sedang haus akan  firman Tuhan   sehingga  disegarkan  oleh  para pendeta tamu dengan  latar belakang dan pengalaman rohani  yang berbeda  beda itu, adalah suatu kekayaan Tuhan yang dibagikan bagi umat Kristen .

Dalam kesaksian EV.Amran Amri bahwa Roh Tuhan bekerja, sehingga  isteri dan anak-anaknya satu persatu  menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat  Amin.

MENGIKUTI PESARAWI NASIONAL   PERTAMA   (  I  )  DI JAKARTA.

Ia menjadi team ofecial bersama teman- teman  yl,  untuk memimpin rombongan pesparawi  Aceh ke Jakarta;  Memang  tampilnya  kontingen Aceh dalam pesparawi nasilonal  I ini, member warna  tersendiri, bahwa  didaerah Aceh juga ada anak Tuhan serta mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat.

Tim Official kontingen Pesparawi DI. Aceh membawa rombongan Pesparawi dari Aceh ke Jakarta. sama-sama kontingen kecil utusan Kep. Mentawai, Sumbar

Tim Official kontingen Pesparawi DI. Aceh membawa rombongan Pesparawi dari Aceh ke Jakarta. sama-sama kontingen kecil utusan Kep. Mentawai, Sumbar

Apalagi waktu muncul kontingen dari Sumatera Barat yang diwakili oleh  rombongan  siswa-siswi SMA dari kepulauan Mentawai,  disambut dengan tepuk tangan yang meriah seperti kontingen Aceh, maka lengkaplah kesukaan dan kegembiraan gereja-gereja, bahwa semua Propinsi di tanah air  Indonesia  tercinta ini terwakili.

Motivasi mereka bukan mencari  juara, tetapi  mau menunjukan  bahwa Allah dalam karya  RohNya yang kudus  sementara bekerja dimana –mana termasuk didaerah Istimewa Aceh (Nangro Aceh Darusalam) dalam peran  ganda untuk meneguhkan  gerejanya dimata nasional dan  menjunjukan kemajemukan dapat diterima dan dipelihara masyarakat Indonesia diseluruh penjuru tanah air ini.

PERSIDANGAN SINODE GPIB  DAN PERAN  GPIB : BANDA ACEH & SABANG.

Salah satu sausana persidangan Sinode GPIB

Kehadiran  seorang  Theofilus Natumnea dalam kedua jemaat dewasa ini memberi arti organisatoris, dimana  sebelumnya  tidak ada utusan  kedua jemaat ini dalam persidangan Sinode GPIB, maka kali ini  ia mewakili kedua jemaat ini dalam persidangan Sinode GPIB, bahkan  ada   suara dan penampilan  Pdt. Theofilus yang memberi  warna dalam persidangan tsb.

Dalam  persidangan di Pandaan  jawa Timur, Ia melaporkan keadaan Jemaat di daerah Istimewa  Aceh  kepada  PANGKOPKAMTIB:   LAKSAMANA    S U D O M O, dan mengundangnya kalau datang lagi ke Aceh silahkan  singgah ke Pastori untuk minum teh   secangkir   pak jenderal … pasti punya arti  penting ….yang disambut tepuk tangan meriah oleh hadirin.

Mengikuti Persidangan Sinode dalam dua periode  yaitu  dua kali utusan dari kedua jemaat dewasa ini yang mewakili Aceh, karena  ia bertugas di Daerah Istimewa  Aceh (Nangro Aceh Darusalam) selama  enam tahun setengah, suatu periode yang cukup panjang , karena periode   GPIB  empat tahun  berarti   Ia bertugas didaerah ini selama  satu setengah periode dan mewakili kedua Jemaat dalam berbagai forum pertemuan.

BERSIAP-SIAP MAU PINDAH  KE  SERAMBI  MEDINA

Enam tahun setengah tak terasa, sesuai SK Majelis Sinode  GPIB, maka Pdt Theofilus  Natumnea dimutasikan  sebagai Ketua/Pendeta  Jemaat GPIB Maranatha Banjarmasin

Ikon kalimantan Selatan, Banjarmasin adalah Pasar Terapung, Pdt Theo dan Keluarga menuju kesana

Ikon kalimantan Selatan, Banjarmasin adalah Pasar Terapung, Pdt Theo dan Keluarga menuju kesana

Suasana belum tenang karena diserambi medina (Martapura) baru terjadi insiden  keagamaan , karena profokator, sehingga gereja-gereja dijaga  oleh aparat keamanan.

Hal ini tidak mengurungkan niat dan semangat  Pendeta  muda  ini untuk pindah bersama, iapun bersiap-siap mau berangkat ke Banjarmasin  yang didukung oleh keluarga, apalagi di Banjarmasin hanya selangkah jauhnya dengan kota  Balikpapan….tempat mertua   berdomisili.

Pengepakan barang-barang  seperlunya, karena  melewati  daratan dan pulau yang ia harus di tempuh oleh keluarga ini dan untuk mencapai kota Banjarmasin, betul kata seorang  petugas  pelabuhan Belawan… bapak Fredy Lalala  : bahwa barang barang pindahan Pdt Theo ini akan  tiba di Banjarmasin kurang lebih tiga bulan lamanya karena jarang  kapal laut kesana.

PERPISAHAN Di  SABANG DAN JUGA DI BANDA ACEH.

Kenang-kenangan 3 serangkai\; Pen. Titahelu, Pdt Paul Waney dan Pdt Theo Natumneo. diatas KM Ferry menuju sabang, untuk sidang Mupel  Sumut – Aceh

Berhubung kedua jemaat dewasa ini  berada di dua pulau, yaitu  Pulau sumatera dan pulau   W e , maka perpisahan diadakan selama  dua minggu, seminggu di  SABANG  dan seminggu di BANDA ACEH,  sehingga jemaatpun  lega melepaskan  gembalanya  pindah dengan  pelepasan yang membahagiakan dan melegakan….serta mengharukan itu.

Akhirnya , dengan hati yang gundah gulana,sedih bercampur segalanya, air mata mengalir ,,,,,baik oleh pengantar dilapangan terbang, maupun keluarga Pendeta Theo Natumnea  yang waktu datang baru berdua, kini pindah  (berangkat ) sudah  berempat karena lahir dua orang anak yang manis  mendampingi serta mendukung  keluarga pendeta Theo ini.

Apa mau dikata, selamat tinggal  jemaat GPIB Sabang,…. Dan….. selamat tinggal  jemaat GPIB Banda Aceh dengan segala kenangan pahit dan manis  pelayanan perdana yang indah tak terkirakan  diujung barat Indonesia kilometer nol ini….dimana saat-saat itu juga teman sepelayanan dan seperjuangan di Mupel sumut/aceh, pendeta Paul Waney sementara  semangat mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan Theologianya  dinegeri paman sam Amerika serikat yang sangat diidam-idamkan semua orang.

Pena sebanyak apapun tak habis menulis pengalaman Pendeta muda  yang energik ini siang dan malam mau melayani tanpa henti dan tanpa  kenal lelah , namun teman hidup isteri kekasih Nelly  siap untuk membantu sebagai pengalaman seorang perawat dan seorang bidan  yang dipakai dalam pelayanan pekerjaan Tuhan diserambi mekah ini.

TIBA DENGAN PASTI DALAM NAMA TUHAN YESUS  DI SERAMBI MEDINA.

Tugu antara lapangan syamsudin noer dan Banjarmasin dimana Pdt Theo melayani

Jemaat GPIB  Maranatha Banjarmasin siap menanti Pdt. Theo ,karena pdt lama sudah enam bulan lamanya meninggalkan jemaat karena  masalah khusus yang tak dapat diselesaikan dengan jemaat.

Nelly (Isteri), Yenny (anak I) dan Orry (anak kedua)  menggunakan kesempatan kepindahan ini untuk berlibur dua minggu dengan orang tua di Balikpapan, sedangkan Pdt.Theo tiba tepat waktu sesuai SK Majjelis sinode.

Team penjemputpun  dipimpin Bpk. Pen. Melly Watiheluw langsung bertemu Pdt Theo, langsung dibawa ke pastrory dari lapangan terbang untuk memulai hidup dalam wilayah baru  kesannya semuanya dikelilingi sungai, itulah Kota Banjarmasin yang   secara geografis  dua meter berada dibawah permukaan laut.

GAGAL MELAYANI SEORANG  TOURIST DALAM  KEADAAN LEMAH.

karena baru tiba, maka memberikan uang becak dan uang makan  serta  menunjukan gereja katolik untuk touris Autralia ini mencari perlindungan…karena dia agama katholik

Sore itu ia baru tiba dan sendirian di pastory karena isteri dan anak-anak masih berlibur di Balikpapan, untuk melepaskan rind yang tertahan selama ini kepada opa & oma Lilipaly; tiba-tiba datang seorang tourist laki-laki   yang berasal   dari Australia dan minta   bantuan  untuk tinggal karena  kehabisan uang dari  Kalimantan Tengah ,  dan lagi  pula dalam keadaan lemah karena lapar

Pdt Theo  pertimbangkan bahwa  ia senndiri baru tiba dan belum melaporkan diri pada RT setempat, tambah tamu yang lemah ini orang asing,  Ia bertanya  .  kepadanya  apa agamamu,  Tamu ini menjawab Katholik, maka disewakan becak dan diberikan uang Rp.500 serta menunjukan gereja Katholik disuruh tukang becak ini bawa dia ke gereja itu.

Memang  rasa menyesal, kenapa  tidak panggil Majelis Jemaat yl untuk menolongnya dstnya dstnya, tapi apa boleh buat semuanya telah berlalu dan menjadi pelajaran untuk penanganan pelayanan diakonia dengan sebaik-baiknya, kepada mereka yang lemah dan membutuhkan kita/gereja.

KEMBALI BELAJAR : MENDENGAR, MELIHAT DAN MAMAHAMI KEADAAN JEMAAT .

dari perkunjungan mendapat data warga jemaat dan dari mimbar berkhotbah untk membangun rohani, itulah ciri Pdt. Theo membangun Jemaat

dari perkunjungan mendapat data warga jemaat dan dari mimbar berkhotbah untk membangun rohani, itulah ciri Pdt. Theo membangun Jemaat

Jemaat GPIB Maranatha  Banjarmasin adalah sebuah Jemaat dari zaman Belanda, yang bertahan ditengah-tengah perkembangan  kota sungai, dimana sungai mengelilingi kota  ini.

Diadakanlah perkunjungan  dari rumah ke rumah, adalah salah satu dari khas pelayanan Pendeta Theo ini, sambil mengenal keadaan jemaat, mendengar apa yang mereka ceritakan dan memahami dengan tekun , sambil mencari jalan keluar yang perlu.

MENURUNKAN KAIN MERAH (JIMAT PENJAGA RUMAH) DIRUMAH WARGA JEMAAT.

Ia bertanya dalam kunjungan rumah itu: apa isi kain merah didepan pintu itu,  dan apa fungsinya ? Pemilik rumah  menjawab: isinya jimat penjaga  rumah, sehingga kami terpelihara dari segala serangan kuasa dari dunia lain. Ia bertanya lagi siapa yang kasih dan pasang dirumah anda ? mereka menjawab Om Nyo  Pendeta Theo bertanya lagi om Nyo itu siapa ….. jawab mereka dia adalah warga jemaat GPIB Maranatha Banjarmasin rumahnya dekat gereja yaitu sektor I

Menurunkan Jimat, warga jemaat yang terpampang di ambang pintu rumah mereka

Data-data ini merupakan pokok doa  bagi PdtTheo, , ia mulai  tambah rajin berkunjung ,karena banyak rumah yang memiliki kain merah yang sama, maka doapun sasarannya  sama ialah  agar menurunkan  kain merah dari rumah ke rumah dan menunggu waktu yang tepat untuk  memanggil dan berdoa  bersama om Nyo ini… yang adalah dukun GPIB?

MENURUNKAN  SEMUA KAIN MERAH DALAM NAMA YESUS.

Dimulailah  dibentuk team  untuk  mengadakan pembersihan rumah tangga, bagi yang memiliki kain merah tsb…satu persatu dibersihkan dan diturunkan kain merah itu sampai habis. Dalam nama Yesus.

Dalam Peperangan Rohani Yesus pasti menang semua Jimat kain merah diturunkan

Dalam Peperangan Rohani Yesus pasti menang semua Jimat kain merah diturunkan

Tersiar berita bahwa Pendeta ini selain rajinberkunjung, mata nya  tahu yang mana  yang tidak berkenan,makasegera ia bertindak untuk membersihkannya semua kain merah tsb dari rumah satu ke rumah lain.

ADA YANG MEMBERI JELUKAN’PENDETA ANTI DUKUN’

Mendapat julukan “pendeta anti dukun” dari Dr. Siagian dan beberapa warga jemaat lainnya  di Banjarmasin

Apapun namanya ia tidak pusing, semua yang dilihatnya bahwa umat yang  masih menduakan  Tuhan  dengan penyembahan kepada kuasa lain  dan mengharapkan perlindungan  dari jimat berupa kain merah  akan dibersihkannya.

Diantara kelompok-kelompok tertentu yang masih  mengharapkan hidupnya dari kuasa jimat-jimat itu,    memberi  jelukan Pendeta Theo adalah: “pendeta anti dukun”, ucapan ini juga  pernah dilontarkan  oleh Dr  Siagian seorang  tokoh   gerakan pembaharuan gereja di Banjarmasin

OM NYO DIPANGGIL  KE GEREJA JAM 12.OO MALAM.

Setelah membersihkan rumah- warga jemaat yang terkena pengaruh kuasa jimat, kain merah yg bergntung dipintu dan bergumul khusus beberapa lamanya,  pada waktu Tuhan yang  tepat ia berniat mau berdoa khusus untuk Om Nyo yang adalah sumber pemberi jimat dan kain merah itu  adalah juga warga jemaat GPIB Banjarmasin.

Om Nyo dukun, warga Jemaat GPIB Banjarmasin, bertobat menerima Tuhan Yesus

Pesan sudah disampaikan bahwa malam  ini datang bertemu dengan pdt Theo pada jam 12.00 didalam gereja; Pdt muda  anti kuasa dukun ini telah bersiap-siap memakai pakaian lapangan yang semuanya serba hitam ditambah colar dileher, tanda siap  mau berdiaLog dan berdoa dengan om Nyo.

Ia tiba tepat jam 12.00 malam,  dua kursi saling berhadapan terletak tepat pada depan mimbar, mereka berdua maju dan duduk dikursi yang telah tersedia ini dengan posisi saling berhadapan.

Roh Kudus bekerja mempersiapkan semuanya ini, sehingga  percakapan berjalan lancar, ibarat buah  karm ( karm adalah buah membuat gatal  ketika  orang  mengambilnya) sudah matang tinggal dijatuhkan saja. Semua yang ditanya dijawab  sangat kooperatif dan terbuka, sampai pada tinggkat pengakuan dosa, mohon ampun dan berjanji untuk bertobat dari praktek kedukunan ini, oleh karena telah dipersiapkan Roh kudus.

DOA  OM  N Y O.

Ya Tuhan, hamba mengaku bahwa hamba  telah melakukan  semua praktek dukun ini, bahwa melibatkan banyak orang, khususnya warga jemaat yangmenerima kain merah dan menggantungnya diirmahmanya,  ampunilah dosa hamba dari segala perbuatan ini, dan hamba bersedia membakar semua jimat jemaat ini dalam Yesus.

Bertobat: menerima Yesus, meninggalkan semua jimat kuasa dukun: percayalah Tuhan Yesus yang memelihara. Amin.

Bertobat: menerima Yesus, meninggalkan semua jimat kuasa dukun: percayalah Tuhan Yesus yang memelihara. Amin.

Baharuilah hamba  untuk menyaksikan semua ini dalam  pelayanan demi membawa pembaharuan kepada warga jemaat, khususnya mereka yang telah dilepaskan dari kuasa  jimat ini.

Hamba berjanji untuk tidak mengulangi lagi semua praktek kedukunan ini, dan utuslah Roh kudusMu   membimbing hamba  dalam terangMu yang menyertai hamba dalam hidup ini. Dalam nama Yesus hamba  berdoa amin.

DOA PEMBAKARAN JIMAT OM NYO.

Dalam nama Yesus , kami membakar semua jimat ini, dalam nama Yesus kami  mohon lindungilah  Om Nyo…dalam nama Yesus  pagarilah kami semua sehingga tidak terjamah oleh kuasa kegelapan, dalam nama Yesus kami ikat segala kuasa iblis yang mau mengganggu anak-anakMu, kiranya namaMu dimuliakan, terpujilah Tuhan Yesus. Amin.

GPIB Banjarmasin sekarang. tempat Pdt Theo melayani 5 tahun (1983-1988)

GPIB Banjarmasin sekarang. tempat Pdt Theo melayani 5 tahun (1983-1988)

ROH KUDUS TELAH MEMPERSIAPKAN OM NYO.

Semuanya ini berjalan lancar,oleh karena Roh Kudus telah mempersiapkan  Om Nyo melalui doa-doa hamba-hamba Tuhan  dan pelayanan khusus ini berjalan  sangat baik sampai jam 14.00

Selain doa Om Nyo tadi, ada  doa khusus dari Pdt Theo dalam bimbingan  dan pemeliharaan Tuhan  menyertai akan kedua hamba  Tuhan ini.

Pelayanan tidak lanjutan bagi Om Nyo ini berjalan terus, bahkan ia mau terus menerus dibaharui dan berksaksi  tentang kuasa  pembaharuan Tuhan serta melayani akan Tuhan Yesus. Biarlah Tuhan pakai terus  Om Nyo hambaNya ini amin

KETIKA MENYAMPAIKAN KEPADA IBU WONGKAR BAHWA: ” BAPAK / SUAMI SUDAH TIADA”

Dikala itu mereka sedang  duduk – duduk bersantai : ibu dan anak-anak sesudah makan siang sambil bergurau ringan,   kira-kira  pukul 13.00 dirumah sederhana tempat kediaman  keluarga Wogkar di Banjarmasin

salahsatu resiko orang menebang kayu dan bekerja di pegunungan sering terjadi kematian dan hal ini berlaku untuk pak Wongkar. Pdt Theo dan ketua PKB "Maranatha banjarmasin menyimpan berita duka ini kepada ibu Wongkar

salahsatu resiko orang menebang kayu dan bekerja di pegunungan sering terjadi kematian dan hal ini berlaku untuk pak Wongkar. Pdt Theo dan ketua PKB “Maranatha banjarmasin menyimpan berita duka ini kepada ibu Wongkar

Tiba-tiba  masuklah kedua tamu yang tidak diundang itu, ialah Pendeta Theo Natumnea dan bapak Pelengkahu selaku ketua pkb  jemaat gpib maranatha Banjarmasin, sambil mengucapkan “selamat siang”  mereka nimprung dalam suasana santai keluarga itu, namun sudah timbul prasangka yang diutarakan dalam  bentuk pertanyaan : Ada apa pak Pendeta, kok siang-siang datang dengan pa Pelengkahu.?….tumben hari ini ada tamu istimewa kami sekeluarga !

Saat hening sebentar… tentu berdoa dalam hati untuk menyampaikan berita duka itu dengan kata-kata yang pas,   menyangkut suami/ayah mereka   tercinta  yang sudah tiada ini! Ndak apa -apa ibu dan anak -anakku…bapak dalam tugasnya ditengah hutan itu  sudah t i a d a….karena sudah dimuliakan Tuhan……..suasana hening  kembali,…. tetapi tiba -tiba  meledak suara tangisan histeris baik ibu wongkar, maupun anak -anak,,….dibiarkan mereka  menangisi ayahnya yang tertimpa pohon ketika menebang pohon sebagai petugas penebang dari perusahaan kayu itu

Sesudah sedikit mereda, mereka diajak  untuk berdoa, tentu sebelumnya membaca firman Tuhan dan merenungkannya bahwa  Tuhan lebih mengasihi bapak  dan apa yang dibuat itu baik adanya dari Tuhan….pasti Tuhan tidak akan meninggalkan  ibu dan anak-anak sekalian…dengan  kuasa dan pemeliharaanNya yang tiada taraNya itu.

Dipublikasi di Uncategorized | 4 Komentar

KEMBARA KEHIDUPAN SEORANG THEOFILUS NATUMNEA

Seri I: DARI TIMORESE KE SERAMBI MEKAH

KAPAN DAN DIMANA IA LAHIR ?  BAGAIMANA  HIDUP PETANI & RUMAH  ADAT  TIMOR  GENERASI  PERTAMA ?

Pantai Oesain di Buatam, Kabupaten Kupang. Rumah Peternakan

Dusun Nubraen adalah sebuah dusun dari desa Merbaun kecamatan Amarasi (dulu Kerajaan Amarasi) yang terletak paling selatan dari Kota Kupang,  30 km  dari  Kupang dan hanya 4 km dari Pantai Etkou-Puru dan 3 km dari Pantai Oesain – Buatam, atau antara Kota Kupang dan Benua Australia; Di tempat  inilah pada tanggal 9  Nopember 1948,  lahirlah anak ke-5 dari  tujuh  bersaudara dalam keluarga Bapak Maleakhi Natumnea dan Ibu Regina Pasu yang diberi nama  THEOFILUS NATUMNEA(.nama srani) atauTEFA (nama adat timor-Amarasi)

Ia dibesarkan dalam keluarga petani dan peternak yang polos  dan lugu dalam keberadaannya di Nubraen & Buatam

Ilustrasi cucu kandung

semasa kanak-kanak menjalani kehidupannya di dua wilayah. Dimana ada rumah di tempat pertanian, yaitu rumah asli (RUAN) yang berlokasi di NUBRAEN dan rumah di tempat peternakan namanya Ropo atau Lopo yang berlokasi di Buatam daerah Pantai Oesain. Kedua orang tuanya membesarkan  ketujuh

anak-anaknya dalam laku kehidupan masyarakat desa yang damai dan penuh cinta kasih. Si Theofilus kecil ini saat lahir diberi nama Timor seperti anak yl, masih kental adat yang mewarnai komunitas  kampung ini, maka namanya diberikan  orang tua ialah  T E F A.

Nama TEFA, diambil dari nama salah satu kerabat berusia lanjut yang sudah meninggal (nitu), maka nama sraninya yang diberikan juga dimulai dari huruf T yaitu  THEOFILUS,

Disinilah si Filus lahir dan dibesarkan, dalam rumah adat desa generasi I. sekarang rumah-rumah ini sudah berubah menjadi rumah generasi II (Papan) dan III (tembok)

akan tetapi karena semasa kecil ia sakit-sakitan dan tidak sembuh, maka para orang tua adat berkumpul serta mengusulkan  perubahan nama timor menjadi RASI (diambil juga dari nitu yang lain yaitu  am kou atau bapa tua) terinspirasi dari nama kakak Maleakhi Natumnea yang telah meninggal. Nama RASI dipakai sampai saat ini. Pada umur 17 tahun ke atas nama RASI otomatis berubah menjadi NEPA  …jika sudah  akil – balik, akan tetapi nama baptisnya tetap dimulai dari huruf”T”, yaitu  Theofilus yang di pakai sampai saat ini juga.

MASA  KANAK-KANAK…………………..

Semasa di sekolah rakyat (SR) bocah ini menjalaninya dengan keras, karena untuk mencapai sekolah harus kuat berjalan kaki sejauh 10 km setiap harinya ( pp ); Dimana jalan mendaki ke Baun (nama kedudukan sonaf atau istana dari Kerajaan Amarasi sebelum merdeka….raja Koroh : dari Tobe mnatu, Nis Mnatu s/d Kepala Daerah ..itulah sebutan  org Amarasi pada dinasti Koroh),…. karena itu ia sering terlambat bersama teman yl, resikonya harus menerima hukuman lari sejauh 10 km (pulang pergi) lagi kearah yl, berati pada hari itu ia harus berjalan kaki 20 km  karena hukuman tsb. Itulah salah satu bentuk hukuman bagi siswa di Pulau Timor. Hukuman yang unik ini, membentuk banyak pelari handal secara alamiah yang berasal dari  Timor NTT,  jika badannya atletis dan fisiknya kuat.

Sedari kecil, sifat kepemimpinan dan belas kasihan serta pelayanannya sudah menonjol dibanding anak-anak yl; dikala melihat anak yang tidak bersekolah  diarahkannya bahkan diurusnya untuk bersekolah,seperti :  Albinus Natumnea …(Binus)….saat ini di Manokwari  Papua Barat , Yohanis Takoy(  Anis )  saat  ini di Jakarta,  Nikolas  Takoy (Niko)  saat ini di Kupang NTT  dan Abdon Natumnea (Abdon )  saat ini di Kupang NTT (keempat  adik ini sudah  jadi orang dikenal dan berhasil :  Binus di Manokwari, Anis diJakarta   dan Niko serta  Abdon di Kupang  ) . Belas kasihannya nampak kalau melihat  ternak : anak kambing milik orang lain yang terluka dan termakan ulat, diberinya obat dan disembuhkannya, (di daerah peternakan timor,  ternak itu  di lepas begitu saja, tanpa diurus) ;Ternak Sapibahkan si Filus kecil ini,  sering mengurus ternak dan menyembuhkannya  serta  memimpin ibadah dan kolektenya adalah batu-batu kecil, dimana khotbahnya (nareta) tanpa canggung si kecil ini memimpin suatu ibadah di tengah perjalanan ketika pulang sekolah, sering kali tunggul gewang (pup mopu) dipinggir jalan itu jadi mimbar;   Suatu ketika kebaktian bubar,  karena sang pendeta sementara   nareta, ia digigit kalajengking yang rasanya sangat sakit sampai di ulu hati, memang mereka sama-sama tidak  tahu apa yang mereka lakukan sesungguhnya.

Seperti anak laki-laki yl, Theofilus juga menyukai olahraga yaitu bola kasti. Olah raga ini merupakan salah satu olahraga favoritnya saat itu, bahkan terpilih  dari SR Negeri Baun untuk bermain bola kasti ketika pertandingan  untuk merayakan HUT RI  se-kecamatan Amarasi , bahkan sampai di kota Kupang. Sayangnya dibalik keahlian menangkap dan melempar orang dengan bola kasti tsb.  Sang Kakek Bai Pasu (Nai Pasu) membekalinya dengan  akar-akar sebagai jimat (FUFU) untuk memperkuat diri secara magic, tapi tidak bertahan dalam tubuhnya, karena ia tidak tahu cara memeliharanya, atau memang tidak cocok dengan iman kristianinya.

Pengalaman  rohani dan kepemimpinan yang terkesan pada masa kanak-kanak, adalah semasa ia duduk di kelas VI SR Negeri Baun, saat ia bersama dua teman sekolahnya: Min dan Rika  ikut les pelajaran tambahan untuk ujian akhir,  waktu kembali dari Baun ke Nubraen sudah malam dan harus berjalan kaki 5 km. Sesampai dibelokan hutan R E O  ada sesuatu “putih” yg menutup jalan, dari jauh berdiri si Theofilus  mengatakan mari kita berdoa:BAPA KAMI YANG ADA DI SORGA, DIKUDUSLAH NAMAMU “…………………. dstnya….Amin …………Puji Tuhan, selesai berdoa makhluk putih yg menutup jalan dan menakutkan itu hilang, walaupun isi  doa si pendeta kecil ini hanya  tahu “doa bapa kami”, namun pada waktu amin Tuhan mendengar doa mereka (dua atau tiga orang menyebut namaKu, disitu Aku ada)  dan mereka berjalan terus sampai kerumah dengan aman dan damai, walaupun melalui hutan  dan dalam suasana gelap gulita.

JATUH DARI KUDA  dan  DITANDUK SAPI JANTAN.

Resiko seorang petani ialah berhadapan dengan ternaknya serta turun naik pohon yang sering berakibat fatal seperti jatuh, luka kena duri,  ditanduk  sapi dlsbnya.

kuda itu kaget karena di pukul dengan rotan oleh teman, sehingga dia lari secara liar membuat si fillus dan si Tius terjatuh

Kalau soal jatuh dari kuda sudah  beberapa  kali, karena mainan  mereka  dihutan, foa sapi  dan diatas kuda, suatu ketika bersama  teman bernama teon bait ( Tius Rasi ) naik kuda kesekolah, tidak sadar teman yl memukul kaget kuda itu sehingga larinya  secara liar tak menentu, tidak sampai 500 meter mereka berdua goyang kiri goyang kanan dan keduanya terjatuh ketanah, tius Rasi  tangannya patah, sedangkan  siFilus aman saja, tapi menjadi trauma naik kuda.

Sebagai anak desa / adalah anak petani & peternak yang hari-hari hidupnya dengan kuda, maka  ia tidak pernah kapok naik kuda, mau coba dan coba  terus walaupun sudah pernah trauma karena jatuh dari kuda di kampung  I b u  dekat  Baun.

Suatu ketika  Bai Pasu datang di Puru melihat Bu Kanor sekeluarga, tugasnya ialah mengikatkan  kuda itu( kalau dikota memarkir  kendaraannya), ia naik untuk pergi mencari padang rumput yang hijau, ternyata kuda itu lari kembali ke Oesain…dan sesampai di Oematmuti kuda itu melewati pohon kiskome, si filus tidak hilang  akal, ia melonpat  dan memegang batang pohon kiskome  yang berduri itu, maka kuda itu terhenti dari larinya…Bahkan kisah kejatuhannya dari kuda itu beberapa kali ia  jatuh dari kuda yl menjadi latihan  menjatuhkan diri dari atas kuda liar itu.

Ini ceritera  menarik, sapi jantan yang dipindahkannya untuk mendapatkan rumput hijau, justeru ketika memindahkan dan mengikatkan  tali sapi itu dipohon yang  lain  dimana sekitarnya terdapat rumput hijau, karena tanduknya gatal, maka sapi itu mencoba menanduk siFilus yang adalah tuannya sendiri, sampai terlempar; sapi itu mendapat hukuman  pukulan kayu berkali-kali…tapi pasti yang sakit bukan sapi tetapi si Filus yang sakit ditanduk dan capek memukul sapi itu.

KUNJUNGAN PENGAWAS DARI  KOTA KUPANG.

Setiap hari  yang menonjol dalam belajar, tanya jawab , serta ulangan di kelas IV SR ini bukan si Filus, tetapi si Boeki, teman pindahan dari p. sabu ke Baun ikut tantenya, tetapi ketika datang kunjungan pengawas dan penilik sekolah dari kota  Kupang , dan ia memberikan ujian persamaan untuk standart Sekolah  Rakyat Negeri, Heran bukannya si Boeki yang juara tetapi si  Filus yang mendapat  10  (sepuluh) sekaligus dikukuhkan sebagai juara terutama “berhitung” zaman itu. Sejak itu mulai ada niat  dari keluarga,  supaya ia meneruskan sekolah  kekota Kupang  setelah lulus SR di Baun….yang bisa melihat buatam – oesain dan dari sanalah bisa melihat api di Australia ketika matahari  terbit diufuk timur seperti gambar diatas ini.

MAMA Ny. REGINA NATUMNEA –  PASU MENINGGAL.

Duka sangat mendalam, sirnalah harapan untuk mendapat kue kalau hari pasar (sabtu) dari mama REGINA tercinta karena mama Regina telah dipanggil Tuhan untuk selama-lamanya atau meninggalkan mereka tujuh anak, dimana siFilus masih duduk di kelas Lima SR.Mama Regina sudah tiada, berarti tiada lagi pemberi uang satu kelip atau  satu  ketip untuk membeli kue. Pupuslah harapan mereka yang masih bersekolah, yaitu Filus dan Binus (adik yang saat ini menetap di Manokwari Papua barat. Si Filus kecil mogok sekolah, hari-hari ia ada di mamar  (mamar adalah   perkebunan rakyat yang berisi  tanaman keras seperti : kelapa, pinang , sirih, nangka dll yg didalam mamar itu biasanya ada sumber air untuk  menunjang hidup para petani peternak) , maka mamar Bu Kanor yang membutuhkan banyak siraman air karena pinang, kelapa, sirih dll baru ditana; tambahan musim  jaga kera karena kebun Bu Kanor sangat luas ibarat berdiri diujung Barat memanggil teman diujung timur kebun itu tidak kedengaran. Satu-satunya jalan untuk menjaga kebun itu dari cabikan kera ialah mengambil si Filus kecil ditempatkan  bersama beberapa ekor anjing untuk menjaga pos yang dikuatirkan masuk kera untuk mencabut dan mencabik jagung dan semua tanaman yl di kebun; selama tiga bulan…berhari-hari hidup ditengah kebun berbatu karang, sering kehabisan air minum bersama teman mencari sisa-sia air hujan berupa danau kecil diatas batu karang tsb. untuk minum tanpa dimasak, tapi puji Tuhan …Allah itu adil dan kuasaNya menyertai  si Filus dan teman yl, tetap sehat wal afiat “Puji Tuhan” ada ketahanan khusus dari Tuhan menyertai mereka yang berharap kepadaNya.

LEBAHNYA  ITU LUAR BIASA, TUAK HABIS DIMINUM.

Lebahnya  itu  luar biasa, “tuak habis diminum tanpa seekorpun yang mati,…………

Lebahnya ialah anaknya sendiri ‘si Filus’ setelah kehausan katepel burung di hutan ia memanjat dan menghabiskan tuak ayahnya Meliakhi Natumnea

sebab biasanya jika banyak lebah yang minum/hisap air tuak pasti ada beberapa ekor lebah yang mati tertinggal di haik dan tuaknyapun masih ada sisa banyak, tapi hari ini tuak sirna diminum lebah yang sudah berpengalaman, sehingga seekorpun tak ada yang mati dalam haikku” itu  kata papa Meliakhi Natumnea( Am Ninu)

Hari itu panas terik, ia pulang cari sapi dan fiti burung di hutan dalam keadaan capek dan kehausan, ia naik pohon lontar itu, ia buka  haik yang berisi tuak satu persatu dan…..diminumlah tuak yang manis ini,   satu haik belum puas…….dua haik hampir puas ….dan tiga haik cukup puas.(hukum Gosen)…ternyata  tuak papa Meliakhii hanya tiga haik kecil diatas pohon lontar itu, semuanya digasak sampai amblas…sapu bersih…..lalu diikat kembali haiknya…seolah-olah tidak ada apa-apa, lalu ia turun dari pohon lontar itu…enak benar rasa hausnya sudah terobati dengan minum tuak manis tiga haik kecil, …sambil bersiul ia pulang kerumah…tanpa melapor sama papa Meliakhi bahwa tuaknya sudah habis diminum.

Waktu menunjukkan pukul 16.00 adalah waktu dimana

sesudah cari sapi di hutan dalam keadaan haus mencari minumana tuak diatas pohon

semua orang pergi menurunkan tuaknya untuk dicampurkan/ digantikan larunya dirumah nanti, papa pergi dengan harapan bahwa  sore ini akan ambil tuak untuk  ganti larunya….naik  erek tahap demi tahap dan tingkat  demi tingkat sampailah ia diatas pohon tuak kesayangannya, ia membuka  dengan membawa haik baru guna menggantikan haik lama, ternyata seluruh haik yang terdiri dari tiga buah haik semuanya  kosong, wah….hebat sekali lebahnya menghabiskan tuak tiga haik tanpa seekorpun yang mati tertinggal seperti biasanya .Dengan rasa marah…bercampur kecewa  papa pulang kosong dan berkata: “hari ini lebahnya hebat,….. minum tuak saya sampai habis , tanpa seekorpun yang mati tertinggal  di ketiga haik itu “kata papa Maleakhi Natumnea, dengan  berulang – ulang ucapan kesalan ini diperdengarkan kepada si Filus tanda curiga, jangan- jangan dia” ( si filus sudah naik pohon lontar itu dan habiskan  tuakku  nada curiga  papa Meliakhi lagi……….

Sayang …hari itu larunya tidak jadi  diganti sampai besok paginya, sehingga rasanya sudah agak asam seperti cuka dari  air nira atau tuak yang biasanya dipakai untuk campuran masak jadi bumbu.

Ternyata lebahnya ialah si Filus anak nakal itu, sehabis cari sapi dan main kartupel ( fiti)  burung dihutan,  ia  sangat haus tak tertahankan….dan …ialah lebah yang hebat dan pintar itu sehingga semua irisan tuaknya yang terdiri dari tiga haik disapu bersih tanpa seekorpun lebah yang mati di haik itu. Hal ini tidak pernah diakui kepada papa Meliakhi  Natumnea sampai ia  tamat SR dibaun,SMEP dan SMEA diKupang serta berangkat keJakarta untuk merantau, bahkan sekolah I3 diBatu Malang  – Jawa timur. sampai tamat dan menjadi Vikharis dan ditahbiskan jadi  pendeta GPIB….di Balikpapan.

PANGGILAN UNTUK MELANJUTKAN SEKOLAH…. (NGKAUBKO ).

Si Filus kecil sudah akrab dengan kebun, mencari buah “rinin” yang dimakan rasa  alkohol dan buah-buah lain dihutan kalau kekurangan makanan tanpa beli, akrab dengan  beberapa ekor anjing untuk menjaga kebun, sering meti (laut kering  cari ikan dan kepiting atau  yang dapat dijangkau, kerena kebun tidak jauh dari laut hanya  selangkah yaitu satu km); jika malam Bu Kanor  bersama teman yl mengail di Laut Faut Feu atau di Pan tun ne, siFilus berani tidur sendirian dengan catatan kalau anjing gonggong berarti ada musuh. Dimalam yang gelap tiba-tiba anjing ramai ramai gonggong, bukan musuh… tetapi ayah si Filus yaitu bapak Meliakhi datang dengan bertriak ” ai nkaubko, es au kum kan ko fai- fai he ai ” ( panggilan untuk sekolah, jadi saya datang   malam  – malam ini),  membawa berita bahwa:” besok pagi harus masuk  sekolah”: pesan Encik Reinhard; Ia sungguh perhatian pada Filus yang khabar beritanya Ibunda Regina meninggal tapi tidak ada laporan resmi dan telah menghilang selama tiga bulan tidak bersekolah; Besok pagi tanpa menunggu Bu Kanor pulang mengail, Ayah perintahkan agar Filus cepat sarapan dan sama-sama  berangkat ke Nubraen untuk selanjutnya bergabung dengan anak-anak yl pergi kesekolah. Tanpa mengalami kesulitan Filus sudah sarapan yaitu makan poteka(semangka ) yang daunnya sudah kering  dan berangkatlah  mereka keNubraen, sesampai di Nubraen fajar   belum   menyingsing  bergabunglah  ia  sama  anak – anak  yl berangkat ke Baun untuk sekolah, dengan sedikit malu-malu karena sudah bolos  tiga bulan tidak bersekolah.   Mereka  ramai – ramai singgah mandi kuda di Oe PUPU ( mandi kuda : mandi setengah badan) Oe PUPU ( sumber air  atau sungai dalam tanah yang keluar  permukaan  tanah  Baiitiri,    karena itu dinamakan OE PUPU).

JATUH DARI POHON KUSAMBI DI TOFA.

Sudah berulang kali ia jatuh dari pohon seperti pohon pepaya di kebun Nubraen, pohon  f a o  tempat menjalar  sirih  untuk ambil buah sirih di poan oeno’op, pohon jambu batu ketika ramai-ramai pulang sekolah   di reo dan pohon kusambi di Tofa

karena berebut naik Pohon Kusambi (Filus & Eliezer) mereka berdiri pada satu dahan yang muda, maka dahan itu patah dan terjatuh bersama keduanya.

Sepulang sekolah rakyat dari Baun, mereka berjalan kaki  bersama  lima km untuk sampai kerumah di Nubraen, Baru sampai di Tofa berteriak Ribka Kusnoni dari jauh diatas bukit yang  menurun  mengatakan : Kusap e’ morok ha artinya  buah kusambi  sudah kuning.( tanda buah kusambi itu sudah matang)

Secara spontan siFilus bersama  Eliazer Makasar lari dari jauh berebut mau naik pohon kusambi itu dan keduanya berhasil memanjat pohon kusambi yang buahnya lagi  lebat dan asam  manis rasanya

Keduanya secepat kilat sudah berada diatas  pohon kusambi dan mengambil buah kusambi, makan buah itu yang rasanya manis asam, serta melemparkan kepada teman – teman  dibawah pohon sambil berteriak mat je neu  fuanan esnnan artinya sialah ambil buahnya disitu , … tiba-tiba carang yang diinjak itu  patah  dan terjatuh bersama  kedua insan  ini, Eliasar masih berpegang pada carang kusambi dan terbawa sampai di pinggir jalan, sedangkan si Filus  terjun bebas dan terjatuh  dari ketinggian  lima meter terhempas pada batu karang

Heboh, berita cepat tersiar tentang kejatuhan  mereka berdua ini, lalu dirawat seadanya dengan mencuci darah disungai, sambil berjalan pelan-pelan    tiba direo , terlihat dari jauh   sus Lena  kakak sudah datang  untuk menjemput si Filus ini.

Keadaan sakit ini langsung ditangani oleh Bai sopo Pasu sebagai Dr kampung tiap hari dikompres dengan air panas yang sedang mendidih sampai sembuh, namun tiba-tiba  badannya membengkak dari ujung jari kaki sampai muka dan kepala, rupanya  ada infeksi, sehingga  ia  masuk dirawat rumah sakit di Baun

Puji Tuhan dengan perawatan sederhana yang ia terima ini dapat menyembuhkannya dari  sakit pembengkakan seluruh badannya ini…dan ia kembali bersekolah setelah  sebulan lamanya tidak sekolah.

KUNJUNGAN LAGI : PENGAWAS  & PENILIK  SEKOLAH DARI KUPANG

Setiba disekolah Encik REINHARD   menyambut baik sapaan si Filus kecil yang sudah tiga bulan tidak berekolah dan mengatakan :  Hari ini sekolah kita (kelas lima) diuji dari Kupang lagi  untuk menyamakan standart sekolah rakyat negeri , tanpa ragu-ragu si Filus mengambil anak batu dan batu tulis ( SR dulu belajar pakai batu tulis berwarna hitam , milik sekolah dan anak batu milik sendiri seharga stali)  lalu menggoreskan tulisan  sebagai jawaban, sedikit takut dan segan bercampur malu karena dia sudah  tiga bulan tidak bersekolah, tapi Tuhan sayang padanya Ia kembali mendapat sepuluh, heran kawan-kawannya yl lain malah tidak memiliki angka  tsb. Encik Reinhard datang dan menepuk-nepuk bahu Filus kecil yang baru keluar dari hutan kebun, tapi Tuhan  sayang otaknya masih  encer dan mendapat 10 (sepuluh).

Didada Si Filus kecil, tekadnya semakin bertambah percaya diri di perkuat   dukungan dari keluarga  bahwa F I L U S    harus  melanjutkan sekolah ke Kota Kupang, sedangkan Filus kecil belum tahu yang mana kota Kupang. Untuk mengenal kota Kupang  Pak Nawa  dan pak Bona Guru kelas VI SR mengarahkan untuk bertanding  bola kasti dengan  siswa SR lain di Kota Kupang, sambil   mendengar bocoran berita kalulusan. Si Filus masuk team inti pemain bola kasti. Seluruh siswa termuat karena kendaraan yang mereka pakai adalah sebuah truk pasar yang dipakai khusus untuk rombongan tsb termasuk  para pembina yaitu guru-guru….Sepanjang jalan  semua murid menyanyi “SIAPA YANG SETIA HINGA KE TAMAT”Si Filus kecil membawa seekor ayam jantan untuk dijual sebagai uang saku, tapi sayang karena termasuk team pemain bola kasti dan baru pernah datang di kota Kupang, maka sampai pulang Nubraen ayam  dilepas kembali (tidak terjual) alias tidak ada uang saku, apalagi pemberi uang saku seketip  atau sekelip  sudah tiada, tapi tidak mengapa  yang penting tambah pengalaman si Filus sudah lihat   kota Kupang

SEKOLAH MENENGAH EKONOMI PERTAMA  (S M E P )

Mulai mandiri tinggal di kota Kupang, ambil bekal sendiri ke Nubraen

Dengan modal sudah pernah melihat kota Kupang,  berangkatlah  mereka rombongan lulusan SR Negeri Baun  menuju  Kupang,  untuk mendaftarkan diri, tapi mereka tidak tau caranya mendaftar, maka harapan satu-satunya adalah pemuda-pemudi  yang duluan sekolah atau senior mereka, ada yang mau membantu,    ada yang masa bodoh dengan adik-adiknya, tapi puji Tuhan , Ia menunjukan jalanNya melalui Ferdinand Tnunay dari Buraen yang mengurus mereka,  ada yang dimasukan di SMP dan yl termasuk si Filus kecil dimasukan di  SMEP Negeri,  itulah dasar ia belajar ekonomi.

Disanalah ia mengenal siswa/i dari kecamatan lain dan  kabupaten lain juga,  yang  ingin menimba ilmu di kota kupang, seperti dari  alor, flores, sumba serta  rote dan Sabu selaindari daratan pulau timor.

Disana pula ia mulai hidup mandiri, memisahkan diri dari Ayahanda Maleachi Natumnea, walaupun pikirsannya masih kekanak-kanakan, namun terbentuk oleh keadaan sekolah dan hidup yang terpisah dari orang tua…dimana semuanya serba  sendiri.

PULANG AMBIL BEKAL DENGAN JALAN KAKI  30  KM.

Mereka (Filus dan Min ) tinggal  sendiri, berarti makanan tergantung  dari orang tua, beberapa kali lancar diantar  sebagai semangat dukungan dari keluarga, tapi…. lama kelamaan makanan semakin menipis, belum juga  tiba bekal   sebagai makanan sehari-hari, maka mereka  bertekat untuk pulang kampung,   ambil bekal sendiri;  sehabis sekolah hari sabtu mau berjalan kaki 30 km dari Kupang ke  Baun -Nubraen dan tekad itu dilaksanakan oleh si bocah kecil Filus dan Min dengan janji: masing-masing selesai sekolah,  karena Min di SMP Negeri dan Filus di SMEP negeri dimana jaraknya  berjauhan, tapi akhirnya mereka bertemu di Oepura, dan… kedua bocah ini mulai berjalan kaki tanpa makan siang, sedang sarapanpun seadanya saja(  mik nasuk  kau noo),  tekad untuk sekolah tetap membara didada , mereka berangkat dengan modal makan kujawas sepanjang jalan, dimana hampir sepanjang jalan hutan kujawas( jambu batu) dan sampailah mereka di T O F A,  si  bocah Filus teringat ada pohon kelapa mereka yang dibeli  oleh ayah  Maleakhi Natumnea dan sedang  berbuah  lebat.

Untuk memenuhi kebutuhan pokok harus pula ambil bekal, jalan kaki 30 km

“Min lu yang  nae sa, bet son kuat lai” kata si bocah Filus, bayangkan  jam sudah menunjuk pukul 17.30 tanpa makan nasi hanya makan kujawas  sepanjang jalan,; Min berbesar hati dan mulai  naik pohon kelapa yang tingginya  7 meter,: terdengar bunyi ; duk ,  duk, duk, duk dstnya tanda buah kelapa muda telah jatuh empat buah sekaligus berjatuhan, memang….. mereka lapar, haus dan capek jalan 30 km, mereka berdua mulai pesta makan kelapa muda sampai kenyang dan tak bisa bangun sejenak, mungkin  air kelapa muda rasa manis asam, bercampur lapar dan dahaga  serta capek, karena itu mereka putuskan untuk duduk sejenak sampai suasana normal kembali mereka lanjutkan perjalanan  yang tinggal  2 km sampai ke Nubraen.

Begitulah perjuagan hidup waktu si bocah Filus sekolah di SMEP bahkan  beberapa kali harus  pindah  rumah dari Oeba ,pindah ke pantai Kupang, pindah lagi ke kuanino dan harus pindah lagi ke Oetona, baru tiga tahun  bersekolah atau kelas III SMEP , sudah empat tempat ; dari tinggal sendiri sampai tinggal dengan orang lain ,Pengampu, si bocah Filus  berniat apapun yang dihadapi harus selesaikan sekolah dan berhasil tamat SMEP.

MENDAFTAR SENDIRI DI SMEA NEGERI KUPANG.

Ilustrasi cucu dari keponakan

Kalausuasana pendaftaran di SMEP dibantu senior, maka dengan melanglang buana tiga tahun  serta semakin bertambah pengalaman,  si Filus tidak lagi berharap pada orang lain untuk mendaftarkan diri, tetapi  Ia mulai berani dengan diantar oleh ayah  Meleachi ia berani maju  mendaftarkan diri sebagai siswa SMEA NEGERI KUPANG, kebetulan direktur SMEA NEGERI Bapak Hendrik Ataupah berasal dari Amarasi satu kecamatan dengannya.

Berajakan dengan teman, kembali mulai tinggal sendiri di “kampung baru”,tetapi tanpa kontrol diri setiap sabtu ia selalu pulang ke Nubraen kampung halamannya dengan alasan mau ambil bekal (beti) bahkan kadang kala ia sudah pulang di hari jumat dan kembali senen, hal tersebut berulang kali yang mengakibatkan sibocah ini lupa diri dan pelajarannya terganggu sehingga  ia ketinggalan  kelas satu tahun di SMEA Negeri.

KECELAKAAN KARENA  MAIN RESTOK-OLAH RAGA

Hari itu semua pergi kelapangan Oeba menonton demonstrasi terjun payung dan terjun  dari  pohon tuak melalui tali, ketika ia tinggal bersama  keluarga Yakob  Mboeik di kampung baru Kupang.

Si Filus sudah mahir main restok,  baik memasukan kaki melalui tangan yang bergantung ditiang restok itu atau menggantungkan telapak kakinya diatas  tiang restok yang dibuatnya sendiri dipinggir bak air minum dan bak air mandi itu.

Ketika ia bergantung dan  berdemonstrasi sendirian dengan keahliannya yang cukup mahir itu, pada saat tergantung kepala yang kebawah, tiba-tiba terlepas  ikatannya tali pengikatnya dan terjatuhlah ia persis pada batu karang, maka ia bangun sendiri  terasa  meleleh darah merah begitu deras, ternyata kepalanya sudah bocor darah, bahkan tempurung kepalanya  retak  kedalam tengkorak kepala itu.

Ia dirawat selama dua minggu dirumah sakit pelayanan  rohani GMKI Undana Kupang.

POTONG BEBAK DI LILI CAMPLONG.

Karena sering pulang ambil bekal, berjalan kaki 30 km kadang 2-3 hari tidak sekolah, setiap bulan sering terjadi, mengakibatkan tertinggal kelas; menjadi pembelajaran penting untuk tidak mengulangi lagi dalam perjalanan hidup, seorang Filus.

Mereka (anak-anak) yang tertahan kelas diharuskan untuk potong bebak  di LILI CAMPLONG, sedang siswa yl mengikuti masa orientasi dan liburan rombongan yang tertinggal dari kelas            I s/d  III diharuskan kerja wajib  potong bebak untuk memperbaiki dinding  sekolah yang rusak dan mau roboh itu. semua  berkumpul untuk diberi pengarahan,  besok kata Direktur: semua harus membawa alat potong bebak yaitu parang atau sejenisnya agar kerja wajib tsb berjalan lancar. Ketika esok harinya tiba di Sekolah pagi-pagi benar Si bocah kecil filus ini sadar tanpa membawa parang, tibalah ia di sekolah kata teman-teman : “mana parangmu?” lalu bocah Filus tidak mau kalah, langsung ia lari pulang kerumah yang letaknya 3 km, dengan secepat nya ia kembali, ia kerumah melalui jalan tikus dan dijalan tikus itulah  ia menemukan segumpal uang  yang tercecer dihutan itu. “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, bahwa segala yang terjadi  dalam hidup ini adalah rahasia Tuhan  dan kali ini Sibocah Filus mendapat yang untungnya, ketika lupa parang dan berlari pulang rumah melalui jalan tikus ada tersedia berkat yang disiapkan Tuhan, karena ia tidak memiliki uang saku, tapi Tuhan menyediakan segala kebutuhan anak-anakNya yang berseru kepada-Nya.

Melalui bimbingan   guru team penebang dan pemotong bebak selama dua minggu dapat diselesaikan dengan baik, tidak ketinggalan si Filus kecil yang biasanya sekolah SR jalan kaki            10 km  asal petani peternak ini, soal potong bebak baginya adalah hal biasa, semua nya ia ikuti dengan  baik, pulanglah mereka  sebagai pahlawan sekolah karena turut membangun  sekolah walaupun  melalui kerja keras karena wajik kerja potong bebak tsb.

Ia tidak menyia-niakan kesempatan untuk memperbaiki sikap yang tadinya tiap sabtu pulang ke Nubraen, kini ia sadar bahwa  waktu adalah emas, jangan membuang waktu  dengan alasan pulang ambil bekal (beti), tetapi secara dewasa ia mengelola hidup dengan baik sampai tamat SMEA.

LULUS UJIAN KATEKASASI TANPA  BELAJAR DIKELAS.

Puji Tuhan Ia dipanggil sejak diteguhkan sidi di GMIT "Haleluya" Nubrean

Puji Tuhan Ia dipanggil sejak diteguhkan sidi di GMIT “Haleluya” Nubrean

Heran, jika pelajaran agama di smea negeri Kupang ia menghilang, takut disuruh berdoa kedepan, karena belum lancar doanya, jika bersama – sama teman- teman dikelas sekolah menengah ekonomi atas itu

Apa yang dikerjakan diluar kelas bahkan diuar sekolah ? Ia pergi kekantor  penerangan dan mencari informasi tentang negara dimana tak jarang ia membawa foto presiden RI yaitu suharto bahkan foto- foto menteri kabinet dan membagikan kepada teman –  teman yl

Ketika liburan sekolah mereka berjalan kaki 30 km dari kota Kupang ke kampung Nubraen, setiba di Nubraen besoknya ada pemeriksaan  katekasasi untuk ujian lisan dan tulis, mereka dua yaitu Benyamin Natumnea (Min) yang sekolah di SPG negeri dan Theofilus Natumnea ( Filus ) yang sekolah di SMEA negeri  disarankan untuk ikut ujian.  Saran itu diterima dan diikuti sehingga keduanya ikut ujian katekasasi untuk sidi dan ternyata lulus untuk diteguhkan menjadi anggota sidi GMIT jemaat Haleluyah Nubraen

Nats sidinya ia masih ingat terambil dari  Injil Yohanes 15: 16 berbunyi sbb:  “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap,  supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikannya kepadamu”

Inilah nats pada waktu ia disidi, dan ternyata sesuai dengan namanya yaitu Theofilus   artinya ” sahabat Allah, ia dipanggil keluar dari kampung halamannya untuk dibentuk menjadi  pelayan Tuhan , dalam rangka itulah ia keliling Indonesia  ( lihat seri I  & seri khusus II tentang pendidikannya di I 3 yang kemudian menjadi pegangan hidupnya sampai sekarang

KELULUSAN SMEA NEGERI KUPANG  HANYA 55 %.

Dengan  semangat ia datang dipapan pengumuman, melihat   nomor induk: Puji Tuhan Si Filus lulus, walaupun kelulusan SMEA Negeri kupang hanya  55 %, ada nomor didalam  berart lulus, Memang selama belajarIa selalu  menjadi tutor untuk  teman-temannya ketika belajar selalu turut  menerangkan berbagai pelajaran, ketika bersama-teman-teman belajar disekolah atau kadang kala di kuburan cina…itulah suasana belajar tempo dulu.

Penampilannya meyakinkan bahwa ia lulus, disampaikanlah berita ini kepada orang tua bapak Maleakhi Natumnea serta Bu Kanor -sus Hana, Bu gama- Sus Tabita, Bu Istefanus-sus lena serta adik Omi.

Disampaikan niatnya bahwa akan merantau kejakarta, ibu kota Rebpublik Indonesia tercinta, tentu banyak  tantangan yang datang dari diri dan orang lain termasuk soal keuangan.

ADA DANA ABADI, BAGI PUTERA AMARASI YANG KULIAH

Berita ini datang dari Vetor (Uis Tua) sebagai wakil raja,   zaman kerajaan Amarasi  ada tiga wakil raja yang mewakili daerah Baun …koroh, Buraen…Tinenti  dan Oekabiti …Abineno,  karena mendengar persiapan keberangkatan  Filus  keJakarta, dibuatlah nota dinas dari Vetor( vetor adalah wakil camat tanpa SK  zaman merdeka), dimana  Amarasi memiliki tiga  kevetoran  yaitu Baun, Buraen dan Oekabiti)

Kantor kecamatan  Amarasi berlokasi di Buraen, maka si Filus kecil dan Min Neparasi sepakat mereka berdua masing-masing- berkuda seperti  koboi, berangkatlah ke Buraen….melewati noe kou dan tarba.

Membawa nota dari Vetor kOROH ( uis tua), untuk mengambil dana mahasiswa dari kantor kecamatan Amarasi di Buraen

Ternyata, sesampai disana,   Kas dana mahasiswa tsb  kosong, karena sudah terpakai mahasiawa yl….dengan lunglai lelah…ia pulang kosong, si Filus masih teringat ada mamar kelapa…diBuraen …,singgahlah  ia  untuk  memetik kelapa dimamar itu  agar  tambah uang saku (   doi sadiki.  )

Kepulangannya ke Nubraen ia sendirian karena temannya Mien sudah pulang duluan,  si Filus  lewat Rinin, sesampai di Rinin,… mataharipun sudah terbenam,… bulan gelap,…tidak tahu mau jalan lewat mana,… ia minta pertolongan  pada   rumah terdepan di jalan raya itu,   dan berkata dalam bahasa timor amarasi :   Horei  tua…….auk …koko   Buraen mak sek  tua…… nuk kon en nubraen  mesek …ku hin  ni mae  tua..( artinya  : salam sejahtera…  saya sesat dari buraen, …mau terus ke nubraen,.. tidak tahu jalan ) tapi sayang…  ditolak permintaannya, …maka terdengar  dari jauh ada seorang bapak …, ia terpanggil untuk menampung,  setelah mendengar berita penolakan itu ( Band Hak  19:11-16), Ia datang menerima  dan  mengikat kudanya   serta  membawa si Filus kerumahnya,  menumbuk padi dan ..memasak nasi…  serta .mereka makan bersama menjamu tamunya  ditengah malam itu.

Penolong ajaib itu bernama” bapak Kaseh”, sebenarnya ia sedang sakit…tetapi  tidak sampai hati mendengar penolakan  tetangganya, lalu ia bangkit seperti  burung rajawali mencari tahu siapa tamu itu yang minta pertolongan itu ?  “pertolonganku  dari Tuhan”…Ia menyiapkan hati bapak Kaseh dan keluarganya untuk menampung pemuda ini yang sementara sesat dalam perjalanan …mau pulang ke Nubraen…kampung halamannya.

Terima kasih Pak Kaseh, kiranya Tuhanlah yang membalas kebaikan hatimu,   melalui keluarga dan anak cucu diberkati Tuhan amin

BERTOBAT DARI JIMAT DAN DUKUN.

Ini merupakan gangguan iman , karena waktu itu siFilus tidak pakai jimat lagi dan dukunnya sudah bertobat, tapi mereka paksa “dukun Rufus”alasan nau ujian Rufus  mengatakan : sebenarnya kelompok doa datang dan membersihkan saya, “saya sudah buang”, tapi ini karena adik-adik datang minta tolong, terpaksa saya carikan ; jadi  dosa  mereka dua kali lipat  yaitu memaksa dukun  dukunnya dan  mereka  mau pakai jimaat itu ;  Sebenarnya  Filus  kecil sudah berubah tapi  mau tidakmau ajakan teman ikut  ambil jimat;…… Tapi Tuhan maha kuasa Ia menghajar si Filus dengan cara tidak bisa berpikir dan tidak bisa belajar, band Ibr 12;5-11… pada hal liburan sekolah untuk ujian sudah berlansung seminggu, sadar bahwa itu salah, si Filus berdoa mohon ampun pada Tuhan dan membuang semua jimat tsb terjadilah keajaiban Tuhan  pikiran lancar dan belajarpun tenang; puji Tuhan….sehingga menempuh ujian dengan baik dan lulus.SMEA.

EVALUASI  7  TEMPAT TINGGAL SELAMA SMEP s/d SMEA.di KUPANG.

Merantau dari desa untuk sekolah di kota Kupang tidak gampang, banyak anak-anak yang tidak tahan dalam berbagai kasus, dan harus mengalah, pulang kembali menjadi petani di kampung halamannya tanpa hasil sesuai cita-citanya , sehingga bebas dari  ikatan, aturan, disiplin penderitaan dan pengorbanan selama penyesuaian diri  di kota Kupang.

Garis tangan seorang Filus berkata lain, harus tekun sampai mendapat dan menyelesaikan  studinya walaupun  berat menghadapi tantangan tsb diatas dengan bermacam pengorbanan yang dilaluinya: sabar dan tabah untuk mencapai tujuan itu.

Dari ketujuh tempat tinggal itu bermacam-macam tantangannya, ada sukanya dan ada dukanya yang harus dilewati dan dilalui dengan  tabag, sabar dan  rendah hati dalam status seorang anak sekolah

Tempat pertama  ia{ si Filus) bersama Min dan Martha(senior) ketiganya fam Natumnea , mereka tinggal sendiri disebuah  gubug tua terbuat dari seng di Oeba. Resiko tinggal sendiri,  masak sendiri, cari kayu api sendiri (tidak ada kompor/minyak), jadi mereka masak pakai kayu api, juga kalau terlambat diantar bekal, harus pergi ambil bekal  sendiri….ke kampung Nubraen.

Tempat kedua si Filus tinggal dengan susi Regina yg nikah dengan orang Tionghoa di dekat gereja kota Kupang, ia tidak harus ambil bekal lagi karena numpang dengan  mereka sambil kerja dirumah itu bersama  Elly Bais dari Tofa, namun Elly Bais sudah senior karena sekolah di SMEA negeri Kupang. Kelemahan/kekurangan tingggal di Susi Regina  sekaligus pekerjaan  disini ialah  menunggu keluarga suaminya untuk  membuang bahan pokok  keperluan sehari-hari dari belakang  lantai dua toko ayahnya secara sembunyi-sembunyi oleh adik-adiknya, karena ayahnya tidak setuju perkawinannya  dengan Regina ini sebagai orang Timor.Kelemahan dan sekaligus pekerjaan yl ialah harus membawa ayam jantan pada hari minggu ketempat perjudian/taji ayam dihutan jati melewati  kampung  air mata tempat tinggal orang-orang Arab; maka ketika polisi datang ditempat taji ayam/ judi itu semua harus lari menyelamatkan diri, tidak terkecuali  si filus kecil ini yang baru duduk dikelas dua SMEP  Negeri Kupang ini.

Tempat ketiga di Kuanino, ia tinggal bersama dengan  keluarga Guru Soleman Funay, dimana bapak Soleman Funay  guru SMP Negeri I  di Air nona dan  ibu Lien Funay guru SR negeri di Kuanino. Tinggal disini dengan seorang senior bernama Anatji Konay  yang bersekolah di SLTA Kupang.Dirumah ini  harus pergi ambil  bekal dan kayu api…bahkan pikul air  untuk keperluan rumah tangganya.

Tempat keempat tinggal di Oetona dengan keluarga Malaikary,  dimana susi Ruth adalah isteri bapak Malaikary ada hubungan keluarga karena nenek mereka kakak  adik, jadi nenek si Filus dari ayah dan nenek susi Ruth dari ibu itu kakak adik.Disana tinggal sama – sama dengan Ribka Takoy adik kandung Susi Ruth ini, sering mereka pergi mengambil kayu api untuk masak, sama sperti suasana  tempat yl.

Tempat kelima , tinggal sendiri lagi bersama  Yuli Manudibu dan  Tobias  Takoy di Kampung baru , mereka ini sama-sama dari Nubraen, ada waktunya ambil bekal ke Nubraen karena sudah kelas  satu SMEA negeri ada waktunya untuk ambil kayu api guna masak nasi dan makanan yl Suasana ini membuat mereka , khususnya si Filus sering pulang ke Nubraen, sehingga sekolahnya terbengkalai di SMEA kelas satu selama setahun.

Tempat keenam dikampung baru juga tetapi hanya sekitar tiga  bulan bersama keluarga yang suaminya dari Flores, buruh pelabuhan dan isterinya dari Rote.

Tempat Tujuh juga di kampung baru bersama  keluargaYakob Mboeik seorang anggota TNI -AD dan isterinya  seorang  suster  Rumah sakit AD Korem  Kupang. Memang  bersama  keluarga tentara hampir semuanya ada dengan kesibukan pekerjaan yg cukup berat,  karena kebun yang luas dan keluarga besar yang  membutuhkan pengorbanan  waktu antara belajar, sekolah dan kerja, tapi itulah tekad garis  tangan harus sekolah , belajar sampai tamat dan selesai walupun  besar pengorbananya.

Dari tujuh tempat tinggal itu dua tempat  adalah bebas karena tinggal dan segala sesuatu urusannyapun  sendiri, tapi dari lima tempat lainnya dimana tinggal sama orang lain atau pengampu ada suka –  dukanya, pahit – manisnya dan berat – ringannya, namun semuanya menjadi sekolah Tuhan yang tak dapat dilupakan serta tempat pembelajaran yang tidak mungkin terulang kembali.

Ada dua  keluarga dapat  diambil  kesan dari kelima tempat tinggal bersama orang (pengampu)  yang menarik untuk dianalisis dan dipelajari dalam refleksi kehidupan  seorang Filus – Natumnea

Pertama kesan buruk, ketika tinggal bersama  Soleman Funay seorang guru SMP negeri dan ibu Lien seorang guru SR negeri bahwa  kedua guru ini tidak ada nilai edukatip tempat seorang Filus belajar, bahkan   Soleman Funay ini pernah memukul si Filus dijalan raya sampai berdarah suatu kejadian yang dianggap kriminalitas dari seorang guru Soleman Funay kepada  Filus  konon masih berstatus murid, walaupun murid SMEP…seandainya si filus sudah sudah  kenal  hukum tentu  pasti ada  tindakan  pelaporan kepada kepolisian.

Kedua kesan baik dari keluarga Jakob Mboeik, bahwa  dianggapnya sebagai anak sendiri, dilatih makan bersama-sama dengan sendok dan garpu dan memandang semua nya sebagai orang tua dan anak-anak sebagai adik-adik untuk  turut  mendidik mereka dalam keluarga besar ini.

BERSIAP-SIAP MAU MERANTAU KE JAKARTA……….. 

Setelah mengetahui kelulusan yang menggembirakan keluarga, maka beberapa orang dari antara mereka yang lulus ini, mau merantau ke

Filus bersama Min dan Piet, teman satu kecamatan, tamat SLTA dari Kupang berangkat ke Surabaya naik Kapal Perintis.
Sering tidak makan karena di ombang-ambingkan oleh   ombak dan gelombang,  maklum  baru pertama kali naik kapal laut.

Jakarta termasuk si Filus kecil  ini, tak mau ketinggalan, maka mereka laporkan kepada kaum keluarga dan mendapat restu dari orang tua serta keluarga. Seperti biasanya  sebelum meninggalkan kampung halaman, diadakanlah kebaktian syukur oleh utusan Injil, lalu berangkatlah mereka; team yang  adalah teman  dekat mereka adalah Piet Konay, Benny Neparasi dan Theofilus Natumnea, dengan menumpang kapal perintis milik  Polri Kupang-Surabaya via maumere, merekapun mulai berlayar ke Surabaya.

BELUM MENGENAL ROTI DAN BUAH SALAK

Setiba pelayaran mereka di pelabuhan Perak Surabaya, oleh teman-teman  yang sudah duluan ke Surabaya karena  masuk marinir, mendengar bahwa ada Filus, Beny dan Piet dari Kupang mau terus ke Jakarta: merekalah yang mengurus tiket

Kerena belum tahu makan roti, maka roti yang sudah di beli di berikan kepada pengemis di atas kereta api Surabaya-Jakarta, “alangkah senangnya pengemis itu”

kereta api Surabaya – Jakarta; sebelumnya mereka bermalam di Surabaya. Maklum baru pertama kali naik kereta api, kelihatannya semuanya dijual diatas kereta api termasuk roti dan salak, yang konon bagi mereka belum pernah menjamah dan memakannya, tetapi dorongan nurani ingin tahu dan ingin membeli, kocek masih tebal, dibelilah sebatang roti tawar, karena belum tahu cara makannya, maka roti itu diberikan kepada tukang minta-minta…”.pasti ia senang sekali” merekapun memberikan dengan iklas dan tulus; Tiba saat nya mau makan salak mutar sana mutar sini, niat ini diketahui oleh seorang mahasiswi IPB Bogor yang pulang libur, lalu ia

Pada saat mau makan salak diingatkan oleh teman dudk dikereta api mhsi  dari IPB Bogor, “dik, kalo makan salak di kupas dan di buang dulu kulitnya”. akhirnya karena salak ,  mereka  (Filus, Min & Pit) berteman dengan mahasiswi itu. sampai turun kereta api  mereka  membantu mahasiswi ini mengangkat barang ke bis yang menuju ke Bogor

menyampaikan cara makan  dengan sebelumnya mengupas kulitnya, lalu merekapun makan salak sama-sama sebagai tanda persaudaraan;  Memang pepatah mengatakan   :”Sopan santun adalah paspor untuk keliling dunia ” dan ini yang mereka alami dengan sopan santunnya mereka tampilkan, maka terjadilah pertemanan yang baik dengan mahasiswi IPB  tsb, sampai turun di Gambir mereka ikut bantu angkat barang mahasiswi tsb dan diantarkan ke Bus untuk menuju ke kota Bogor

Mereka bertiga yaitu :Min, Piet dan Filus  menuju kekeluarga Cornelis Saneh di asrama Brimob Petamburan, tinggal beberapa lama  sampai Piet ke  Kwitang dan Beny ke pal Merah, sebelumnya, mereka berketiga sempat aktif sebagai anggota Gerakan Pemuda GPIB Syalom Slipi DKI Jakarta, yang sekarang ada kumpulannya bernama PEMUDA TEMPO DOELOE keduanya (piet dan Beny mencari jalan dan pekerjaan nya, sedang  Filus sempat kerja sebagai tenaga akuntan Polda Metro jaya, disana bertemu dengan bapak Hattu sebagai Kepala Akuntan dan Kepala Keuangan  KOMPOL Syahransyah, sedang baratu Sapulete sebagai staf bersama dengan Filus kecil ini.

Dalam penampilan Filus kecil ini dapat diandalkan sehingga  menjadi ketua Seksi Rohani GP GPIB Syalom Slipi DKI Jakarta, bahkan pada saat itu dia diutus untuk menjadi Anggota Majelis Jemaat GPIB Syalom dalam status sebagai Diaken utusan Gerakan Pemuda; dikala itu ada 3 utusan yaitu KKR, GP dan PW.GPIB

Dalam bekerja sebagai  team audit POLDA METRO JAYA sering kali dipercaya  untuk membawa hasil pekerjaan mereka  ke MABES POLRI  untuk mempertanggung jawabkan pekerjaan mereka setelah diverifikasi secara teliti dan teratur maka di pertanggung jawababkannya ke Mabes Polri; disana bertemu utusan seluruh polda se Indonesia, dalam mempertanggung jawabkan keuangan Poldanya, ternyata  dari dulu sudah dikenal harus memberi uang  kepada sipenerima, supaya  urusannya  cepat diterima dan di stempel surat jalannya sebagai bukti selesai pertanggung-jawabnya di MABES POLRI.

MENGIKUTI PERSIDANGAN SINODE GPIB DI BANDUNGAN AMBARAWA

Kegiatan sekuler tidak membatasi pemuda Filus untuk  mengambil bagian dalam kegiatan kerohanian gerakan Pemuda jemaat GPIB syalom DKI Jakarta, hal ini terbukti dengan terpilihnya mewakiliGerakan Pemuda untuk menjadi anggota majelis jemaat, Dalam jabatan diaken inilah ia juga pernah diutus untuk mengikuti Persidangan Sinode GPIB  ke X tahun 1970 di Bandungan Ambarawa Jawa Tengah.

dalam status Diaken, jemaat GPIB syalom Jakarta, di utus bersama Pdt. Sudopo, mengikuti persidangan sinode oktober 1970 di Bukit Bandungan Ambarawa Semarang Jawa Tengah

Dalam usia 22 tahun tentu ia kaget , mendengar, melihat dan mengikuti suasana Persidangan yang terhormat ini. banyak benturan terjadi oleh karena begitu banyak kepentingan  yang dibawa oleh beragam utusan Jemaat GPIB, namun ia melihat juga bahwa keanekaragaman itu adalah kekayaan Tuhan di GPIB  dan akhirnya menjadi harmoni yang indah dalam menyatukan serta melayani Tuhan di GPIB; itulah keindahan Tuhan  dalam kepelbagaian di GPIB yang tercinta ini.

MENERIMA  PANGGILAN TUHAN, UNTUK DIBENTUK SEBAGAI HAMBANYA.

Di bulan Januari 1971  merupakan   akhir karirnya di keuangan  polda Metro jaya dan sekaligus akhir keterlibatannya dalam dunia  gerakan Pemuda  serta   kemajelisannya di GPIB Syalom Slipi jakarta.

Selanjutnya  di batu “kota  apel” menjadi tonggak sejarah baru yang memberi warna lain dalam jalan pembentukan dan kehidupan seorang Theofilus Natumnea , warna yang mempertegas jalan kehidupannya dalam melayani Tuhan.

Ia mengikuti pendidikan  sebagai penerima bea siswa GPIB, khususnya  dari jemaat GPIB Syalom DKI  Jakarta.

Dalam rangkaian studi nya ia menjalani praktek lapangan, Tulung Agung Sendang. Waktu itu, saat dimana saat itu banyak orang boleh percaya pada Tuhan Yesus, tersebar pos-pos pekabaran Injil serta putera daerah yang  dipanggil untuk melayani Tuhan sudah belasan  orang. terpujilah nama Tuhan…. Dan dalam rangkaian yang sama  ia menjalani praktik lapangan di Pontianak kalimantan Barat sampai akhit tahun 1974, sehingga  ia menamatkan pendidikannya di Institut Injil Indonesia III Batu malang pada akhir tahun  1975. dan  mengatakan  selamat tinggal I I I  Batu Malang.

MENGIKUTI PENDIDIKAN  DI INSTITUT INJIL INDONESIA BATU MALANG……….

Batu Malang, kota Apel

Sepulangnya dari Persidangan sinode  GPIB (Bandungan Ambarawa) di Pos penjaga brimob Petemburan ada yang menyampaikan bahwa  tadi ada suratnya datang, tapi penjaga pos sebelumnya  anak baru (belum kenal Filus) jadi suratnya dikembalikan  kealamat pengirim, pemuda filus  langsung menaruh barang dan tas, lalu fuik menelusuri

kekantor Pos Palmerah, ternyata sudah dikembalikan ke kantor pos pusat Pasar Baru, iapun menelusuri kesana, baru

Di B a t u – Malang Ketua YPPII, Pdt. DR. Octavianus dan rektor  Institut Injil Indonesia, Pdt. D. Scheuneman, tempat dibentuknya Theofilus Natumnea (1971-1975)

mengetahui bahwa suratnya  adalah panggilan dari Institut Injil Indonesia, untuk mengikuti pendidikan  Theologia ! sangat gembira karena menemukan surat panggilan tsb. Bersiaplah ia baik surat permohonan berhenti dari Polda  Metro Jaya,( seksi keuangan bagian verifikasi  atau akuntansi  laporan keuangan,) surat Rekomendari dari majelis sinode GPIB dlsbnya lalu berangkatlah ia dengan kereta api Surabaya dan selanjutnya ke Batu Malang…kota APEL untuk dibentuk sebagai hamba Tuhan.

DIUTUS SEBAGAI TEAM KALEB UNTUK PRAKTEK  TIGA BULAN DI SENDANG  TULUNG  AGUNG.

Bersama Ishak Mulyono pemuda Theofilus menuju  Tulung Agung membawa surat  pengantar ke Gereja Kristus Tuhan (GKT), lalu mereka dipertemukan  serta dituntun oleh Pdt Siauw (Nugroho) pendeta jemaat GKT  Tulung agung…diarahkan  dan diberi kasur , strongking sebagai bekal jika lampu penerang bermasalah serta

di kaki gunung Willis, desa Sendang, Tulung Agung, Theofilus bersama Isakh Mulyono di tugaskan oleh I3 Batu Malang, praktek Mahasiswa, 3 bulan.
Membuka pos pelayanan bersama GKT Kediri & Tulung Agung di Sendang dan Sumber Pandan. banyak mujizat Tuhan Yesus terjadi menyertai kedua Mahasiswa ini

diantar menuju kecamatan Sendang untuk tinggal disana  selama 3 bulan.  Ishak Mulyono  ditempatkan disendangkota kecamatan , sedang pemuda Filus harus naik gunung lagi ke desa Sumber pandan 4 km dari Sendang kata kecamatan itu.

TIDAK TAHU BAHASA JAWA, TAPI BANYAK ORANG  DATANG  BERTEMU  PEMUDA TIMOR.

Pada tahun 1972  Timor Timur terkenal melalui siaran  radio Republik Indonesia (RRI), tapi mereka belum pernah bertemu orang timor, beritanya sampai kemasyarakat bahwa ada pemuda Timor datang tinggal selama tiga bulan didesa kita Sumber Pandan, maka berkerumunlah mereka  untuk melihat rupa pemuda Timor tsb ialah  Theofilus natumnea asal Nubraen ini.

Kesempatan tidak disia-siakan, berita  Injil Yesus  Kristus  mulai disebarkan  dengan ilustrasi gambar “HATI MANUSIA” oleh ROH kUDUS beberapa orang dari mereka  percaya kepada Tuhan Yesus bersama pemuda Filus,mau ikut melayani Tuhan ;  baik guru, murid, orang tua, terutama mereka yang sakit menjadi sembuh;,bahwa sebenarnya obat-obat ringan yang ia bawa untuk menjaga  kondisi kesehatan selama tiga bulan, justru obat-obat itu  diminta satu-persatu sampai habis dan…. mereka sembuh, apapun penyakitnya,kalau minum obat dari pemuda Filus dalam nama Tuhan Yesus, pasti sembuh.

Ketika obat sudah habis, orang sakit makin banyak berdatangan,  pemuda Filus timor ini hanya berdoa ” dalam nama Yesus ” dan sembuh,  Berita semakin tersebar keseluruh penjuru masyarakat, bahwa ada  manusia ajaib muncul disumber Pandan  bawa kesembuhan dalam nama Yesus.

KAGET, ..BERTEMU HARIMAU DITENGAH HUTAN..DIKAKI GUNUNG WILLIS.

Pada malam itu semangat berkobar-kobar untuk  mengunjungi perkebunan Mboso pos terakhir, dimana tinggal mantan koramil yang juga berasal dari timor – Kupang, yang memberi semangat kepada  filus dan Ishak kedua hamba Tuhan yang praktek dari I3 Batu Malang.

Mereka berjalan melalui hutan rimba…adalah hutan larangan yang tidak boleh dipotong, disitulah  habitat harimau jawa, kera dan semua binantang hutan  yang dibiarkan/ dilindungi untuk  tinggal dengan aman

Karena gelap gulita, maka mereka  menyalakan lampu strongking yang nyalanya lumayan, berjalan setapak demi setapak  melalui jalan  setapak/tikus yang hanya  bisa dilalui orang dengan berjalan kaki.

Mantan Koramil yang berasal dari Timor Kupang ini sambil jalan berceritera: “bahwa didaerah ini kami sering ketemu hari mau”, ..dengan  kisah ini timbul rasa takut…tapi mereka berjalan terus melalui jalan  belokan segi tiga dimana  sebelah batu karang besar…tiba-tiba  diujung jalan segi tiga itu tergrebek oleh mereka seekor harimau yang juga sedang berjalan tentu mau mencari mangsanya….maka harimaunya terkejut dan lari….merekapun terkejut dan lari…

harimau kaget, merekapun kaget bertemu disudut jalan batu besar di tengah hutan

sama-sama lari ketakutan…untunglah harimau itu menghilang  dihutan dalam kekelaman pekat gulita & kegelapan yang sunyi sepi itu dan merekapun berjalan terus sehingga  sampai dengan selamat dipos terakhir yang adalah rumah mantan koramil dari timor Kupang ini dengan was – was, tapi puji Tuhan ..mereka tiba dengan selamat, diufuk timur kaki gunung Willis yang sangat mempesona dan asri pemandangan alamnya.

 SEORANG ANAK SUDAH DINGIN BADANNYA, SEMUA SUDAH MENANGIS   DITENGAH  MALAM.

Anak ini adalah anak sekolah minggu pemuda Filus  , pada siang harinya ia bersama mamanya pergi kekebun,  dikebun mereka bertemu dengan harimau jadi-jadian atau iblis, sesampai dirumah  anak  ini sakit panas, muntah-muntah sampai  kehabisan cairan dalam tubuhnya, dan berita tengah malam  ia tidak bergerak lagi….. badannya sudah dingin, serta semua masyarakat berkumpul dan menangis sekitar 10 menit,  para tua-tua desa berembuk mengambil keputusan untuk  membangunkan pemuda Theofilus ditengah malam.  ia  datang mendengar semua sudah meraung- raung dalam tangisan mereka, terutama ibunya dan kerabat dekat anak itu.

Pemuda Filus  tentu sudah berdoa sebelum datang, supaya Tuhan Tunjukan kuasaNya didaerah sumber -pandan  ini  supaya  nama Tuhan Yesus dimuliakan melalui peristiwa ini.  pemuda Filus berkata : Harap  semua diam dan tenang …. hentikan tangisan dan semua usaha : mari kita berdoa :

YA TUHAN …DALAM NAMA YESUS,KAMI DATANG MENYEMBAH DIKAU, … ALLAH YANG HIDUP,….ENGKAU MENGUTUS HAMBAMU UNTUK MELAYANI DI DESA……

Ketika mereka mendengar dan mengalami Mujizat Tuhan Yesus dan menjadi sembuh, …kalau mereka  membuka hati dan percaya pada Tuhan Yesus,  maka terjadilah Proklamasi kerajaan Allah dalam hidup mereka di Sumber Pandan dan Sendang, kaki gunung Willis Tulung Agung

SUMBER PANDAN INI, DAN BANYAK ORANG MENJADI PERCAYA. KINI YA TUHAN…. ANAK KECIL  YANG SAKIT DAN TAK BERDAYA, DIMANA BADAN SUDAH DINGIN,

SERTA KELUARGANYA

SUDAH MENANGIS……. HAMBA MINTA  DALAM NAMA YESUS, JAMAHLAH TUBUHNYA,.. JIWANYA..DAN ROHNYA.. YA TUHAN TUNJUKKANLAH MUJIZATMU AGAR BANYAK ORANG MENJADI PERCAYA DAN MENGENAL NAMAMU, YA YESUS TUHAN KAMI. BIARLAH NAMAMU DIPERMULIAKAN….. DALAM NAMA YESUS HAMBA BERDOA AMIN.

Sesudah berdoa  dalam nama Yesus  dan ditutup dengan amin, anak ini bangun minta makan dan minta minum: semua orang termasuk pemuda Filus heran… ada kuasa YESUS yang luar biasa, menunjukan mujizatnya ditengah masyarakat yang belum percaya dan ada yang baru percaya ini. “Memang setiap daerah baru dimana ada orang percaya baru, atau mereka yang mau menguji nama Tuhan Yesus pasti Tuhan   Yesus menunjukan kuasaNya saat itu, supaya nama Tuhan Yesus dimuliakan”, ketika banyak orang membuka hati dan percaya kepada Yesus, terjadilah proklamasi kerajaan Alllah dalam hidup mereka dan nama Tuhan dimuliakan……firman  Tuhan  : sesudah engkau berbuat sesuatu, mundur selangkah kebelakang dan mengatakan “hanya karena kuasa Tuhan”  “semuanya ini \datang dari Tuhan “”, “biarlah nama Tuhan Yesus dimuliakan “berarti kita manusia hanya  dipakai sebagai alatNya dan jangan mencuri kemuliaan nama Tuhan dan janganlah mengatakan: “karena aku semua ini jadi dan ada dan terlaksana” tapi karena nama Tuhan menyertai hambaNya  supaya nama Tuhan dimuliakan , ketika orang percaya kepada   Tuhan Yesus amin.

SEMAKIN TINGGI DAN BESAR RESIKO DITERIMA,  SEMAKIN TINGGI DAN BESAR PULA HASILNYA

Teori ini bukan hanya terjadi dalam kepemimpinan bidang usaha, bisnis dan perjuangan disiplin ilmu lainnya saja, tetapi  berlaku juga dalam resiko pelayanan rohani dan tantangannya.

Luar biasa  tantangan yang dialami oleh Theofilus Natumnea dan Ishak Mulyono,  mahasiswa praktek tingkat dua  I3  Batu Malang dengan nama team ” K a l e b ”  ini, ketika mereka  masuk  dan melayani Sendang dan Sumber Pandan,  dibawah  bimbingan  Pendeta Siauw Nugroho Gereja Kristus Tuhan (GKT), tantangan yang dihadapi sangat serius dan menakutkan kedua pemuda ini.

Bayangkan,…orang percaya kepada Yesus semakin banyak karena  mujizat yang dibuat Tuhan Yesus melalui pelayanan mereka berdua, orang sakit disembuhkan dalam berbagai penyakit baik sakit ringan maupun sakit berat, anak yang sudah  mati suri dihidupkan dlsbnya, maka berbondong – bondong  dan semakin banyak orang percaya Tuhan Yesus, sehingga ada inisiatif untuk mereka yang sudah belajar agar dibaptis  ke gereja Kristus Tuhan -GKT Tulung Agung.

Dalam situasi inilah tripida : camat, koramil dan kapolsek bingung terhadap warganya yang semakin banyak percaya Yesus ini. Camat memanggil mereka berdua untuk  mencari tahu data-data keduanya yang sedang berpraktek ini.Koramil memanggil untuk interogasi keduanya : mengapa warga masyarakat terpikat pada nama Yesus yang menyembuhkan banyak orang dengan kuasa mujizatNya. Kapolsek juga memanggil untuk mencari data tentang kejadian yang menghebohkan masyarakat itu, walaupun  diselingi dengan gurau karena kapolsek pernah  bertugas di Ambon, maka melihat keritingnya rambut  Theofilus Natumnea  suatu pendekatan alamiah dengan  kapolsek ini.

Bukan hanya urusan tsb sampai ditripida tingkat kecamatan saja, tapi mereka  menaikan tingkat urusan ini sampai dikantor Kabupaten Tulung Agung, bahkan  urusan ini diteruskan ke Kantor Gubernur Propinsi jawa timur di Surabaya, ibaratnya tingkat urusannya dari ring tiga menjadi ring dua dan bahkan sampai ke ring satu

Puji Tuhan tingkat kesabaran  dan keberanian kedua mahasiswa praktek ini cukup ulet dan militan, sehingga  semua urusan dilewati dan diselesaikan dengan baik karena pimpinan Roh kudus, sehingga gelombang baptisan  dua kali dilaksanakan yaitu gelombang pertama  umat yang sudah belajar dibawa ke GKT Tulung Agung untuk dibaptis dan gelombang kedua mendatangkan pendeta tentara dari kota Kediri untuk membaptiskan mereka sebagai orang percaya yang telah belajar dan mendaftarkan diri menjadi anggota jemaat didesa  Sendang

Terpujilah nama Tuhan Yesus, ia berkarya dengan RohNya yang kudus, sehingga dari dua pos menjadi empat pos termasuk Mboso dan puji Tuhan sekarang  menjadi sebuah jemaat dewasa dan belasan pos serta belasan pendeta sebagai hamba Tuhan putera daerah  dari wilayah ini tersebar  kebeberapa tempat di Indonesia ini

Hal ini disaksikan juga  oleh beberapa pengasuh /pengajar sekolah minggu dari jemaat gpib Gloria bekasi yang dipimpin oleh Listywati Margarita Melamas dan Fedrika Yosina Melamas dalam rangka mengantarkan pelayanan kasih anak-anak sekolah minggu Gloria Bekasi, sehingga  tahu perkembangan yang sedang terjadi diSendang-Sumberpandan-Tulung Agung ini

Itulah sebabnya dikatakan dalamn teori kepemimpinan bahwa semakin tinggi dan besar tantanga yang diterima, maka semakin besar manfaat dan hasil yang diperoleh, dengan ketabahan, kesabaran, keuletan dan militansi kedua hamba Tuhan ini, puji Tuhan semakin besar  hasil pelayanan yang diterima untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan.

MASA VIKHARIAT SEBAGAI SYARAT UNTUK  MENJADI PENDETA   G P I B…..

Pada saat penempatan  untuk masa vikariat GPIB, Mejelis jemaat GPIB Syalom  menyampaikan surat permohonan  Kepada Majelis Sinode GPIB untuk mempertahankan Pemuda Theofilus dijemaat GPIB Syalom, karena mereka merasa bahwa  GPIB syalomlah yang memberi bea siswa ketika ia mengikuti pendidikan  theologia. Tiga kali surat permintaan, tetapi berturut-jawaban yang sama  bahwa: “kita tidak mengutus untuk diri kita sendiri, kita  mengutus

Masa vikariat di GPIB Jemaat “Maranatha” di Balikpapan, Kaltim. Di kota minyak inilah Vik. Theofilus Natumnea di bentuk mengenal warga jemaat yang berlatar belakang bermacam-macam suku.

untuk dia pergi melayani daerah yang lain  itu namanya jemaat misioner”.

Pada  tanggal 23 maret 1976 ia tiba di Balikpapan untuk menjalani masa Vikariatnya. Suasana sudah  lain karena daerah baru, mulailah ia beradaptasi dengan kota minyak karena daerah Pertamina,  dan… Balikpapan merupakan pusat dari  semua  lokasi pengeboran minyak, disana hiruk pikuk helikopter dan kapal terbang yang volume turun naik penerbangannya  tersibuk sesudah Sukarno Hata. Semua pelayanan luar Balikpapan  ditempuh dengan udara, karena belum ada jalan darat.

Disini  Vikaris Theofilus belajar untuk  melayani dalam jemaat yang besar, kesibukan bertambah.  belajar mengenal manusia lain dalam komonitas   suku-suku yang heterogen dengan berbagai persoalan hidup mereka yang berlainan.

Volume pelayanan semakin  bertambah, seiring dengan semakin bertambahnya warga jemaat yang berbeda-beda…. datang berkumpul di jemaat GPIB  Maranatha Balikpapan ini.

SETIAP SAAT, VIKARIS THEOFILUS SIAP MELAYANI.

Dibawah bimbingan mentor pdt C. Wairata S.Th, vikharis Theofilus Natumnea  selalu siap melaksanakan pelayanan baik dalam kota maupun keluar kota, termasuk pos pelkes, perkemahan  penebangan kayu, perkemahan pengeboran minyak,  baik melalui darat, laut dan udara.

Saat   ini pos-pos tsb sudah merupakan jemaat  jemaat dewasa yang bertanggung jawab untuk terus mengembangkan pelayanan sebagai jemaat misioner.  di perusahaan minyak, gas, pupuk dan kayu bertumbuh dan berkembang jemaat GPIB untuk melayani Tuhan demi hormat dan kemuliaan nama-Nya.

di bawah bimbingan Pdt. C. Wairata S Th, (Mentor), Vik. Theofilus Natumnea siap menjalankan pelayanan, baik sungai, darat dan udara.  semua jenis penerbangan pernah di tempuh untuk melayani camp… pengeboran minyak, sering menggunakan Helikopter.

Saat bergumul menyerahkan pada Tuhan, saat senang bersyukur pada Tuhan, sambil pelayanan berjalan seiring dengan berjalan waktu, tak terasa sudah hampir setahun Vikharis menjalani tugasnya dalam berbagai segi hidup dan pelayanan, banyak yang dipersiapkan untuk diberkati oleh pendeta, apakah pendeta jemaat sebagai ketua majelis jemaat atau pendeta   non organik sesuai dengan permintaan mempelai kecuali ada catatan dari Ketua Majelis Jemaat, karena setiap minggu  tidak kurang dari 4-5 pasang di berkati di jemaat GPIB Maranatha Balikpapan.

Melihat, mendengar dan belajar serta menggembalakan  umat yang cukup  heterogen dalam kepelbagaian suku bangsa, adat budaya dlsbnya, tak terasa vikharis mendekat untuk menerima status pendeta baik melalui memberi laporan- laporan maupun  makalah yang ia harus persiapakan dan buat sebagai prasyarat untuk diteguhkan menjadi pendeta. Thema : Jemaat GPIB Maranatha Balikpapan dan prospektivitasnya.

Pada tanggal 23 maret 1977 ia telah memenuhi syarat dalam berbagai segi  dan diteguhkan  menjadi pendeta GPIB untuk ditempatkan dimana saja sesuai perjanjian syarat masa vikhariat, puji Tuhan peneguhan kependetaannya  berjalan dengan baik dalam pimpinan  Tuhan  Nats  Khotbah sulungnya  dari kel 18: 1- 27 tentang  Yitro mengunjungi Musa dan  memberi saran  untuk mengangkat hakim – hakim  agar membantu  Musa, maka mempercayakan beberapa hakim-hakim  dalam kelompok  dan tanggung jawab yang berbeda-beda, agar membantu Musa dal am menyelesaikan persoalan bangsa israel yang begitu kompleks dan Musa mendengar mertuanya itu , sehingga pekerjaan dan pelayanannya dapat dikelola dengan baik.

BERDOA DAN MENCARI TEMAN  HIDUP & PASANGAN HIDUP

Sementara melayani, pikiran, hati, dan mata vikharis  Theofilus

sementara berdoa minta Tuhan menyiapkan teman hidup, seekor kupu-kupu warna putih terbang mengelilingi Vik. Theofilus, kupu-kupu itu   berputar 3 kali,  lalu menghilang, segera ia bangun dan menulis surat cinta kepada nona Nelly Lilipaly

mulai terbuka untuk melihat, memikirkan dan dan menaruh hati pada sosok wanita yang tepat sebagai pendamping hidup. hal ini sangat penting bagi seorang Filus, namun sampai peneguhannya sebagai pendeta  pada tanggal 23 maret 1977 belum  juga ada kepastian tentang  “siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya”

Meskipun saat itu sudah ada yang  memikat hatinya, tapi terkesan jauh dari yang digapai; teman hidup sesuai dengan kehendak Tuhan , masih belum terbayang jelas belum pasti, sampai tiba waktu naik mimbar untuk menyampaikan khotbah sulungpun  si nona manis belum terlihat pada deretan keluarganya yang konon duduk paling depan, begitulah penampilan seorang pejabat, dimana ayahnya Pieter Lilipaly adalah mantan walikota Balikpapan  dan ibunya Ny.Paulina Lilipaly – Hitepeuw  adalah mantan anggota   DPR Kalimantan Timur, namun hati tidak tergoyahkan, dan semangat tidak luntur khotbah tetap berapi-api untuk memastikan warga jemaat bahwa  kepemimpinan  yang baik adalah mempercayakan bagian tertentu kepada orang yang yang dapat dipercayai  ikut mengelola  pekerjaan yang besar dan dapat mempertanggung jawabkannya dengan baik.

Memang  masalah pendamping hidup masih merupakan tanda tanya  dan menjadi sebuah kekawatiran besar karena sang ” Nona manis”  tak kunjung datang , sampai ibadah peneguhan kependetaannya  selesai, keluarganya memberi salam dengan penuh  menaruh perhatian dan rasa kekeluargaan, tapi mana…mana… dan mana…. si : “nona manis”  ?   Selamat atas peneguhannya, dan selamat melayani dalam tanggung jawab yang lebih besar, selamat dan selamat  dstnya, alangkah bahagianya hari itu, tapi masih ada yang kurang  “nona manis”  tidak  ikut mengucapkan selamat atas peneguhan ini…….Ternyata pergumulan tentang siapa pendamping hidup yang seturut dengan kehendak Tuhan, tidak bertepuk sebelah tangan,    dan pasti Tuhan menyiapkan hatinya dan yang  terbaik, Allah sementara bekerja  untuk membentuk  hidupnya  dengan cara Tuhan  yang unik.

MENGAPA BETA SENG  DATANG,  DALAM PENEGUHAN  NYONG SEBAGAI PENDETA ?

Bidan Nelly, bergumul dan bertanya dalam hatinya; “apakah beta cocok sebagai pendamping pendeta, yang harus  mendampinginya…kemana-mana

Beta bergumul luar biasa, apakah beta su cocok menjadi pendamping  hamba Tuhan… ? Apakah beta su siap ikut   suami ditempat

Hari peneguhan Pdt Theo Natumnea, Khotbah perdana tentang pendelegasian kepemimpinan Musa sesuai nasihat Yitro kemarin

dimana-mana sebagai  isteri hamba  Tuhan  ?, apakah beta su pas dimata  warga jemaat  sebagai sebutan mama nyora  ? bahkan seribu satu pertanyaan  yang mengganjal dihatiku, sehingga hari  itu maaf dan maaf,  beta seng bisa tidur, beta seng datang dalam kebaktian peneguhan, tapi beta pung hati ada disitu bersama mu  yaitu atas kehadiran keluarga dan orang tuaku……demikian pengakuan sang nona manis, ketika  menjawab ya…dan ya… untuk menjadi pendamping hidup  sampai selama-lamanya.

Beta ada saat ini dan pasti ada bersama nyong seterusnya dan selamanya, puji Tuhan menjadi kekuatan tersendiri bagi pendeta Theo dalam melangkah bersama , sebagai jawaban Tuhan.

NONA MANIS ITU  BERNAMA  NEELTJE  PETRONELLA  LILIPALY

Bidan Nelly Lilipaly juga sementara bergumul mencari teman hidup, bayangan itu Tuhan nyatakan & persiapkan yang terbaik.

Di wilayah Tarakan, Kalimantan Timur “nona Neeltje  dilahirkan  oleh

seorang ibu yang bernama Palulina-Hitepeuw, perempuan yang tegar, keras dan berwibawa ini adalah isteri yang setia dari seorang Wedana yang bernam

a Pieter Lilipaly, Neeltje kecil tumbuh ditengah-tengah  keluarga ” pamong-praja” yang sudah tentu penuh dengan kesibukan jadwal-jadwal resmi pemerintahan  yang membawahi beberapa kecamatan, ia mewarisi suasana  disiplin dalam kesetiaan ibundanya serta kewibawaan dari ayahandanya, maka ia menjadi seorang  yang terbiasa dengan hidup ddisiplin ,teratur, iapun selalu diperhatikan, disayangi  dlam status dipandang msyarakat yang ada panutan dan dihormati ini.

Keluarga Lilipaly- Hitepeuw adalah keluarga yang sangat demokratis. Orang tua mereka memberikan keleluasaan  bagi setiap anak untuk menetukan kehidupan sebagai jalan hdup  yang akan ditempuh, dalam tanggung -jawab lewat kesungguhan  dan kerja keras. Seoraang  Neeltje yang sejak dari kecil diberi karunia Tuhan  dengan mendapat fasilitas yang cukup, untuk mengenyam pendidikan sekuas-luasnya, maka setela ia menamatkan SMA-nya, Neeltje masih memilih untuk melanjutkan di sekolah Perawat Imanuel Bnadung tanpa ikatan dinas dan meneruskan  sekolah Bidan di RS. Karyadi Semarang.

Sementara, sang ayah  dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara kemudian diberi tanggung jawab yang besar lagi untuk menjabat sebagai ekda kotamadya Balikpapan; dan dari jalur itulah  ia menduduki posisi sebagai Wali kota madya balikpapan, suatu posisi yang diincer oleh semua orang. Puji Tuhan, seorang anak Tuhan mendapat kepercayaan  untuk menduduki kursi orang nomor satu di Kota madya balikpapan  zaman itu Bahwa setiap perjuangan dan pengorbanan  anak-anak Tuhan tidak sia-sia dalam Tuhan Yesus Kristus, jika kita melihat dari kaca mata dan rencana  Allah bagi umatNya.

BEKERJA SEBAGAI BIDAN KOTAMADYA BALIKPAPAN.

Bidan Nelly, ditempatkan oleh Pieter Lilipaly, Walikota Balikpapan untuk melayani di sekitar Balikpapan (dinas kesehatan kotamadaya)

Berkat ketekunan dan keseriusan belajar sampai tamat serta pengabdian yang  ulet bagi seorang Bidan, maka dengan bekal pendidikan yang diperoleh bidan Neeltje Lilipaly  langsung terjun untuk mengabdikan ilmunya bagi masyarakat Kotamadya Balikpapan, sebagai bidan Puskemas klinik bersalin,  otoritas ayahandanya. yang adalah walikota madya  Balikpapan …tanpa tes dan tinggal menuggu  SK pengangkatannya sebagai pegawai negeri.

Tiap hari ia menjalani tugasnya dengan  pergumulan  dan harapan, bahwa pada waktu Tuhan  akan diangkat sebagai pegawai negeri dilingkungan kotamadya Balikpapan,  dalam status sebagai bidan suatu status pelayanan kemanusiaan serta kebahagiaan bagi keluarga Lilipaly

Sesungguhnya manusia boleh berencama, tetapi Tuhan yang menentukan nasib dan perjalanan hidup sesorang dalam dunia ini

“SEMUA DATANG DARI TUHAN YANG BERENCANA UNTUK KITA”

Seorang pemuda Timor yang diam-diam sudah lama menaruh hati  serta tertarik padanya,  memberanikan diri maju pelan- tapi pasti  menyampaikan pada orang tuanya untuk mempersuntingnya; Orang sering  berkata “jodoh ditangan Tuhan ” dan…pepatah ini berlaku pada gadis Neeltje, mungkin hal itu yang membuat dia bergumul lama   dan   baru memberi jawaban ya dan ya kepada Vikharis Theofilus sampai melewati peneguhan sang vikharis menjadi pendeta GPIB yang menegangkan itu,  pergumulannya matang  untuk memberi jawaban yang pas dan enak didengar ya dan ya dan ya dan SK Pendeta theo lebih pas padanya, maka tanpa SK  pemerintah,  dia sudah  mau mendapat SK seumur hidup yaitu rencana pernikahanya….dengan pendeta Theo suatu nama panggilan baru dari  mama mertua yang melekat sampai sekarang ini. dengan nama-nama tsb maka jika orang  memanggilnya Rasi berarti orang dari  Nubraen dan usianya lebih tua, Jika orang memanggi nepa berarti orang nya dari Nubraen dan umurnya  sama atau lebih muda, jika orang memanggi Filus berarti dia kenal dari kecil sampai masa  vikhariat dan jika orang memanggil Theo berarti dia kenal dari penahbisan Pendeta sampai sekarang.

PERKENALAN  &  PERSIAPAN NIKAH YANG SINGKAT.

Pada waktu peneguhan pendeta, telah diumumkan bahwa Pdt Theofilus Natumnea, ditempatkan sebagai Pendeta /Ketua majelis jemaat GPIB Sabang dan Pendeta/Ketua majelis jemaat GPIB  Banda Aceh, dengan sambutan gemuruh suara warga jemaat yang  riuh rendah kedengarannya, ada yang setuju tapi ada yang tidak  setuju karena   masmedia telah mengumumkan tentang  Gerakan Aceh Merdeka sementara berlangsung di wilayah Aceh

Foto catatan Sipil, 23 April 1977 di di Kantor Catatan Sipil, kotamadya Balikpapan, yang disaksikan oleh keluarga besar kedua   belah pihak

 Dengan data diatas mau menggambarkan  bahwa  bahwa lebih tenang Pendeta Theofius natumnea  berangkat dengan pendamping hidup  yang kuat untuk saling menolong dan menguatkan satu sama lain… Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi sang Pendeta baru sebab dalam hati ada pertanyaan : jangan kan menikah, jawaban pun belum ada.

Menunggu adalah pekerjaan yang paling mendebarkan, tetapi surat yang telah disampaikan oleh calon Pendeta Theofilus kepada Nona Neeltje  belum mendapatkan jawaban, …….saat inilah yang menegangkan, tapi akhirnya mendapatkan  jawaban juga, melalui bung sias seorang pemuda alor yang menjadi penghubung keluarga Lilipaly  memanggil ; ” Theo”(begitubiasanya  Keluarga nona Neeltje memanggil Filus) untuk datang kerumah mereka. Hati sang pemuda filus, dipadati berbagai pertanyaan : apakah panggilan Keluarga Lilipaly ini pertanda baik atau buruk ? hanya Tuhan yang  tahu ! Tetapi pemuda  sekalgus pendeta muda ini belajar berpikir positip: bahwa jika keluarga berkenan  untuk memanggil dan bertemu langsung dengannya, itu berarti  suatu langkah baik sehingga ingin mau bicara langsung, karena itu  dengan gagah berani ia maju sendiri dan memberanikan diri untuk datang dirumah mantan sang walikota , memenuhi panggilan keluarga Lilipaly .

Datang dengan harapan besar akan maksudnya untuk diterima, walaupun dengan sedikit was-was dan gemetar menghadapi  calon mertua. Tak dikira, percakapan begitu lancar

Pertemuan ini kemudian dipakai untuk memberikan kejutan manis kepada keluarga Lilipaly ;Pemuda Timor seorang diri ini berani langsung menyampaikan lamaran dan meminta untuk menikahi Neeltje  secepatnya agar jika berangkat ke Aceh sudah berdua, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul; Keluarga tentu saja amat terkejut,  tetapi setelah pemuda Theo menjelaskan bahwa  pemuda Theo ini sebagai Pendeta lebih baik kalau  sudah berkeluarga melayani dan berada ditengah-tengah jemaat karena  akan segera berangkat ke daerah yang sudah ditempatkan Majelis Sinode GPIB yaitu D.I ACEH.; itu berarti setelah menikah Theo akan memboyong  Neeltje: permaisuru hatinya ditempat  tugasnya diseberang lautan sana.

Keluargapun dapat menerimaa  dan setuju untuk menikah dalam waktu singkat, persiapan nkahpun digelar….tanggal  pernikahan pun ditentukan bersama  yaitu tanggal 23 april 1977( satu bulan setelah peneguhan kependetaannya. Kepanitiaan pernikahan dibentuk dari berbagai unsur, meski terjadi benturan-benturan kecil, tetapi semua itu merupakan  kendala yang tidak sulit untuk diatasi, karena mereka merupakan perpaduan antara anggota keluarga dari kedua belah pihak dan semuanya adalah warga jemaat serta majelis jemaat GPIB maranatha Balikpapan.. karena Theo adalah seorang pemuda Timor yang merantau dan jauh dari sanak saudara, maka ia meminta supaya manta mentor Pdt C. wairata S.th untu menjadi wali orang tuanya.

Pemberkatan Nikah oleh Pdt. Pandeleke (Pendeta Militer), 23 Maret 1977 di GPIB Jemaat Maranatha di Balikpapan

Pembrkatan nikah dilayani oleh Pdt  Pandeleke,  yang sehari-harinya adalah Pendeta  TNI Angkatan darat ( Meliter ) diB alikpapan .

Suasana haru karena Pdt. Theo Jauh dari orang tua dan keluarga, yang tidak dapat menghadiri acara pernikahan ini, namun diwakili oleh Pdt. C. Wairata STh dan Ny. Pdt. Vonny Wairata, sebagai wali.

pemberkatan nikahpunberlasung dengan hikmat, dan resepsi diadakan di AULA pertamina,

karena  banyak anggota panitia adalah orang pertamina, semuanya digelar dengan membawa kenangan yang paling manis: cium pipikanan dan pipi iri, dengan ucapan selamat bahagia…dan Tuhan berkati…….maka hilanglah kelelahan dan kekuatiran sebelumnya… bahwa semuanya indah pada waktunya, yang Tuhan tentukan itu baik adanya atau semua dari Tuhan itu baik psti dan pasti………  selamat jalan  bersama isteri  kekasih sang pendeta muda… tetap semangat melayani Tuhan

PASANGAN BAHAGIA  ITU SIAP BERANGKAT  KE TANAH RENCONG!   SERAMBI MEKAH

Tidak membayangkan bahwa penempatan pertama di kota Banda Aceh, namun rencana Tuhan itu indah sesuai dengan doa Theofilus Natumnea, selain minta teman hidup, maka ia meminta juga tempat pelayan pertama adalah tempat yang paling sulit. itulah sekolah Tuhan pertama di lapangan.

Hiruk pikuk banyak orang beruasaha pendekatan dan  berdoa untuk di tempatkan di kota Besar jakarta, banngdung , Surabaya   dstnya, pokok masih lihat monas katanya, , Pendeta  Theo Berdoa sejak dari masa Vikhariat minta hanya dua hal

1. minta  Isteri sesuai dengan kehendak Tuhan mengenal jalannya pelayanan sesuai dengan kehndakMu.

2. Minta  tempat pelayanan pertama adalah tempat yang paling sulit, dan sesuai kehendak Tuhan supaya menjadi tempat pembelajaran yang indah.

Maka setelah la menikah  pasangan Pdt. Theofilus Natumnea dengan  Ny. Neeltje  Petronella natumnea-Lilipaly   bergumul dalam doa dan  Tuhan menunjukan firman Tuhan sesuai santapan harian dalam matius 10 : 30  : Dan kamu, rambut kepalamupun  terhitung semuanya  ; ”  artinya Tuhan  tahu          berapa jumlah rambut dikepala kita, maka sehelai rambutpun tidak akan gugur ditangan orang jahat, jika Tuhan tidak menghendakinya….  lalu berdasarkan keyakinan akan firman Tuhan ini, dengan iman mereka  berangkat menuju ke Banda Aceh,; Kapal laut menuju Medan dan dari Medan barang-barang via darat sedang mereka berdua   suami istri muda ini  mamakai kapal terbang dan mendarat di  Lapangan terbang Blang padang.(banda Aceh)

Team penjjemput melihat dan memperhatikan satu per-satu: mana pasangan pendeta jemaat kita : adalah pendeta jemaat pertama  sejak Indonesia merdeka, jadi begitu rindunya warga jemaat dan kadangkala tidak sabar lagi menanti, kapan tiba,: kata seorang anggota majelis jemaat  bapak Mester Sebayang seorang aktivis dan guru SMP Negeri… di Banda Aceh.

Ternyata kemarin mereka datang ke lapangan terbang menjemput pendeta muda dan Isteri,  ini karena terlambat telegram bahwa kepal terbangnya  ditunda, waktu itu belum ada Hp, SMS, Vaks dlsbnya pastoripun belum ada telepon, dan harapan satu-satunya  adalah telegram, …..team penjemput sudah tidak sabar lalu turunlah dua pasang muda, Pak Mester Sebayang katakan :Tasnya saya bawa pak Pendeta, beliau menjawab : saya bukan pendeta, sangat kecewa  dan dengan perasaan kecewa teamnya pulang, sesampai di gerejamereka makan semua persiapan makanan,  …..datanglah pengantar surat telegram; bahwa tertunda smpai besok

 Begitulah besarnya kerinduan sebuah jemaat (gereja tua dari zaman Belanda)  yang selama ini rindu  dan menantikan   seorang pendeta yang  belum kunjung tiba  sejak   Indonesia merdeka, maka dengan berita kedatangan kedua insan ini menjadi obat mujarat untuk mengobati kehausan dan kerinduan  warga  jemaat  yang hdup Rohaninya bercampur  pengaruh-pengaruh  kuasa gelap( majic)……… yang tidak…….. sesuai keimanan mereka, tapi warga jemaat adalah orang -orang yang  tetap mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan   dan juru selamat mereka.

SERAMBI MEKAH  ” NANGRO ACEH DARUSALAM  DAN  JEMAAT GPIB  BANDA  ACEH.”

Setibanya diSerambi Mekah , sebagai keluarga pendeta muda pasangan Theo & Nelly mulai beradaptasi dengan jemaat,  dan lingkungan masyarakat dan  berharap tentu mendapat tempat yang cukup nyaman. … sesuai   situasi  setempat.

Banda Aceh  adalah ibu kota Propinsi dan sudah menjadi kota yang ramai, dengan penduduk dominan  beragama Islam dalam tahap-tahp pembangunan fisik yang  menggeliat disemua sektor.

Sambutan jemaat cukup akrab dengan pejemputan  kekeluargaan yang dinikmati, hal ini  berbeda dengan masyarakat setempat yang menolak kehadiran pendeta muda ini bersama Nelly, namun tanpa keluh kesah karena sudah diperingatkan Tuhan dalam Matius 10:30 bahwa Tuhan akan memelihara anak-anakNya , walaupun akan mendapat tantangan dari masyarakat dalam penempatan  perdana ini.

RUMAH PASTORY BERATAP SENG DILEMPAR DENGAN BATU.

Tak gentar mendengar lemparan batu di rmh  pastori yg beratapkan   seng ini, sabar.. sabar.. dan sabar.tabah…tabah dan tabah. Mz.34:8

Rasanya seperti tidak bisa tidur, apa   sebabnya  ? Hampir tiap tengah malam rumah beratapkan seng ini digebukin dengan lemparan batu, yang kedenganranya seperti alarm,  karena batu berjatuhan terus menerus. Tiap minggu berganti-gantian  sistim pelemparannya, bahkan kadang kala ada batu  yang diarahkan menuju kaca besar( pastori itu memiiki dua kaca besar, baik didepan maupun dibelakang rumah).  Mereka  berdua  selalu  tetap berdoa: Ya Tuhan ampunilah” mereka”,karena   tidak tahu apa yang  mereka diperbuatnya  doa ini dalam nama Yesus  dan dalam  kuasa Yesus  amin.

KOTORAN MANUSIA DITANGGA RUMAH

Hampir tiap pagi atau seminggu beberapa kali, ketika mereka bangun  tercium ada yang bau menyengat, ternyata dalam plastik hitam ditangga rumah pastory terletak kotoran manusia yang terbungkus rapi dengan  plastik, mereka ambil berdoa  Dalam nama Yesus kami membakar semua ini dan Tuhan tolong sadarkanlah “mereka  ” yang tidak tahu apa yang “mereka perbuat ini dan sekali lagi  dalam nama Yesus kami  membakar semuanya ini Amin… itulah doa mereka

BANGKAI AYAM JANTAN DUA EKOR DAN SAJI-SAJIAN.

dalam nama Yesus kami ikat segala kuasa gelap. “enyahlah engkau hai kuasa iblis, terpujilah Tuhan Yesus. Amin”

Didepan halaman rumah terkubur dua ekor ayam jantan  yang sudah dipotong lehernya,  dan dibiarkan kepalanya yang keluar,  disebelah kiri dan kanan dari kedua sudut pastory, sedang sebelah paling kanan  ada sebuah baskom yang berisi ramu-ramuan, sebagai pertanda bahwa perlawananya bukan lagi teror biasa tetapi sudah bercampur kuasa gelap atau magic.

Pendeta Theo memanggil pemuda-pemuda yang tinggal disekitar  pintu belakang gereja(ada ruang khusus,)  mereka berdoa: “yaTuhan dalam nama Yesus Kami bakar semua ramuan dan bangkai ayam ini, namaMu yang dimuliakan Amin ”  dan membakar dengan sabar apapun yang terjadi demi  pelayanan dalam nama Tuhan Yesus, yakin bahwa  “sudah pakai payung kuasa Firman Tuhan  maka  hujan cobaan apapun pasti akan jatuh kebawah  dan hanya terdampar melalui” payung Firman Tuhan itu.” sebagai tanda kuasa Tuhan menyertai  kita dalam lapangan  pertempuran rohani dan pelayanan.

“M E N E R I M A   MEREKA BAHWA MEREKA BELUM MENERIMA KITA  DAN BERHARI RAYA IDULTRI SEBAGAI BAGIAN DARI PENDEKTAN DENGAN  MASYARAKAT.

KEDUA INSAN INI  menerima warga yang berpikir, bertindak negatip, dalam keberadaan mereka   sebagai tanda  warga belum menerima mereka  …Konsep menantang kedua INSAN YANG SEHATI SEPIKIR INI ini untuk  menerima keadaan  warga masyarakat  yang karena  keterbatasan, kemiskinan dan kebodohan mereka tidak tahu apa yang diperbuat dalam kaitan  sebagai sesama bangsa dan  yang menerima keperbagaian  dan status orang lain  a, apalagi orang baru, namun sebagai  Hamba Tuhan”TERIMALAH SEADANYA BAHWA MEREKA BELUM MENERIMA KITA” kata pendeta Theo ; serta usahakan pendekatan. Hari yang paling baik untuk hal itu adalah Hari raya Idulfitri, Bejalanlah berdua sore-sore tanpa was-was-,  dan  ternyata  pendekatan dari rumah kerumah pada hari  raya itu adalah waktu yang paling baik  sehingga  masyarakat sangat senang dan menerima kedua hamba Tuhan ini:  adalah Hari raya idulfitri  dimana mereka beranikan diri bertamu, dan diterima dengan  baik  serta disuguhkan  kue hari raya sambil

Menerima:  bahwa mrk belum menerima  kami, Mencari Jalan agar mereka menerima kami dengan berhari raya Idul Fitri kettetangga ,  pasti aman

bercerita minum sirop, makan kue, dari rumah yang satu ke rumah yang lain..lalu selesai pulang  ke rumah……tahun kedua berbuat yang sama…….. dan tahun  ketiga juga……  setelah berjalan tiga tahun  baru mereka balas dengan bernatal  kerumah  pendeta muda ini, tapi tanpa terasa, tahun itu adalah tahun terakhir bagi pdt Theo dan Nelly, sebab sudah 6 tahun melalyani di jemaat GPIB Banda Aceh dan jemaat GPIB Sabang.

Selalu menerima dengan sabar apapun yang orang lain lakukan terhadapnya dan terus mengasihi meereka  tanpa membalas tindakan naif dan negatip kepada  masyarakat, adalah sisilain dari seorangTheofilus Natumnea  yang belakangan sangat membantunya dalam menghadapi tantangan  pelayanan yang Tuhan percayakan kepadanya.  Satu demi satu masalah, datang dan pergi dalam kehidupan hamba Tuhan pasangan sehati ini yang selalu berpadanan dengan kehendak Tuhan, sikap ini makin membuat hidup mereka  semakin bermakna. Perkenalan dan persehabatan  semakin digiatkan  untuk membangun masyarakat sehingga memelihara kerukunan baik intern umat beragama maupun antar umat beragama  dapat berjalan dengan baik……..

BERHARI IDULFITRI BERSAMA PENDETA YOHANES  MAHMUD KE PAMANNYA

Hari itu hari minggu, sesudah beliau berkhotbah di GPIB Banda Aceh , mengajak Pdt Theo  untuk berhari raya kepamannya, karena sejak beliau ikut Tuhan Yesus belum pernah pulang kampung bersama keluarga, dan bahwa  hari raya adalah hari yang tepat untuk  bertemu  keluarga besar; .  Berdua memakai motor  honda bebek, melewati jalan lorong tikus yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua.  Dalam renung pendeta  Theo berkata dalam hati  sbb:” kalau kita dikejar, anda tahu jalan karena kampungmu dan bisa menghilang kemana saja, nah, beta kermana ini.” Tapi puji Tuhan kami diterima sangat baik oleh paman dan tantenya  bahkan  semua kerabat  keluarga besar  mereka berkata : Pak pendeta ini ponakan saya dulu rajin sembahyang lima waktu, tapi kini dia menjadi kristen bahkan menjadi pendeta  ini karena kuasa  dan rohTuhan yang bekerja; “: dalam hatiku aman kita  disini dan aman kita pulang kerumah.” Terpujilah Tuhan  amin.

MEMBAKAR JIMAT-JIMAT WARGA JEMAAT GPIB  DIHALAMAN PASTORI

Maklum, jemaat tanpa pendeta bertahun-tahun, maka masing masing  mencari jalannya sendiri untuk menambah ilmu ketahanan  berupa jimaat dlsbnya , bahkan ada yang ditokohkan tetapi ia  sebagai dukun  asal GPIB Banda Aceh. Kunjungan dan kunjungan akhirnya Om Wenas yang sudah lama suka mengobati  dan memberi jimat pada orang lain termasuk warga jemaat, mau bertobat dan bersepakat untuk membakar jimat-jimatnya di halaman pastori.

Om Wenas dan Om Supit adalah dukun besar, yang juga jemaat GPIB Banda Aceh bertobat dan membawa jimatnya untuk di bakar di halaman gereja dalam nama Tuhan Yesus amin.

Demikian  juga halnya dengan dukun besar  Om supit adalah kolonel purnawirawan TNI  AD,   mereka bergumul empat tahun lamanya bersama  beliau   dan akhirnya ia  menyerahkan semua jimat-jimat pada saat tidak berdaya lagi  Puji Tuhan   semua jimatnya dibakar pada tanggal 31 Desember  1981 ….Doa ….Dalam nama Yesus  kamibakar semua jimat-jimat ini, dan nama Tuhan dimuliakan  amin.

Dan keluarga  yang lain   hanya menerima kain merah dan kain putih, maka setelah dua dukun besar ini bertobat, ibaratnya tinggal berjatuhan semua benda jimat yang diberikan kepada warga jemaat, tinggal diambil dan dibakar bersama-sama warga jemaat.

Perbersihan, demi pembersihan berjalan terus, karena Roh Allah sedang bekerja untuk membangun dan membaharui umat Tuhan di jemaat GPIB Banda  Aceh  dan jemaat GPIB Sabang  ini….adalah wilayah pelayanannya,  kerena mendapat kepercayaan untuk  melayani dua jemaat dewasa ini,  sekaligus sebagai ketua majelis jemaat untuk kedua jemaat dewasa ini juga.

DOA PERTOBATAN OM WENAS,DARI DUKUN.

YA TUHAN, HAMBA MENGAKU BAHWA  HAMBA MENERIMA DAN MEMBERI KUASA DUKUN DARI ORANG LAIN DAN KEPADA ORANG LAIN JUGA.

HAMBA MOHON AMPUN ATAS KESALAHAN DAN DOSA YANG HAMBA PERBUAT….DAN HAMBA BERJANJI UNTUK BERTOBAT DARI SEMUA PRAKTEK KEDUKUNAN ITU.

YA TUHAN BAHARUILAH HIDUP HAMBA, SUPAYA DIPAKAI MENJADI SAKSIMU DALAM PELAYANAN JEMAAT.  DALAM NAMA YESUS HAMBA BERDOA  AMIN.

Doa ini diitutup dengan doa bimbingan oleh Pdt Theo, supaya menguatkan dan membaharui hidup om Wenas ini amin

PASIEN DATANG MINTA PENGOBATAN DUKUN

Setiba di Banda Aceh Pdt Theo Natumnea ini selalu berdoa ” Jika Tuhan kehendaki ia dapat memberitakan Injil Firman Tuhan Yesus kepada orang lain,  selain warga jemaat yang  dilayaninya itu.

Puji Tuhan, kerena tidak mempan dengan serangan kuasa kegelapan, maka orang mengira Pdt. Theo adalah dukun.hebat.. datanglah seorang ibu minta pertolongan; kesempatan ini tidak disia-siakan dengan memberitakan Injil, mendoakan dan memberkati ibu ini,  agar  selamat rohani dan jasmani & tentu disembuhkan Tuhan Yesus

Isu terdengar kemasyarakat ditambah dengan  fakta gangguan-gangguan kuasa gelap yang tidak mampan, kepada keluarga pendeta Theo yang muda ini,  maka orang mengatakan  bahwa   d i a  dukun hebat, bisa menobatkan dan mematikan langkah dukun-dukun yl. Pada hal  apa yang diperbuat pendeta theo adalah kemurahan dan kuasa yang berasal dari Tuhan Yesus, biarlah segala kemuliaan hanya bagi NamaNya atau semua yang diperbuat itu dari Tuhan dan Untuk Tuhan amin.

Suatu sore datang seorang ibu, ditangga rumah ia bertanya: apakah bapak seorang dukun? Pendeta muda  ini tidak menjawab ya atau tidak hanya menjawab ; silahkan masuk……pasien ini seorang ibu, karena itu ia memanggil  Nyora Neeltje untuk pendampingan; lalu diutarakan sakitnya dan minta obat… sebelumnya Pdt Theo mengatakan bahwa :” saya bukan dukun  bahkan anti dukun,  saya hamba Tuhan, saya gembala jemaat”, tapi….kalau ibu mau sembuh saya doakan dalam nama Yesus, ….sang  pemilik Kuasa kesembuhan itu.

Ia mengangguk-angguk dan berkata ya…. saya mau tanda setuju, lalu mereka baca  bersama Yesaya 53 : 3-5  dua kali  lalu berdoa : Tuhan sembuhkanlah ibu ini dari sakitnya dalam nama Yesus, supaya namaMu dipermuliakan , terpujilah Tuhan Yesus amin; .  ibu ini bertanya ; bayar berapa  pak’  Pendeta menjawab tidak usah bayar, tapi sampaikanlah berita kami bahwa beliau bukan dukun tetapi “pendeta, gembala jemaat bahkan anti dukun” Ia hanya berdoa serta  membaca Firman Tuhan dalam nama Yesus.

Mari kita menyimak:” apakah ibu ini  mendengar firman Tuhan pertama kali atau kedua atau ketiga   kali dari Pendeta Theo?, mereka tidak tahu, tapi yang pasti bahwa berita Firman Tuhan dalam nama Yesus sudah didengar    dan sampai pada ibu ini dan Rohkudus yang bekerja untuk selanjutnya pada ibu ini, apakah dia bertobat atau tidak,  kerena  belum waktunya  hanya Tuhan yang  tahu , tapi misi kita orang percaya sebagai  sebagai jemaat missioner  untuk membawa dan memberitakan amanat agung TUHAN  YESUS  , supaya beritakan firmanNya pada waktu yang baik dan tepat,  apakah saudara peka terhadap orang membutuhkan dan telah menyediakan hatinya, silahkan membaca sendiri tanda-tanda zaman disekitar hidup saudara dimana saudara ditempatkan.

BERDIRINYA  GEREJA  KRISTEN JERUSALEM  {GKJ}.

Roh Allah yang bekerja, demikianlah kata-kata dari pamannya Pendeta  Yohanes mahmud yang didengar sendiri oleh Pendeta Theo Natumnea , waktu berhari raya Idulfitri, itu dan menjadi kenyataan  bahwa orang-orang Kristen berasal dari aceh, semakin bertambah

Ia dan Pdt Yohanes Mahmud serta Ev. Teunku Zainudin, bersama 28 orang lainnya mendirikan Gereja Kristen Yerusalem

dan berencana hendak mendirikan gereja tersendiri agar lebih bebas bergerak dalam pelayanan. Hal ini disampaikan kepada Pendeta Theo  untuk mengadakan konperensi guna merealisasikan niat tsb. Dijawab oleh Pendeta Theo. tidak perlu memakai kata konperensi atau kongres, karena nanti akan menyulitkan anda sendiri,tapi pakailah kalimat persekutuan  doa dan berembuk untuk niat tsb. alhasil mereka mendengar dan dalam persekutuan doa dan perembukan pertama beberapa orang mewakili jumlah mereka  yang ada yaitu 28 orang dewasa.. Puji Tuhan, mereka bertumbuh dan berkembang dan sekarang gereja ini bernama Gereja Kristen Protestan Anugerah, yang sebelumnya  GKPA  juga pernah bernama Gereja  Kristen Protestan  Aceh , tapi berbagai hal akhirnya diganti menjadi Gereja  Kristen Protestan  Anugerah  yang isinya adalah orang orang  Aceh yang telah diselamatkan oleh Kristus menjadi umatNya.

MELAYANI BAPTISAN  KUDUS DI BATALION TNI AD SEULEUMEUM.

Bersama  majelis jemaat GPIB Banda Aceh  dan kepala Inspeksi Bea Cukai Propinsi D>I Aceh bapak Drs H.D. Tundang dalam semangat pelayanan yang sama, kami  mengadakan baptisan dalam kunjungan  kepada umat  di Batalion  TNI AD Seuleumeum.

Komp.  Batalion TNI Iskandar Muda, Seuleumum, tempat baptisan kudus di lapangan, pertama kali

Pada saat itu Pdt Theo telah membawa mesin Tik dan  cap Gereja serta  surat baptisan, sehingga  sebelum membaptis, mereka mengerjakan semua administrasinya… dan  barulah  diadakan kebaktian baptisan kudus. itulah suasana didaerah……….. yang membutuhkan  inovasi terus menerus untuk menjawab masalah dan tantangan pelayanan yang sangat mendesak dan  membutuhkan pelayanan  itu….jadi tidak hanya menunggu bola  , tetapi menjemput bola dalammembaca siatuasi dan konndisi masyarakat setempat.

BERTEMU BUPATI UNTUK MEMBERIKAN BANTUAN SOSIAL’ BENCANA ALAM DI MEULABOUH

Ketika terjadi bencana alam (Tsunami lokal)  di kabupaten Aceh barat, maka Pendeta Theo bersama Mejelis Jemaat GPIB Banda Aceh bapak Drs  Mester Sebayang sebagai sekretaris dan Bapak DrH Barus sebagai Bendahara, mengadakan kerja sama dengan LEMBAGA PELAYANAN   KRISTEN INDONESIA( LEPKI),

Bantuan beras  10  ton dan 100 helai  kain sarung untuk korban bencana tsunami lokal di Meulaboh, kerjasama dengan LIPKI

sehingga  pihak LEPKI mengirimkan bantuan yang digabungkan dengan bantuan jemaat GPIB Banda Aceh,  lalu  diantarkan 10 ton beras dan bahan pakain  baru berupa kain lipat dll,  untuk menjawab pergumulan sesama warga negara Indonesia yang  sedang  mengalami bencana tsb. Disitulah Ia bertemu   dengan Bapak Bupati Aceh Barat di Meilaubouh, yang mengucapkan: ” terima kasih atas bantuan dari pihak  Majelis Jemaat GPIB Ban da Aceh  dan Lembaga pelayanan Kkristen Indonesia( LEPKI) yang turut  bersimpati dan berempati untuk warga negara Indonesia dibelahan  Aceh  barat ini” terima kasih kepada bapak Pendeta Theofilus Natumnea, yang jauh-jauh dari Timor sana melayani di GPIBanda Aceh dan hari ini datang membantu kami masyarakat Aceh barat di MEULAUBOUH   ini “. tolong sampaikan salam persaudaraan  sebangsa dan setanah air… kami kepada warga jemaat yang menyumbangkan semua ini, kami akan  meneruskan kepada  yang berhak menerimanya yaitu korban  bencana alam  di Meulauboh ini.

BERJALAN KAKI KELILING KOTA DALAM NAMA ALLAH BAPA  DAN ANAK DAN ROH KUDUS.

Salah satu hobi pendeta Theo adalah olah raga, setiap pagi dengan memakai  pakaian olah raga, keliling kota  Banda Aceh ; sering  bersama dengan  bapak Drh  Barus  sebagai pejalan kaki keliling kota Banda  Aceh juga.

Hal yang  dibuat oleh Pendeta Theo ini agak lain, karena ia bukan berjalan  biasa, tetapi ada ucapan yang keluar dari mulutnya :”DALAM NAMA  ALLAH BAPA DAN ANAK DAN ROH KUDUS’…ini dijalaninya sepanjang perjalannya keliling kota itu, tiap sepuluh meter , ucapan ini selalu keluar dari hati dan mulutnya; Ia tahu bahwa hanya kuasa Tuhan ia dapat menjalani dan melayani di kota Banda Aceh ini yang merupakan Pendeta perdana sejak Indonesia merdeka….dan Ia yakin bahwa kuasa Tuhan Yesus selalu menyertainya dan membuka jalan baginya untuk pelayanan dihari ini dan hari-hari yad bagi kemuliaan nama Tuhan.Mz34:8  &  91 : 11- 16 dstnya

MELAYANI DIKAMP TNI.AL MARINIR DIPINGGIR SUNGAI.

Suatu ketika  ada  utusan anggota TNI Marinir kerumah, yang mengatakan bahwa ada temannya anggota Marinir adalah pemeluk agama Kristen sedang  sakit, dan jika Pedeta bersedia tolong adakan doa, karena sakitnya  serius.

Mendoakan anggota TNI marinir yang beragama Kristen, yang bertugas di camp pinggir sungai, dalam rangka menjaga keamanan dari gangguan GAM

Berdasarkan  panggilan ini, tentu dengan senang hati Pendeta Theo ikut untuk melayani warga Kristen  yang adalah anggota TNI  AL Marinir tsb . Mereka berdoa dan memuji nama Tuhan karena kesembuhan dan kekuatan yang dialaminya didalam nama Tuhan Yesus.

Bagi pelayan Tuhan  selalu ada kesiapan untuk  melayani , kapanpun dan siapapun dan dimanapun dalam kondisi  Aceh  yang membutuhkan pelayanan, tentu disepanjang jalan selalu was-was karena pada waktu itu keadaan daerah Istimewa Aceh dalam keadaan darurat,  karena peperangan antara  tentara Gerakan  aceh merdeka GAM  dan TNI, selalu kedengaran meletus senjata dan cerita yang aneh-aneh.; Tapi yakin bahwa Tuhan yang mengutus, Tuhan akan memelihara, jika Tuhan tidak kehendaki, sehelai rambutpun tidak akan gugur ditangan orang jahat. mat 10 : 30

TENTARA  ACEH MERDEKA SWEEPING  DI BUS  BANDA ACEH -MEDAN.

Dalam menjalani pertukaran mimbar antara semua jemaat GPIB semupel SUMUT-ACEH, suatu ketika  dalam perjalanan dari Aceh ke Medan untuk menjalani pertukaran mimbar tsb,  ada pemeriksaan dari tentara  Gerakan Aceh merdeka( GAM) , Tuhan beri tidur yang sangat lelap

ketika tentara GAM sweeping di Bus dari Banda Aceh ke Medan,  untuk pertukaran mimbar, Tuhan menutup mata anggota GAM tsb. dan selamat lah Pdt. Theo Natumnea. Puji Tuhan

kepada Pendeta Theo, dan ketika pemeriksa  sampai di deretan bangkunya, ia melihat mukanya seperti orang Aceh dan lewat saja, kata seorang ibu yang menuturkan ulang kejadian yang baru saja berlalu setelah Tentara Aceh merdeka itu turun dan ia membangun Pendeta Theo untuk menyempaikan kejadian  tsb.

Puji Tuhan, Ia mengutus malaikat-malaikatnya untuk melindungi anak-anakNya dan bahkan menutupi mata  Tentara Aceh meredeka itu dan menjamah hatinya, sehingga  melewati pdt Theo sebab disangka orang aceh Mz 91:9-16

BERTEMAN BAIK  DENGAN SEMUA ORANG ACEH.

Dipasar ada teman,dikedai  kopi ada teman sampai dikantor Gubernur ada teman  sehingga pada saat Team PESPARAWI  I  dari Aceh kesulitan dana kami menyampaikan kekantor Gubernur dan , mereka merespon surat permohonan tsb dan membantu team pesparawi utusan D. I. Aceh tsb.

Suasana Ibadah Minggu, Jemaat GPIB Banda Aceh sesudah tsunami sampai saat ini

bahkan suatu ketika  teman di  Percetakan(pemilik percetakan ) memberikan kunci pertemanan di Aceh : Ia mengatakan  Pak Pendeta Theo, kita sudah berteman karena  itu kalau pak datang ditempat  usahaku ini ,  jangan mengucapkan waasalam alaikum, sebab nanti saya tidak menjawab dan   pak Pendeta tidak enak, sebab “kalimat itu tidak boleh diucapkan  oleh orang lain kepada kami yang menganut islam orthodox, karena itu jika pak datang ucapkan saja selamat pagi,  atau selamat siang  kalau siang hari.

Pendeta Theo menerima dengan sukacita saran dari temannya itu dan pertemanan mereka berlangsung  baik saling menghomati dan saling  mengakui bahwa walaupun kita berbeda keyakinan, tapi kita  adalah bangsa Indonesia dan kalau  sama-sama bangsa  Indonesia dan menjadi warga negara Indoesia. seperti ini ,maka amanlah nnegara  dan masyarakat kita ini, serta majulah usaha kami. pertemanan pun berlangsung dengan akrab sampai pendeta Theo pindah dari Banda Aceh.

PEMUDA KRISTEN PUNYA  KURSI SALAH SATU WAKIL KETUA DI KNPI  PROPINSI D.I.ACEH

walaupun namanya serambi mekah, tetapi toleransi antar umat beragama baik sekali, hal ini tergambar dari kursi wakil ketua  KNPI propinsi D>I> Aceh  salah satunya diberikan kepada pemuda kristen.

Penalaran dan penghayatan  pancasila dihayati dan dilaksanakan dengan  baik, pemahaman ini memberi warna bahwa itulah Indonesia yang terdiri dari kepelbagaian suku , agama  dlsbnya saling menerima dan menghormati satu sama lain

Diterapkan juga dalam pergaulan, ketika berhubungan dengan warga masyarakat , bersama sepakat bahwa ” kita beda tetapi sama”  sebagai warga negara Indonesia diserambi mekah ini , untuk membangun Indonesia tercinta.

MENGGENDONG NELLY (ISTERI) TERCINTA DARI KAPAL TURUN KEDARAT.

Pelayanan  dua jemaat yang  dewasa dan dua pulau membutuhkan tenaga ekstra, karena  sejak ditempatkan  diberikan kepercayaan untuk menjadi Pendeta/Ketua majelis jemaat GPIB “Banda Aceh dan Pendeta/Ketua Majelis jemaat GPIB Sabang; dijalani dengan berpindah-pindah rumah pastori, satu bulan di Banda Aceh dan satu bulan di Sabang.

Kemana ia pergi, disitu juga isterinya, bayangkan tiap kali datang dipastori yang satu harus  cuci barang dapur yang sudah berdebu, maka alangkah indah dan senangnya  jika Nelly ikut bersama dimana ia berada,  saling membantu dan saling melengkapi……iya to sambil bergurau, mau mengingatkan jawaban  waktu nikah “ya dengan segenap hatiku”

Hal ini terjadi sampai Nelly Hamil anak pertama  8 bulan, ketika itu musim ombak(musim barat), semua penumpang Km Fery tsb. terobang ambing bahkan ketika mau turun  ada orang yang terjatuh kedalam laut karena harus melewati dua papan yang menghubungkan kapal dengan jempatan pelabuhan Uleuleu; Pendeta Theo mencoba turun sendiri dengan berlari melewati papan tsb .semua orang was-was sambil menunggu ombak reda, tapi pada musim barat ombak pantang reda.

Cinta sejati itu dalam  suka dan duka. Ketika Ny. Nelly tidak bisa turun karena hamil 8 bulan, maka Pdt. Theo menggendong dari kapal Ferry ke darat melewati papan jembatan yang berombak.

Dengan sekuat tenaga  Pendeta Theo naik kembali kekapal untuk menjemput sang  isteri tercinta dalam keadaan hamil 8 bulan ini, Nelly tidak berani turun , akhirnya suami bertindak dan menggendong  isteri…satu…dua …tiga pas papannya rata dengan jembatan,  maka  dengan kuat tenaga dan    sekejap mata  ia lari melalui papan itu dengan menggendong isterinya, sampailah mereka didarat dengan selamat. Puji Tuhan kita selamat, karena sudah ada orang  lain yang salah  injak dan terjatuh kelaut lagi  dalam keadaan ombak besar itu di pelabuhan Uleuleuh Banda Aceh. jadi sebelum    populer nyanyian  “tak gendong kau oleh  Mbah surip, maka mbah  Theo dari Timor ini sudah duluan menggendong  dan menyelamatkan isterinya dalam nama Tuhan Yesus amin.

DIANGKAT MENJADI PENDETA KONSULEN TNI AU (AURI) SABANG.

Sebagai Pendeta konsulen TNI AU Lanud Sabang, untuk membina warga kristen disana.

Walaupun hanya sebulan  berada di sabang karena bulan berikutnya harus  melayani di Banda Aceh, tapi karena ada kekosongan rohaniawan Protestan di TNI AU  sabang, maka diminta untuk diangkat menjadi Pendeta konsulen TNI AU  untuk  dimana  sabang yang panngkalannya menghadapi pos terdepan di Indonesia bagian barat ini.

Selama sebulan di sabang tiap minggu memberi ceramah kepada warga TNI AU yang beragama protestan dan khatolik, bahkan beberapa kali bergabung semua agama untuk memberi ceramah, yang merupakan siraman rohani kepada  anggota TNI AU pada hari hari besar HUT, hari angkatan perang  dlsbnya.

MENJADI PENGAJAR  AGAMA KRISTEN DI SMP/SMA METHODIS  INDONESIA  BANDA ACEH.

Dipanggil dan diminta untuk menjadi tenaga pengajar  agama Kristen di smp/sma Methodis Indonesia Banda Aceh, oleh Pendeta Boas yahya, sambil membina   secara rohani   anak didik  secara keseluruhan disekolah itu.

Pdt. Theo Natumnea bersama Pdt. Boas Yahya, membina siswa-siswi SMP dan SMA Methodis Indonesia di Banda Aceh

Banyak belajar mengadapi anak-anak sekolah, merupakan suatu pembentukan tersendiri bagi Pendeta Theo….apalagi anak-anak yang nakalnya luar biasa, maka pendidik harus memiliki kesabaran yang ekstra  mau menerima dan membangun muridnya,  bukan hanya penddidikan formalitas saja, tetapi seluruh eksistensi mereka dibangun untuk menjadi manusia seutuhnya agar berguna  bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

pada saat itu justru Tuhan pakai untuk  menyelamatkan mereka  dalam ujian dan penentuan kelulusan bagi anak-anak yang nilainya pas-pasan, ketika Pdt Theo mengenal mereka bahwa banyak  waktu anak pakai untuk membantu  keluarga dimana mereka tinggal itu, sehingga waktu mereka belajar  sudah kurang,maka pendeta  Theo siap  membantu mereka  dan mau menyelamatkan mereka dalam hal ikut dalam kelulusan  disekolahnya.Banyak anak anak yang tetolong dan masuk polisi dan tentara walaupun nilai  mereka  hanya pas, tapi ada jalan  keluar untuk menyelamatkan mereka…Ia mendapat julukan “juru selamat” , jika sidang kelulusan dan Pdt Theo tiba, ada ucapan guru-guru “juru selamat anak-anak sudah datang”, maksudnya yang memperhatikan dan memperjuangkan anak yang nilainya hanya pas, tapi bisa lulus dan…. ternyata mereka buktikan dalam masyarakat,  dalam  disemua  bidang dan berhasil seperti masuk Polisi ,  tentara  dan instansi lainnya.-, karena ada tangan  Tuhan Yesus menyertai mereka, terpujilah Tuhan Yesus amin.

Dipublikasi di Uncategorized | 26 Komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Dipublikasi di Uncategorized | 4 Komentar